Model Pengobatan Diabetes Terbaru “Precision Medicine”

0
Sebuah riset Fakultas Kedokteran Universitas Michigan Amerika Serikat mencetuskan tren pengobatan terbaru terhadap orang-orang yang diindikasi diabetes. Model obat tersebut diberi nama “Precision Medicine” diharapkan dapat menjadi langkah preventif.
Ketua tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Michigan tersebut adalah Dr. Jeremy Sussman. Dr. Jeremy Sussman menjabat pula sebagai asisten profesor kedokteran umum di universitas tersebut. Dalam menentukan pengobatan presisi tersebut, penelitian ini melibatkan 3.060 partisipan yang tergabung dalam Program Pencegahan Diabetes. Uji klinis yang dilakukan dengan PPD ini dilakukan dengan pemilihan secara acak terhadap sampel yang beresiko tinggi (Resti) Diabetes untuk kemudian diberikan tindakan Plasebo (zat atau obat tidak aktif yang tampak sama dan diberikan dengan cara yang sama seperti obat aktif atau pengobatan yang diuji), modifikasi gaya hidup atau dengan medikasi metformin, obat yang digunakan untuk diabetes tipe 2.
Para responden dalam penelitian ini adalah mereka yang berada pada fase prediabetes yang ditentukan dengan adanya 2 hasil tidak normal pada hasil tes gula darah puasa dan melebihi rentang normal IMT berdasarkan tinggi dan berat badan. Selain itu, dinilai juga dari riwayat keluarga penderita diabetes.

Medical School University of Michigan

Dalam studi tersebut, para peniliti juga meneliti tentang faktor resiko diabetes. Dari 17 faktor resiko, ada 7 faktor yang “paling bermanfaat” untuk mengidentifikasi seseorang mengalami diabetes dan untuk mengembangkan model presisi ini.

Ketujuh faktor tersebut diantaranya:

  • Gula darah puasa
  • Gula darah jangka panjang (kadar A1c)
  • Jumlah kadar trigliserida
  • Riwayat keluarga menderita gula darah tinggi
  • Pengukuran lingkar pinggang
  • Tinggi Badan
  • Rasio pinggang-pinggul.

Setelah ditentukan ketujuh faktor tersebut, tim peneliti membuat skala penilaian untuk diterapkan pada tiap individu. Hasil peniliaian tersebut didapati bahwa lebih dari setengah total sampel ditemukan bahwa mereka berada pada skor kuartal tertinggi resiko terkena diabetes dalam 3 tahun ke depan. 
Setelah itu peneliti menggunakan model treatment dengan terapi metformin atau modifikasi gaya hidup, termasuk pula olah raga dan penurunan berat badan yang paling efektif untuk menurunkan resiko diabetes. Dalam penerapan model tersebut, ditemukan bahwa terapi Metformin hanya bermanfaat pada pasien dengan resiko tinggi yang dapat mengurangi resiko kejadian hingga 21% namun tidak ada manfaatnya sama sekali bagi sampel lainnya.
Modifikasi gaya hidup juga sangat bermanfaat bagi sampel dengan resti diabetes. Modifikasi gaya hidup ini dapat mengurangi resiko terkena diabetes dalam 3 tahun ke depan hingga 28%. Namun menfaat tidak signifikan didapatkan bagi yang resiko rendah yang hanya dapat mengurangi resiko hingga 5%.

Dr Rob Hayward, selaku co-author penelitian ini yang merupakan salah satu profesor fakultar kedoteran dan kesehatan masyarakat di U-M menyatakan bahwa meskipun dari hasil percobaan tersebut didapati manfaat secara global namun respon dari tiap individu tetap berbeda-beda.

Seperti yang dilansir medicalnewstoday.com (21/1/2015) bahwa para peneliti menyatakan bahwa model pendekatan ini sangat bermanfaat bagi dokter untuk menentukan diagnosis dan dan medikasi yang tepat sejak dini. Terlebih upaya pencegahan tetap dimaksimalkan. (Destur/eSPer)

Tinggalkan Komentar