Resume Catatan Penting Ust. Bachtiar Nasir KUII 6

0
Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 telah usai yang diadakan mulai 8-11 Februari 2015. Kongres Umat Islam Indonesia sekarang adalah tantangan yang berat jika majlis syuro yang ditentukan tidak digarap baik-baik sebagaimana pernah lalai dari KUII 5 yang tidak jelas dan tidak terukur. Ini adalah tanggung jawab bersama umat islam untuk menindaklanjuti hasil rekomendasi kongres yang menekankan pada penguatan politik, ekonomi dan sosial budaya Islam Indonesia. 
Majlis syuro dan badan pekerja harus sungguh2 bekerja, bukan untuk kepentingan kelompok,  bukan untuk cari proyek, bukan untuk jabatan, bukan untuk kepentingan dunia, tapi bekerja untuk umat Islam dan mati ntuk islam.
Hasil KUII akan terlaksana jika pelaksananya benar-benar berjuang dan mati sebagai muslim serta mati untuk umat islam. Mental seperti ini yang bisa membawa aspirasi kongres. Mental seperti itu yang harus dimiliki badan pekerja kongres. Di tengah dinamika terpecahbelahnya umat, secara logika mustahil untuk disatukan tapi jika tokohnya sudah putus asa untuk menyatukan umatnya maka tidak akan pernah bersatu.
Meyongsong kongres selanjutnya, umat islam semoga tidak memulai dari awal lagi dan dievaluasi di tahun 2019. Beliau juga berharap diadakan sebelum pemilu agar menjadi arahan bagi umat islam untuk membuktikan kongres 2015 ini berfungsi atau tidak. Semua akan menjadi jelas dan riil pertarungannya jika diadakan sebelum pemilu, siapakah yang mau bersatu dan siapa yang ingin berjalan sendiri.
Muslim nusantara yang belum pernah bangkit harus bangkit. Di tengah keterpurukan umat islam, harusnya indonesia yang dianugerahi kedamaian dan kekuatan untuk membuktikan sejarahnya bahwa umat muslim melayu pernah ada dimuka bumi ini dan pernah memimpin dunia.
Catatan menyedihkan adalah ketidakhadiran mayoritas partai islam dan kami peserta kongres tidak menerima konfirmasi. secara syari tidak dapat diterima dan bahkan secara etika tidak dapat diterima. Ini adalah pelecehan atau merendahkan status KUII ketika partai-partai Islam yang diundang namun tidak menghadiri tanpa konfirmasi yang bisa diterima dengan nalar dan etika.
Semoga Allah bukakan hati para politisi muslim. Umat islam yang akan masuk dan memang harus masuk ke dalam ranah politik, sesungguhnya apakah harus memasukkan aspirasi lewat partai islam ataukah tidak, ada dua hal yang berbeda. Partai politik yang mengatasnamakan islam dan konstituen muslim yang tidak terakomodir oleh partai-partai ini akibat mereka tidak mau menyatukan dirinya setikanya untuk sebuah visi bersama.
Beliau juga mengingatkan kepada para pemimpin parpol Islam,”anda bertangung jawab di hadapan Allah, hidup di dunia ini hanya sebentar mari kita berbuat dan bekerja karena allah untuk agama kita”, tutup Ustadz Bachtiar Nasir. (Destur/eSPer)

Tinggalkan Komentar