Menag Himbau Jangan Tonjolkan Perbedaan Sunni & Syi’ah, Manusia dan Monyet Berarti Sama

Persamaan dan perbedaan adalah dua hal yang bersifat antonim. Memang ada perbedaan yang bersifat fisik seperti perbedaan antara mata kanan dengan mata kiri, ia hanya berbeda posisi dan juga syaraf yang menghubungkan ke otak. Ada pula telur ayam kampung dengan telur ayam broiler, berbeda jenis ayam namun masih sama-sama ayam. Namun akan sangat berbeda jika induknya sudah berbeda.
Semisal dengan Syi’ah dan Islam, keduanya boleh jadi banyak persamaan namun persamaan itu belum tentu membuatnya menjadi sama. Perbedaan yang kecil namun bersifat prinsip justru jauh lebih bermakna daripada persamaan yang dominan.
Perkataan Menteri Agama sebagaimana dikutip Republika (15/2),””Tapi kita harus akui ada perbedaan, tapi perbedaan itu tidak perlu terlalu ditonjolkan sekali yang justru menimbulkan pertentangan antara satu yang lainnya,”.
Terkait isu sunni dan syiah, ia mengatakan memang terdapat perbedaan di antara keduanya. Namun persamaannya jauh lebih besar dari pada perbedaan tersebut. Di antaranya sunni dan syiah sama-sama bersyahadat, meyakini Allah adalah Tuhan, Meyakini Nabi muhammad Rasul terakhir, Menunaikan sholat, puasa dan lainnya. (Republika, 15/2)
Ucapan Menag amatlah berbahaya jika didengar atau dibaca oleh orang yang belum paham akan kesesatan Syi’ah. Tak jauh beda dengan Ahmadiyah, kitab Syi’ah berbeda dengan Al Qur’an yakni Mushhaf Fathimah, bahkan waktu sholatnya pun hanya 3 waktu bukan 5 waktu. Syi’ah memang sholat namun bahasa sholat Syi’ah itu yang dimaksud adalah ibadah yang jauh dari tata cara sholat yang benar. Banyak beredar di Youtube terkait dengan tata cara sholat Syi’ah. Jelas sekali caranya berbeda. Selain itu, asal agama Syi’ah ini pun berbeda. Jika Islam berasal dari Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam atas petunjuk Allah, namun syi’ah ini berasal dari tokoh yahudi yaitu ‘Andullah bin Saba’. 
Logika sederhana, manusia dengan monyet itu banyak persamaannya. Manusia punya kepala, berkaki dua, bertangan dua, punya jantung, ginjal, paru-paru dan lain sebagainya. Begitu pun dengan monyet memiliki apa yang manusia miliki. Perbedaannya hanyalah kemampuan akal dan postur tubuh serta jumlah rambut. Lantas jika persamaan antara manusia dengan monyet dijadikan ukuran nilai sama atau beda maka bisa saja dikatakan manusia dengan monyet itu sama. Jangan salahkan jika Menag berfatwa demikian lantas ada khotib Jum’at yang akhirnya menyapa jama’ah dengan ucapan,”Wahai monyet-monyet sekalian, marilah panjatkan puji syukur ke hadirat Allaah subhanahu wa ta’ala”. Perlu dipahami bahwasanya perbedaan kecil namun bersifat prinsip adalah lebih bermakna daripada persamaan yang banyak namun bersifat fisik.

Pos terkait