Sikap Istri Saat Suami Mendapatkan Ujian

Dalam pembahasan sebelumnya, telah disampaikan beberapa hal yang harus dihindari istri agar peran dakwah suami dapat maksimal. Mendampingi suami bukanlah hal mudah dan menjadi pendamping istri bukanlah hal yang enteng. Istilah yang sama antara tidak mudah dan bukan hal enteng namun akan menjadi keluarga yang kuat jika terjalin hubungan saling percaya dan saling mengerti. Komunikasi adalah kunci yang perlu diperkuat dalam membina keluarga sakinah.
Masih dalam buku yang sama dengan pembahasannya sebelumnya, ada bab setelah itu yang memaparkan hal-hal yang harus dilakukan ketika suami mendapat ujian. Ada banyak poin yang tentunya dapat dipejari dan kemudian dimodifikasi sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan dan karakter personal istri.
Berikut adalah hal-hal yang mestinya istri pahami dan lakukan tatkala suami mendapatkan ujian berat baik dalam berdakwah, dunia kerja atau lingkungan sosial:

  1. Mendoakan ketika ia ada disampingmu atau pun ketika jauh dari rumah agar ia diberi keteguhan. 
  2. Menyelesaikan urusan anak-anak, tidak banyak mengeluh atau sering menghubungi suami tentang masalah-masalah mereka. 
  3. Menampung dan mengatur semnua keinginan kemudian menyampaikan pada suami di waktu yang tepat.
  4. Senantiasa mengingatkan dalam kebaikan serta membantunya.
  5. Memotivasinya agar senantiasa bersabar dan mengingatkan akan pahala yang baik. Bersabar dalam melayaninbya jika dia terlihat bosan, mengeluh dan kelelahan.
  6. Berusaha untuk menyelesaikan beban rumah dan tidak memberitahu suami perkara yang tidak menyenangkannya ketika ia sedang mengadakan perjalanan sehingga aktivitasnya tidak terputus (terutama persoalan dakwah dan jihad, red)
  7. Membantunya dalam mengumpulkan artikel, makalah-makalah serta ide-ide baru untuk menulis atau pun mencetak buku jika dia mampu.
  8. Mendekatinya jika melihat suaminya condong dan menginginkannya, memberi kesempatan untuk berduaan dengannya di rumah atau tempat penginapan jika dirasa suami menginginkannya.
  9. Tidak mengajukan permintaan ketika suami dalam kondisi lelah dan kacau pikirannya atau ketika ia dengan bersenda-gurau dan syahwatnya meningkat dan menghindari cara penyampaian yang buruk.
  10. Berpenampilan yang indah ketika kepulangannya sudah dekat.
  11. Menciptakan suasana yang nyaman untuk beristirahat dan tidur, jauh dari keramaian anak-anak.
  12. Sering mengubah posisi perabot rumah tangga agar memberikan kenyamanan bagi jiwa.
  13. Sering mengadakan silaturohim dengan keluarganya dan merasa tenang dengan kondisi mereka. Dengan demikian akan efisien waktunya tanpa menyita waktu yang banyak sehingga keluarganya ridho dengannya.
  14. Menerima dengan baik tamu-tamunya dan mengharap pahala dari Allaah dengan memuliakan mereka.
  15. Menjauhi sikap isrof (berlebihan) dan tabdzir (sia-sia) atau hal-hal yang merusak dalam segala hal.
  16. Bersabar dan tidak mengeluh dengna setiap penyakit, demam atau masalah kesehatan lain dengan tetap memperhatikan cara pengobatan (sesuai sunnah, pen.).

Muat Lebih

Hal-hal di atas adalah sebatas contoh, bukan mutlak harus demikian. Sifat, karakter dan juga ilmu tiap individu jelas berbeda dan harus disikapi dengan baik. Bukan hanya untuk para istri atau calon istri tulisan ini ditujukan namun juga bagi para suami atau calon suami. Kehidupan rumah tangga haruslah didasari dengan sikap saling mengerti. Pengertian itulah yang akan memberikan rona pelangi.
Tidaklah gusar kawanan semut
Melainkan ketika mendung mulai bergelanyut
Telah ku pilih engkau bunga hijau dalam hutan berkabut
Inilah aku pengembara tak berkuda dari ladang gambut
Kan ku sapa engkau tatkala waktunya menyambut
Jauh pandang tak tampak zamrud
Sepanjang jalan berbarislah duri dan ranjau yang tak berselimut
Membangun rakit bersama dengan benang rajut
Mengarungi laut hingga dan setelah ajal menjemput

Referensi:
Abdullah bin Ahmad Al ‘Alaf
Kiprah Dakwah Muslimah
Pustaka Arafah
2008

Pos terkait