Manusia Tercerdas, Siapakah Ia?

0
Senyumperawat – Penulis novel tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata dengan sangat ilmiah secara berjenjang memaparkan prestasi kecerdasan akademik teman-temannya, ketika kuliah di Universitas Sorbone, Perancis. Seorang yang mendapat nilai bagus sekali adalah prestasi akademik Gank The Brits an Yankee yang selalu fluktuatif. Sesekali paper mereka mengandung terobosan yang imajinatif. Misalnya, ketika mengobservasi konsumen lewat konstruksi kubus, mereka membuat satu survei yang kreatif untuk mendeteksi perubahan paradigma utilitas konsumen dari waktu ke waktu. Ide-ide cemerlang mereka sampai dapat merubah silabus mata kuliah perilaku konsumen. Tak heran dosen sering menghargai mereka dengan nilai ‘tres bien’ alias bagus sekali.
Orang-orang yang cerdas berikutnya adalah mereka yang selalu duduk di tempat yang sama di tengah kelas, pasti hadir sepuluh menit sebelum acara, taktis, metodikal, sistematis adalah beberapa gelintir mahasiswa Jerman, Marcus Hodsevel, Chrisitian Diedrich, dan yang paling istimewa wanita Bavaria nan Semlohay, Katya Kristanaema. Mereka adalah pribadi-pribadi yang penuh antisipasi. Motto mereka adalah tiga P, yaitu Prefarion, Perfect, Performences, maksudnya penampilan yang sempurna karena persiapan yang matang.
Jenjang prestasi kecerdasan selanjutnya adalah Marcus Hodsevel, Chrisitian Diedrich, dan Katya. Mereka sangat unggul dalam materi-materi hitungan. Matematika, statistika, dan analisis kuantitatif seperti mengalir dalam darah mereka. Paper mereka jarang menerobos namun intensitasnya mencengangkan. Kajiannya atas konstruksi kubus tadi tak sekedar utilitas, akan tetapi pada pembuktian geometri dimensional. Ide mereka lebih besar daripada ide The Brits and Yankees, yaitu bukan hanya mengubah silabus mata kuliah perilaku konsumen, melainkan orang-orang Jerman ini mengubah silabus mata kuliah ekonomi. Nilai mereka tak kurang dari distingue alias excellent lebih tinggi dari tres bien .
Jika menulis paper tentang observasi perilaku konsumen melalui kubus, mereka membongkar kubus, sama sekali tak memakainya, lalu mencoba model mereka sendiri. Kecerdasan mereka tak terkejar siapa pun, keduanya sudah di gadang-gadang akan mengantongi Summa Cum Laude jika mudik nanti. Ide mereka lebih gila lagi, tidak sekedar mengubah silabus ekonomi seperti usulan Katya, Marcus dan Christian, tapi mereka ingin merubah Universite de Paris, Sorbonne. Siapakah mereka? Saskia de Rooijt dan Marike Ritsema, begitulah nama keduanya. Jangan kaget kalau mereka dari negeri yang pernah menjajah kita dulu, Belanda.
Jangan takjub dulu, ternyata masih ada nilai di atas Summa Cum Laude. Siapakah yang berhasil meraih kecerdasan super ini? Kiranya hanya Abraham Lekins dan Y’hudit Oxenberg, Yoran Ben Masus, dan Becky Avshalon yang sesekali menyaingi Saskia de Rooijt dan Marike Ritsema. Orang-orang Yahudi ini sangat pintar. Ide mereka lebih besar dari ide Saskia dan Marike yang ingin merubah Universitas Sorbonne. Ide orang-orang yahudi itu adalah ingin merubah Perancis.
Luar biasa bukan? Ternyata orang cerdas dari sisi akademik adalah mereka yang telah mampu menguasai kurikulum bahkan berani membongkar kurikulum.
Namun tak usah galau. Jauh-jauh hari Rasulullah shollallaahu alayhi wa sallam telah memberi pelajaran kepada umatnya untuk berani membongkar ‘kurikulum’ duniawi. Itulah tipe orang yang cerdas menurut Nabi.
Generasi muslim bukan sekedar berani dan mampu merubah Perancis. Namun sanggup merubah dunia dengan kedua tangannya. Karena dunia adalah hari ini sedang akherat adalah nanti. Bukankah ukhrowi lebih nikmat, lebih terhormat, dan lebih kekal. Maka pemburunya adalah orang-orang cerdas yang sesungguhnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ
“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan shohih oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya hasan dengan semua jalan periwayatannya).
Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت
“Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya.” (Hadits ini sanadnya dinyatakan dho’if oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani dan syaikh Al-Albani rahimahumallah).
Oleh karenanya, beliau memerintahkan para sahabat dan umat Islam agar senantiasa mengingat kematian, sebagaimana sabda beliau:
أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَاتِ
“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (dunia). Yakni kematian.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dan dinyatakan shohih oleh Ibnu Hibban).
Umar Bin Khattab pernah berkata, “Cukuplah Kematian menjadi penasihat bagimu.” Ternyata orang yang cerdas adalah mereka yang mempersiapkan bekal untuk kematiannya. Itulah maksud dari menguasai kurikulum duniawi. Artinya prestasi akademik seseorang atau kesuksesannya di proyeksikan untuk ukhrowi.
Penulis: Azzam ad-Dasuqi, praktisi dakwah + penulis buku, ‘BAHAGIA SELAMANYA’, Lampung, 21 April 2014
Editor: Destur Khoththob

Tinggalkan Komentar