Berbagai Rintangan Dakwah Para Muslimah

0
Berbagai Rintangan Dakwah Para Muslimah

Aral rintangan dakwah beraneka ragam. Baik dalam masalah pemikiran dan pendapat, sarana-sarana dakwah, sebagian orang ada yang mendapatinya sementara sebagian yang lain tidak, di sebagian tempat ditemukan sementara tempat lainnya tidak, pada suatu ketika muncul dan di waktu lainnya tidak. Dengan demikian, tidak mesti harus disebutkan adanya rintangan secara keseluruhan kepada setiap da’iyah di setiap waktu dan tempat.

1. Lemahnya sebagian kaum wanita dalam memahami makna dakwah

Sempitnya pemahaman mereka terlihat jelas ketika mereka membatasi makna dakwah pada pembenaran sebagian kesalahan tingkah laku saja atau membatasi penyampaian hanya sekitar nasihat. Lantas jika ada seorang wanita yang tidak mampu melaksanakan hal tersebut maka enggan menjadi seorang da’iyah. Perlu diluruskan dalam masalah ini bahwa pengertian dakwah itu sangat luas dan mencakup beberapa hal yaitu:

  • Dakwah menyeru manusia dari kekafiran menuju Islam
  • Dakwah menyeru manusia dari maksiat menuju ketaatan
  • Dakwah menyeru manusia untuk meninggalkan perkara yang tidak utama menuju perkara yang lebih utama.

Dari hal tersebut, seorang wanita bisa memulai dakwhanya dari bagian paling pokok dalam hidupnya yaitu rumah dan meluas ke tempat-tempat lainnya sesuai kaidah syar’iyah.

2. Tidak jelasnya program dakwah serta sempitnya wawasan.

Pentingnya menyusun program dakwah yang jelas visi misi serta protap didalamnya adalah agar lebih terarah. Selain itu agar hasilnya pun dapat diukur dan dievaluasi. Jika dakwah tidak disusun secara matang maka akan menjadikan para da’iyah berguguran di jalan dakwah.

3. Paradigma peran

Keyakinan sebagian kaum laki-laki dan perempuan bahwa jika beban dakwah ini dipukul oleh kaum hawa maka tidak akan berhasil kecuali dalam lingkup masyarakat yang sangat sempit. Anggapan lain bahwa ruang gerak para akhwat tersebut sebatas komunitas perempuan saja dan tidak bisa meluas pada yang lainnya juga termasuk pengebirian besar bagi dakwah karena ruang gerak dakwha kaum hawa yang sempit akan menghalangi mereka dari mendapatkan hidayah dakwah dan hakikat Islam.

Oleh karena itu ruang gerak mereka harus diperlebar hingga mencakup seluruh lapisan masyarakat. Tidak boleh dibatasi hanya pada kaum hawa saja tanpa yang lainnya atau hanya dibolehkan aktif di suatu tempat dan tidak diperbolehkan di tempat yang lain.

4. Paradigma tugas

Pemikiran sebagian kaum wanita bahwa dakwah adalah tugas khusus kaum laki-laki bukan tugas seorang wanita. Para wanita berpikiran bahwa tugasnya hanya seputar rumah tangga saja dan tidak memiliki kewajiban untuk menyampaikan dakwah kepada manusia. Buah dari pemikiran ini adalah sedikitnya jumlah da’iyah yang menyeru kepada Allaah di berbagai bidang.

5. Perpecehan

Terjadinya perpecahan dan perselisihan dalam tubuh para da’iyah sendiri. Tidak adanya kerja sama antar kelompok dan pengorganisasian di antara mereka. Terlebih ketika hal ini diakibarkan oleh paradigma tidak mau menghargai pemikiran da’iyah lainnya. Fanatik terhadap sebuah pemikiran dan menentukan satu arah pandangan akan merusak perjalanan dakwah seroang wanita, menceraiberaikan kesungguhan dan kekuatannya meskipun jumlah mereka banyak.

6. Belum terakomodir secara kelembagaan

Tidak adanya lembaga resmi wanita yang menangani aktivitas dakwah kaum hawa. Hal ini mungkin terjadi dibeberapa wilayah namun secara umum hari ini sudah mulai bermunculan organisasi-organisasi yang memberikan pula ruang bagi para muslimah untuk berkiprah dalam dakwah dan jihad.

7. Taraf keilmuan

Sedikitnya ilmu syar’i yang dimiliki oleh kebanyakan da’iyah. Sumber ilmu bisa dikatakan sudah bukan alasan lagi untuk masa sekarang. Mudahnya ilmu tersebut diakses baik via televisi yang menayangkan kajian-kajian yakni seperti beberapa televisi satelit dan tentunya website-website Islam yang amat banyak meskipun beberapa diblokir oleh pemerintahan rezim.

8. Tugas sebagai ibu rumah tangga

Kesulitan dalam menyesuaikan antara aktivitas dakwah dengan aktivitas rumah pada sebagian wanita. Rintangan ini didapati pada keluarga yang tidak dapat mengatur waktu dan membagi tugas keluarganya.

9. Minimnya murobbiyah

Tidak adanya murobbiyah yang mumpuni untuk dijadikan guru para da’iyah tersebut. Selain itu, jika dalam perjalanan dakwah terlintas keinginan-keinginan duniawi maka hampir-hampir semua hal yang berkenaan dengan dakwah dilupakannya.

10. Suami belum terdakwahi

Sebagian suami dan wali tidak memahami kemampuan dakwah yang dimiliki oleh istri dan anak-anaknya.

11. Akses transportasi

Sulitnya akses transportasi atau kondisi materi.

12. Karakter

Rintangan yang datang dari diri sendiri seperti futur, tergesa-gesa, tidak memahami kondisi waqi’, tidak sabar, ingin segera memetik hasil dan tidak membekali diri dengan iman, hadirnya ujub, terjerat godaan setan dan lain sebagainya. (Destur/Senyumperawat.com)

Sumber: Kiprah Dakwah Muslimah, ‘Abdullah bin Ahmad Al ‘Alaf, hal. 94-104, Pustaka Arafah

Tinggalkan Komentar