Laporan Pendahuluan Penyakit Bronchopneumonia

Bronchopneumonia (Bronkopneumonia) merupakan gabungan dua kata yang menunjukkan tempat penyakit dan jenis penyakit yang menyerang. Bronkus (Bronchus) merupakan saluran pernapasan yang menghubungkan antara trakea dengan paru-paru. Pneumomnia merupakan inflamasi pada paru-paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur atau pun parasit. Jadi secara definisi, Bronchopneumonia adalah infeksi skunder yang disebabkan oleh virus yang masuk ke saluran nafas hingga mencapai alveolus. Peradangan pada bronkus ini biasa ditandai dengan penumpukan skret sehingga terjadi demam, batuk yang produktif, suara ronkhi dan mual.
Gambaran Bronchopneumonia (commons.wikimedia.org)
Etiologi
  1. Pneumonia bakteri (pneumococcus, streptococcus hemolyticus, streptococcus aureus, hemophilles influensa, streptococcus pneumonia)
  2. Pneumonioa virus (respiratory syncitial virus, adeno virus, virus influensa, virus sitomegalik),
  3. Pneumonia jamur (histoplasma, aspergilus, candida albican)
  4. Pneumonia atipikal (mikroplasma pneumonia),
  5. Pneumonia aspirasi (aspirasi cairan, makanan, muntahan, sekresi nasoparing, cairan amniotik selama proses kelahiran)
  6. Pneumonia hipostatik (kongesti paru yang lama misalnya pada penderita penyakit menahun yang berbaring lama).

Tanda dan Gejala
  1. Suhu badan naik mendadak sampai 40 derajat celsius dan kadang-kadang disertai kejang demam yang tinggi
  2. Anak sangat gelisah
  3. Cyanosis, nafas cuping hidung
  4. Takikardia, dipsnea, stridor, retraksi otot dada
  5. Kadang-kadang disertai muntah dan diare
  6. Batuk mula-mula kering kemudian menjadi produktif.
  7. Nyeri dada saat batuk ataupun bernafas
  8. Penurunan kesadaran
  9. Perubahan suara nafas ronchi, wheezing
  10. Anoreksia dan sulit menelan.
  11. Sakit kepala

Pemeriksaan Diagnostik
  1. Pemeriksaan Radiologi : Rongten
  2. Pemeriksaan Laboratorium : DL
  3. Pemeriksaan AGD
  4. Pemeriksaan gram/kultur sputum

Komplikasi
  1. Atelektasis
  2. Emfisema
  3. Gagal Nafas
  4. Abses Paru
  5. Perdarahan paru
  6. Meningitis

Penatalaksanaan
  1. Pemberian oksigen 1–2 liter/menit
  2. Cairan intravena (IVFD) biasanya diperlukan campuran glukosa 5% dan Nacl 0,9% dalam perbandingan 3:1.
  3. Antipiretik diberikan bila pasien mengalami peningkatan suhu tubuh dan mukolitik/expektoran (misal: OBH, Bisolvon, Mukopect, Flumosil) diberikan bila terdapat sekret kental pada saluran nafas.
  4. Antibiotik Umur lebih dari 2 bulan : kombinasi ampisilin dan klorampenikol. Umur kurang dari 2 bulan: kombinasi ampisilin dan gentamisin dosis Ampisilin 100 mg/kgBB/hr, Klorampenikol 100 mg/kgBB/hr, Gentamisin 5 mg/kgBB/hr
  5. Nebulizer untuk pemberian bronkodilator (Combivent) 

Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d obstruksi jalan nafas
NOC: Jalan nafas kembali efektif
Kriteria Hasil:
  • Menunjukkan jalan nafas yang paten (tidak ada suara nafas abnormal)
  • Frekuensi pernafasan dalam rentang normal: 40 x/menit – 60 x/menit untuk bayi, 20-30 x/menit untuk usia 1-5, 16-24 x/menit untuk usia lebih dari 6 tahun.
  • Pernafasan eupnea

NIC:
  • Berikan posisi yang nyaman pada pasien : semi fowler atau fowler
  • Berikan oksigen
  • Kolaborasi dalam pemberian terapi bronkodilator
  • Pantau frekuensi pernafasan
  • Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
  • Lakukan suction bila perlu
  • Lakukan fisioterapi dada jika perlu

2. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane alveolar
NOC : Ventilasi dan oksigen jaringan adekuat
Kriteria Hasil :
  • Menunjukkan bebas dari tanda-tanda distress pernafasan (takipnea, wheezing, sianosis, dispnea)
  • Frekuensi dalam rentang normal bayi : 40-60 x/menit, usia 1-5: 20-30 x/menit, usia lebih dari 6: 16–24 x/menit
  • Warna kulit normal (tidak pucat), AGD normal (pH 7,35 – 7,45; PCO2 35 – 45; PO2 70 – 100; SatO2 93% – 98%; BE -2 S/D 2; CaO2 16 – 22 mL)

NIC
  • Berikan posisi yang nyaman pada pasien : semi fowler atau fowler
  • Berikan oksigen
  • Kolaborasi dalam pemberian terapi bronkodilator
  • Pantau TD, nadi
  • Observasi warna kulit
  • Observasi frekuensi, kedalaman pernafasan
  • Monitor pola nafas : bradipnea, takipnea
  • Lakukan suction bila perlu

3. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake makanan
NOC : Pasien dapat memenuhi kebutuhan nutrisi
Kriteria Hasil :
  • Berat badan ideal
  • Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
  • Konjungtiva tidak anemis, nafsu makan meningkat
  • Hb normal laki-laki 13,5-18,0 gr/dl, perempuan 12,0-16,0 gr/dl
  • Makanan habis 1 porsi

NIC :
  • Observasi adanya alergi makanan
  • Timbang BB pasien dan monitor adanya penurunan berat badan
  • Monitor mual dan muntah, konjungtiva
  • Berikan makanan sedikit tapi sering
  • Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit pasien.
  • Kolaborasi dengan ahli medis dalam pemberian terapi anti emetik

4. Hipertermi b/d adanya proses infeksi virus
NOC : Thermoregulation
Kriteria Hasil :
  • TTV normal : Frekuensi dalam rentang normal bayi: 40-60 x/menit, usia 1-5: 20-30 x/menit, usia lebih dari 6: 16 x/menit – 24 x/menit
  • TTV dalam rentang normal (RR : 40-60x/menit, N : 100-160x/menit, S : 36-37,5 derajat celcius)
  • Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman

NIC :
  • Monitor suhu 2 jam sekali
  • Monitor warna dan suhu kulit
  • Monitor nadi dan RR
  • Monitor penurunan tingkat kesadaran
  • Monitor intake dan output
  • Anjurkan pasien untuk banyak minum 400 cc/hari ( sesuai toleransi )
  • Tingkatkan tirah baring
  • Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
  • Kolaborasi pemberian anti piretik
  • Kolaborasikan dengan dokter mengenai pemberian cairan intravena sesuai program
  • Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
  • Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil

Daftar Pustaka
  • Barbara C. Long. (2000).Perawatan Medikal Bedah. Bandung : IAPK, Pajajaran
  • Doenges E, Marilynn, dkk. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
  • Heather, H. (2010). Diagnosis Keperawatan: definisi dan klasifikasi 2009-2011. Jakarta: EGC
  • Ngatiyah. (2005). Askep Bronchopnemonia. dalam https://wordpress.com, diakses tanggal 12 Agustus 2012
  • Indah, G. (2002). Pedoman Penatalaksanaan Bronchopnemonia. Jakarta : CV Infomedika
  • Smeltzer, Suzanna C. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart. (Alih bahasa Agung Waluyo). Edisi 8. Jakarta: EGC
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker