Bahaya Film Kera Sakti Global Tv

3
Seeokor kera terkurung terpenjara dalam gua
Di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa
Bertindak sesuka hati loncat ke sana ke sini
Hiraukan semua masalah di muka bumi ini

Itulah sepenggal bait syair pembuka film Kera Sakti yang tampil sekitar tahun 2005 lalu. Kini film itu kembali hadir dengan format yang berbeda dan di stasiun televisi yang berbeda pula. Dulu film ini akrab pertama kali ketika disiarkan setiap sore oleh AnTv. Selang beberapa tahun kemudian giliran Indosiar yang menayangkannya dengan format modern. Kini kisah tersebut dikemas lagi dengan format baru pula dan ditayangkan oleh Global Tv.

Bukanlah sebuah hiburan belaka, itulah setidaknya pandangan secara umum jika dilihat dari sudut pandang lebih dalam. Dapat dikatakan bahwa agama Budha yang disajikan dalam film tersebut boleh jadi adalah satu-satunya agama yang kitab sucinya diambil oleh bangsa iblis. Siluman yang mengiringi seorang manusia yang disebut biksu. Para siluman yang berupa siluman kera dan babi itu akhirnya diangkat derajatnya menjadi dewa. Dewa yang diangkat dari bangsa jin.

Lebih dalam lagi sebagai seorang muslim, hendaknya kita lebih peka terhadap misi terselubung dalam film ini. Jika seorang itu adalah seorang dewasa maka film ini tentu tidak begitu bermasalah karena mayoritas orang dewasa hanya menganggapnya sebagai hiburan. Film ini akan sangat berbahaya jika ditonton oleh anak-anak.

1. Ucapan Amitabha
Anak-anak memiliki karakter peniru. Mereka senantiasa menirukan apa yang dilihatnya karena ini adalah proses tumbuh kembangnya. Khawatirnya ketika melihat film tersebut, perilaku para siluman dan ucapan-ucapan yang hadir pada setiap sesi film tersebut ditiru oleh anak-anak muslim. Contoh ucapan yang sangat akrab dalam film tersebut seperti “Amitabha”. Amitabha adalah nama budha utama (wikipedia.org).

Dalam Islam, ucapan dzikir yang senantiasa membasahi lisan haruslah merupakan kalimat yang memiliki substansi pemujaan, penghambaan, pengagungan kepada apa yang disembah yakni Allah. Ucapan semisal “Amitabha” cukup mudah untuk didengar, dihafal dan diucapkan. Lantas bagaimana statusnya jika seorang muslim justru mengucapkan kalimat menyesatkan tersebut. Kalimat “Amitabha” cukup sering diucapkan oleh biksu Thong. Seorang biksu (petapa/pendeta) yang mendapatkan titah untuk mengambil kitab suci dalam agama budha.

2. Pengenalan nama dewa dan dewi serta inti dari isi kitab budha
Dalam beberapa sesi, dimunculkan para dewa dan dewi dalam film tersebut. Ini adalah salah satu syi’ar untuk mengenalkan bahwa para dewa dan dewi itu sangat baik karena selalu muncul di saat genting dan memberikan bantuan.

3. Bersekutu dengan bangsa iblis
Sun go kong, Ti pat kai dan wu ching berasal dari bangsa iblis. Uniknya, kitab suci agama budha ternyata diambil oleh manusia yang bersekutu dengan bangsa siluman. Dalam Islam tentu bersekutu dengan bangsa iblis merupakan sebuah dosa besar bahkan termasuk dosa syirik yang tidak akan diampuni. Khawatirnya anak-anak akan memiliki pandangan bahwa boleh bersekutu dengan iblis. Bangsa jin memang ada yang baik dan ada pula yang jahat namun biar pun ada yang baik tetap saja haram bagi seorang muslim untuk bersekutu dengan mereka.

4. Sikap penghambaan kepada selain Allah
Syirik adalah dosa besar. Hal ini sangat berbahaya bagi ‘aqidah seorang muslim. Dalam poin 1 sudah dijelaskan ucapan pembatal syahadat dalam film tersebut, pada poin kedua juga telah dijelaskan syi’ar pengenalan ajaran-ajaran budha dan pada poin ketiga dapat disimpulkan bahwa film ini merupakan salah satu upaya agama budha mengirimkan pesan keagamaan kepada umat manusia. Tidak sedikit sesi dimana umat budha bersujud di depan gurunya, di depan raja atau sejenisnya. Perilaku ketundukan itu pun juga ditunjukkan kepada para dewa.

Secara keseluruhan film ini sangat tidak direkomendasikan untuk ditonton bagi umat muslim. Masih banyak acara televisi yang lebih bermanfaat daripada film Kera Sakti yang mendakwahkan ajaran budha.

Share

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.