Mahasiswa PKL UIN Jogja Ajarkan Toleransi Kebablasan

“Pada tanggal 30 November 2014, tepat di hari Ahad atau Minggu pukul 08.00 WIB, santri Madania , Pantiasuhan Nurul Haq dengan kelompok PKL Study Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengunjungi beberapa tempat ibadah agama non islam dengan tujuan untuk mengetahui ajaran-ajaran yang diyakini sebagian penduduk negeri ini Sebagaimana salah satu semangat yang dipegang Yayasan Pondok Pesantren Modern Madania (Panti Asuhan Nurul Haq), yaitu menghargai perbedaan yang ada dengan arif”, dikutip dari website resmi Yayasan Pondok Pesantren Yatim dan Dhu’afa Madania.

Ada pun tempat yang dikunjungi dalam acara tersebut diantaranya:

  1. Vihara Budha Prabha (Klenteng Gondomanan)
  2. Gereja Santo Yusup Jalan Bintaran Kidul, No. 5, Yogyakarta
  3. Pura yang dibangun sekitar tahun 1970

Dari hasil kunjungan tersebut, menurut redaksi Madaniajogja.com dinyatakan bahwa semua manusia diciptakan dengan segala perbedaan dan tiap perbedaan dalam agama adalah menuju pada Tuhan yang Satu.

“Kesimpulan dari kunjungan ke tempat peribadatan agama lain yang pertama; perbedaan adalah niscaya dan perbedaan tersebut akan sangat indah dilihat atau dinikmati, jika disikapi dengan arif nan bijaksana, karena, kedua; ternyata dari perbedaan tersebut tetap terarah atau tertuju pada Yang Satu atau Yang Maha Esa”, tulis Madaniajogja.com.

Sebuah kearifan harus dimaknai dengan baik dan ditempatkan dengan benar. Alangkah baiknya jika anak-anak yatim dan dhu’afa tersebut diajarkan cara berislam dengan kaffah. Akan sangat berbahaya bagi anak-anak belia tersebut yang belum begitu paham agama kemudian diajarkan agama lain tanpa ditanamkan terlebih dahulu dasar-dasar beragama yang baik.

Tindakan para mahasiswa Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini adalah tindakan gegabah. Memahami perbedaan tidaklah mesti berkunjung ke tempat ibadah mereka karena sejatinya dengan mempelajari Al Quran dan Hadits pun sudah cukup untuk membedakan mana orang beriman dan mana orang yang kafir. Jika anak-anak ditanamkan ajaran bahwa semua agama mengajarkan hal yang sejatinya sama yaitu menuju pada Tuhan yang Satu maka bisa saja mereka menganggap tidak sholat pun tidak apa-apa karena bisa diganti dengan ke gereja setiap minggu sekali.

Sebagai sesama muslim, tentu dalam rangka menasihati adalah sebuah kewajiban ketika saudaranya bertindak tidak sesuai dengan kaidah seorang pendidik. Mendidik anak untuk tidak melakukan zina tentu tidak perlu menunjukkan di depan anak itu cara orang berzina. Mengajarkan anak untuk tidak melihat gambar porno tentu tidak perlu menunjukkan padanya gambar atau video porno. Mengajarkan anak untuk tidak merokok tentu tidak perlu mengajarkan cara merokok. Mengajarkan anak untuk memahami tauhid maka tidak perlu mengajarkan anak-anak untuk murtad.

Anggapan bahwa semua agama menuju pada Tuhan yang Satu adalah sama saja mengajarkan bahwa anjing dan manusia adalah sama karena sama-sama ciptaan Allah dan beribadah dengan caranya masing-masing. Perlu diketahui bahwa orang yang keluar dari agama Islam, derajatnya lebih hina dari makhluk apa pun di muka bumi ini bahkan dari babi sekali pun.

Source: Madania Jogja
Editor: Destur

Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker