Lagu Padamu Negeri Bermakna Syirik

4
Senyumperawat.com – Musik bagi manusia ibarat sebuah hiburan, bagi mereka yang menyukai musik. Perbandingan antara penikmat, pengarang dan pemain musik dengan golongan yang tidak menyukai musik amatlah ketimpangan. Orang yang tidak menyukai musik jauh lebih sedikit karena memang perkembangan musik yang begitu pesat dan beragam. Mereka yang tidak menyukai musik pun banyak alasannya. Di antara berbagai alasan tersebut, ada satu alasan yang paling logis dan dapat diterima secara lapang dada. Tak lain alasan itu adalah karena Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam tidak menganjurkan untuk mengarang, memainkan atau pun mendengarkan musik.
Apa yang Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam takutkan pun akhirnya terjadi di akhir zaman ini. Era mulkan jabariyan adalah era penuh fitnah. Fitnah yang akan mengiringi era ini adalah syubhat dan syahwat. Akhir dari fitnah ini adalah munculnya Dajjal sebagai penutup era fitnah karena ia adalah fitnah terbesar.
Fitnah syirik pun termasuk fitnah yang amat besar. Betapa banyak kaum Muslimin akhirnya murtad hanya karena sebungkus mi instan. Dalam hal musik pun seseorang dapat menjadi murtad.
Esensi lagu wajib yang sejak kecil diajarkan di sekolah-sekolah tidak lepas dari fitnah syirik. Lagu yang mengandung makna syirik pun seolah menjadi al yang dianggap wajib untuk dihafal dan dilantunkan.
Sebut saja lagu “Padamu Negeri” yang dikarang oleh Kusbini. Lagu ini bagi mayoritas umat Islam Indonesia bukanlah sebuah hal yang fatal. Namun bagi orang yang telah mempelajari esensi dari makna Tauhid “Laa Ilaaha Illallaah” merupakan lirik lagu yang dapat menjadi pembatal syahadat.

—–*Padamu Negeri*—–

Padamu negeri kami berjanji

Padamu negeri kami berbakti

Padamu negeri kami mengabdi

Bagimu negeri jiwa raga kami

Lagu di atas jika dipandang dari sudut pandang secara umum memang bermakna jiwa nasionalis yang tinggi sehingga segalanya dikorbankan untuk menjunjung tinggi dan membela tanah air dan udara. Sudut pandang umum tersebut akan dapat dipatahkan dengan sudut pandang khusus. Sudut pandang khusus yang dimaksud adalah Islam.
Dua baris lirik terakhir dalam lagu yang dicetak tebal miring berwarna merah merupakan sisi fatal dalam lagu Padamu Negeri ini. Kata “Abdi” dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti orang bawahan; pelayan; hamba. Dalam Islam, penghambaan mutlak hanyalah kepada Allah semata.
Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwa Nabi Isa as. adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan roh-Nya, bahwa surga itu benar dan bahwa neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan. (Shahih Muslim No.41)
Hadis riwayat Muadz bin Jabal rodhiyallaahu ‘anhu, ia berkata:
Aku pernah membonceng Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam, yang memisahkan antara aku dan beliau hanyalah bagian belakang pelana. Beliau bersabda: Hai Muaz bin Jabal. Aku menyahut: Ya, Wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Kemudian berjalan sejenak, kemudian beliau bersabda lagi: Hai Muaz bin Jabal. Aku menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Kemudian berjalan sejenak, kemudian beliau kembali memanggil: Hai Muaz bin Jabal. Aku pun menyahut: Wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Beliau bersabda: Tahukah engkau, apa hak Allah atas para hamba? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: Hak Allah atas para hamba, yaitu mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Setelah berjalan sesaat, beliau memanggil lagi: Hai Muaz bin Jabal Aku menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. bertanya: Tahukah engkau apa hak hamba atas Allah, bila mereka telah memenuhi hak Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak akan menyiksa mereka. (Shahih Muslim No.43)
Hadis riwayat Anas bin Malik rodhiyallaahu ‘anhu., ia berkata:
Rasulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam dan Muaz bin Jabal berboncengan di atas tunggangan. Rasulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Hai Muaz. Muaz menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. memanggil lagi: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sekali lagi Rasulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam memanggil: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. bersabda: Setiap hamba yang bersaksi bahwa: Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka Allah mengharamkan api neraka atasnya. Muaz berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada orang banyak agar mereka merasa senang? Rasulullah saw. bersabda: Kalau engkau kabarkan, mereka akan menjadikannya sebagai andalan. (Shahih Muslim No.47)
Jika kita mengaku beriman kepada Allah maka kita harus memenuhi hak Allah yakni menghamba hanya kepada Allaah. Lirik lagu “Padamu Negeri” yang menyatakan “Padamu negeri kami mengabdi” merupakan bentuk kesyirikan. Bukanlah negeri yang menciptakan manusia, menjaga, memelihara dan memiliki kita melainkan Allaah.
Baris terakhir lirik lagu “Padamu Negeri” tersebut pun dapat menjadi seseorang murtad. “Bagimu negeri jiwa raga kami”, bukanlah ditujukan kepada negeri. Pengorbanan Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam baik harta, jiwa dan raga hanyalah untuk Allah. Menegakkan agama Allah yakni Islam hingga bahkan mati pun untuk Allah. Hidup dan mati seorang Muslim tidaklah dibenarkan jika bukan untuk Allah dan membela agamanya.
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al An’am: 162)
Itulah musik, terkadang sya’irnya menyesatkan namun terkadang pula musik pengiringnya yang melalaikan dari mengingat Allah. Ingat, Islam sudah punya Al Qur-an untuk menjadi penghibur hati yang sedih. Menghafalkan, mendengarkan, membaca atau menangis karena Al Qur-an adalah jauh lebih utama dan berpahala daripada musik. (Destur/eSPer)

4 KOMENTAR

  1. Kalo di pandang dari segi kamus besar bahasa indonesia memang bisa dibilang syirik, Tapi setiap lagu biasanya cuma perumpamaan, Wallahualam mudah mudahan lagu padamu negeri gak ada niat untuk menyekutukan Allah S.W.T…

    • saya setuju dengan mas Achmad Fazri. Menurut saya pribadi, terkadang artikel seperti ini justru bisa memecah belah sesama muslim, karena mungkin pandangannya berbeda-beda, dan bisa menimbulkan perdebatan, satu menganggap itu hanya kiasan dan tidak ada niat untuk syirik, satu ada yang menganggap syirik karena dari liriknya yang seperti itu. Mungkin yang pendapat pertama memberi contoh : kalau negara diserang, apa harus diam saja? kalau kita berperang, berarti berkorban jiwa raga juga, masak negara diserang malah lari. ya begitulah, kadang di masyarakat memang banyak perbedaan2, yang penting saling toleransi dan menghargai perbedaan itu.

    • itu karena anda belum membaca kitab tauhid, ya minimal karangan karya syaikh fauzan yang 3 jilid.

      para pejuang dahulu berperang mengusir para penjajah bukan semata karena menjaga negeri ini dari mereka tapi mereka berjuang karena memang wajibnya mempertahankan harta, wilayah dan tentunya aqidah.

      dibuka lagi sejarahnya, para pejuang itu berkorban jiwa dan raga bukan untuk Indonesia tapi untuk Allah. terbukti dengan rekam jejak para pejuang yang mereka selalu bertakbir "Allahu Akbar" ketika menghadapi musuh.

      jangan berpandangan picik, ilmu Islam itu sudah jelas menjelaskan mana yang haq dan mana yang bathil. sebagaimana wudhu', ia akan batal jika melakukan pembatal wudhu' seperti mengeluarkan sesuatu dari 2 lubang, tidur pulas dan lain sebagainya pembatal wudhu'.

      hal ini sama dengan syahadat, ia bisa batal jika melakukan pembatal syahadat. salah satu pembatal syahadat adalah melakukan peribadahan kepada selain Allah yaitu syrik.

      mengorbankan jiwa dan raga kepada selain Allaah itu jelas perbuatan syirik. jika ayat yang sudah dipaparkan di atas masih tidak anda percayai lalu ayat siapa lagi yang akan anda jadikan pedoman?

Tinggalkan Komentar