Mengais Amal Lewat Tulisan

2
Senyumperawat.com – Muslim yang baik adalah yang menjaga kemurnian tauhidnya. Pelaksanaan tauhid tersebut meliputi 2 aspek. Menurut penjelasan Ibnu Taimiyyah terkait dengan iman adalah berupa qoul (perkataan) dan ‘amal (perbuatan). Dalam kehidupan di dunia, seorang muslim diwajibkan untuk mencari bekal. Bekal inilah yang nantinya dijadikan pertimbangan akan ke mana tujuan akhirnya, surga attau neraka.
Berlomba-lomba dalam beramal merupakan ciri muslim yang baik. Amal bisa berupa apa pun asal tidak menyelisihi Al Qur-an dan Sunnah. Terkadang amal pun bisa hadir melalui hobi. Sebagaimana tulisan sebelumnya bahwa melalui komunitas penggemar PS pun bisa dibuat komunitas ahli strategi (baca: Komunitas PS Bisa Jadi Ladang Kaderisasi).
Banyak yang masih berpikir bahwa menulis adalah kegiatannya para wanita karena jarang tampak masa kini para lelaki membawa kertas dan pensil ke mana-mana. Jika kita telaah shiroh para sahabat rodhiyallahu ‘anhum, tidak sedikit dari mereka yang ternyata rajin mengingat petuah dari Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam yang kemudian mereka salin dalam kertas untuk dibukukan. Selain itu, ingatan mereka pun sangat tajam.
Generasi para ulama pun sedemikian akrab dengan kertas dan pena. Tentu sangat akrab diingatan kita sosok Imam Syafi’i. Dalam biografi beliau dikisahkan pula bahwa beliau ke mana-mana membawa kertas dan pena untuk mencatat setiap ilmu baru yang beliau dapat. Banyak pula ulama lain yang demikian.
Kitab-kitab yang senantiasa kita pelajari dari para ulama adalah salah satu bentuk karya yang tak ternilai dengan uang. Mereka telah merubah sejarah masa depan dengan jemari mereka. Celoteh jari yang sangat bermakna karena membuat perubahan besar bagi umat akhir zaman serta merupakan warisan dari para Nabi yang mereka pergilirkan dari masa ke masa. Allah lah yang menjaga Al Qur-an beserta ilmu tafsirnya sehingga sampai kepada umat akhir zaman.
Celoteh jari kita adalah salah satu bentuk amal. Ketika kita mengetikkan tiap bait kata yang memberikan informasi atau motivasi maka itulah amalan yang akan menjadi pemberat timbangan di yaumul mizan. Setiap orang memiliki potensi menjadi penulis. Bukti fakta telah kita ketahui bersama bahwa sejak kecil kita diajarkan untuk menulis dan akhirnya bisa menulis. Dari perkara ini sudah dapat kita ambil kesimpulan bahwa tiap kita memiliki bakat menulis. Permasalahannya adalah tidak setiap kita diberikan kemampuan untuk merangkai setiap kata menjadi kalimat cantik yang memiliki makna sehingga dapat memberikan warna pada pembacanya. Dari sini pula dapat kita simpulkan bahwa tidak setiap orang memiliki kemampuan untuk belajar.
Banyak sekali tema yang dapat dijadikan bahan tulisan. Setiap hal baik yang kita ketikkan dan dibaca oleh orang maka itu akan menjadi amal baik. Maka dari itu, cukup dengan 2 atau 3 paragraf saja setiap hari kita tuliskan maka tidak menutup kemungkinan selama 3 bulan kita sudah dapat merilis sebuah buku. Buku tersebut jika memang memuat konten yang syarat dengan ilmu dan bermanfaat maka Allah telah memilih tulisan kita itu untuk menjadi media mempertahankan ilmu di era akhir zaman yang makin jauh dari kebenaran. Selamat menulis dan selamat menuai hasil dari tulisannya. (Destur/eSPer)
Share

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.