Muslimah, Biarpun Terik Tetaplah Julurkan Jilbabmu

0
Panas, gerah, berkeringat adalah sebuah keniscayaan ketika kondisi terik mentari terasa membakar kulit. Keluhan demi keluhan mulai muncul tatkala hawa panas tak kunjung redup. Padahal baru Indonesia, entah bagaimana rasanya hidup dizaman unta yang teriknya jauh lebih menyengat. Sekelilingnya hanya padang pasir tandus. Banyak yang kemudian berucap,”Ah itu kan jaman nabi, beda atuh orangnya sama jaman sekarang”.

Wahai muslimah,
tidaklah beda dulu dengan saat ini
pembeda sejati hanyalah iman dihati
cukuplah istiqomah menata diri
mendekap iman dan memperbaiki pribadi

Disela-sela para muslimah yang kukuh berjilbab tersebut terkadang ada yang berkomentar,”Eh mbak, panas-panas gini kok pake jilbab lebar banget, gak panas tah?”.

Wahai muslimah,
tiada rotan maka akar pun jadi
tapi tiada surga maka neraka pun menanti
biarlah diri merasakan panas di bumi
tapi di akhirat sudah ada surga untuk menaungi

Dalam kondisi yang penuh dengan hiruk pikuk manusia dan panasnya mentari, tak sedikit dari muslimah yang akhirnya tak kuat dan lebih memilih pakai pakaian mini. Inilah kenapa fenomena akhir zaman begitu menyulitkan hati untuk menjaga iman. Banyak pula di antara muslimah yang enggan berjilbab syar’i karena ia merasa belum siap dan tercemar oleh pikiran bahwa yang penting adalah hatinya. Dalam bahasa sehari-hari jika diajak berjilbab biasanya berkata,”Iya mbak bener berjilbab itu wajib tapi kan yang jilbaban lebar aja blum tentu baik kok, yang penting kan hatinya yang dijilbabi, klo masalah fisik ya nanti saja klo udah siap”.

Wahai muslimah,
siapalah diri berani menentukan nasib esok pagi
adalah “nanti”, kata yang sering terpatri
ingatlah saat dimana kita tak lagi ada kesempatan kembali
cukupkah diri berbekal dengan sebutir nasi?

Wahai muslimah,
engkau bukanlah sosok sempurna
tapi biarlah Islam membuatmu jauh lebih berharga
biarlah orang berkata apa
Allah dan Rosul-Nya adalah tujuan utama

Indah adalah soal rasa
rasa hati dalam suasana gembira
gembira bukanlah saat di dunia belaka
kerikil di dunia biarlah menyapa
akan ada air mata surga untuk bidadari terjaga

(Destur/eSPer)

Tinggalkan Komentar