Gagallah Menjadi Orang Gagal Bagian 3

Seri tulisan kali melanjutkan dua poin sebelumnya tentang “Gagallah Menjadi Orang Gagal”. Sedikit mengulas agar tak lupa, pada tulisan pertama meskipun singkat sudah saya sampaikan kenapa seseorang gagal yakni gagal paham. Gagal memahami kehidupan, untuk apa ia hidup, bagaimana ia hidup, kapan masanya ia harus bangun dan tidur serta pernak-pernik dalam upaya membekali diri menuju alam akhirat adalah sebab awal seorang gagal. Setelah itu, gagal fokus merupakan kendala yang harus diantisipasi. Biar pun seserang telah berhasil paham, namun gagal fokus tidak mudah untuk dihindari. Terlalu fokus pada sesuatu yang semestinya dikesamping akan mengganggu sesuatu yang sejatinya harus difokuskan.
Bericara tentang fokus, maka tidak lepas dari skala prioritas masalah. Dalam dunia keperawatan biasa disebut prioritas masalah keperawatan. Bagaimana seorang perawat merumuskan diagnosis keperawatan. Askep (Asuhan Keperawatan) bukanlah tulisan belaka tanpa makna. Setiap tindakan perawat baik yang akan dan telah dikerjakan haruslah tertulis.
Menentukan skala prioritas amatlah penting. Setelah memahami bahwasanya kita harus fokus pada apa yang akan kita kerjakan maka kemudian kita harus paham mana yang harus kita fokuskan terlebih dahulu. Indikator pada tiap skala prioritas sebenarnya amatlah simpel. Semua orang pun telah mafhum perkara mana yang harus didahulukan dan mana yang masih bisa ditunda. Keseluruhan perkara pasti dapat dibuat skala prioritas meskipun terkadang ada dua perkara yang menduduki peringkat yang sama.
Sebagai contoh, indikator dalam dunia medis. Jika kita memasuki UGD (Unit Gawat Darurat) maka kita akan disuguhkan berbagai macam jenis pasien. Masing-masing pasien mengalami masalah yang berbeda. Ditinjau dari segi jumlah pasien dan jumlah petugas medis yang berjaga terkadang tidak seimbang. Contoh kasus yang cukup menyita banyak tenaga medis baik mengerahkan tenaga mau pun pikiran adalah saat terjadi bencana alam. Bencana Merapi yang menyisakan kenangan bagi para petugas medis baik dokter, perawat, bidan atau yang lainnya adalah salah satu contoh nyata. Selain itu bencana gempa yang dulu mengguncang Bantul Jogjakarta juga menorehkan luka. Lebih menyedihkan lagi bencana Tsunami Aceh yang melibatkan banyak sekali aktor sebagai korban jiwa.
Contoh kecil adalah ketika dihadapkan dengan kasus PPGD atau gawat darurat. Ada istilah ABCD atau yang sudah mengalami sedikit revisi dari AHA (American Heart Association) CABD. Secara rinci pengelompokannya adalah

  1. C (Circulation): Sirkulasi darah adalah faktor penting dalam kehidupan. Jika sirkulasi darah terhenti maka nutrisi ke otak terutama Oksigen juga akan terhenti dan ini sangat fatal.
  2. A (Airway): kasus sumbatan jalan nafas dapat berakibat fatal karena tidak akan terjadi pertukaran oksigen dengan Karbon Dioksida.
  3. B (Breathing): Pola nafas yang tidak teratur akan mengurangi distribusi Oksigen ke sejumlah organ tubuh terutama otak yang sangat membutuhkan Oksigen.
  4. D (Disability): Kemampuan fisik, meliputi adanya patah tulang atau perlukaan di bagian tubuh lain.

Skala prioritas di atas jika kita berkunjung ke ruang UGD atau IGD maka akan dijumpai adanya garis panjang yang menuju ke suatu ruangan. Garis tersebut berupa merah, kuning, hijau dan hitam.

  1. Merah berarti gawat darurat yang memerlukan penanganan segera karena jika tidak akan mengakibatkan kematian atau kerusakan jaringan permanen.
  2. Kuning berarti untuk pasien gawat tapi tidak darurat sehingga masih dapat ditunda penanganannya.
  3. Hijau berarti pasien aman jika pun tidak diberikan tindakan segera.
  4. Hitam berarti pasien tidak dapat ditolong lagi.

Konsep berupa garis tersebut juga dapat kita terapkan dalam menghadapi masalah apa pun meskipun tidak berkaitan dengan medis. Selamat mencoba dan gagallah menjadi orang gagal.
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

2 Comments

  1. ane sempat 1 taun bekerja di RS gan, emang sih pekerjaan sih perawata tuh melelahkan, ane yang bagian non medis aja ngeliyatnya salut, begitu telaten ngerawat pasien

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker