Sepuluh Nasihat Untuk Para Istri dari Umamah binti Al Harits

Berkeluarga merupakan sebuah fitroh bagi makhluk hidup. Tidaklah hewan atau pun tumbuhan pun berkeluarga, terlebih manusia. Seiring dengan bertambahnya beban hidup tentu perlu adanya pendamping yang bisa saling mengerti. Tidaklah kita bisa memahami betapa tangguhnya generasi salaf dalam membentuk keluarga yang kokoh melainkan dengan senantiasa mengikuti jejak mereka. Tidaklah pula ada generasi terbaik di muka bumi ini selain generasi salaf. Bagaimana mereka dididik oleh Rosul ‘alayhi sholatu was salam dengan manhaj Robbani yang kemudian pada tiap rumah pada masa itu dinaungi rahmat dari Allaah karena pengorbanan mereka yang begitu luar biasa untuk memperjuangkan Islam di masa asing. Islam pun akan berakhir dalam keadaan asing dan disinilah peran kita sebagai orang yang akan berkeluarga atau yang telah berkeluarga untuk mengenal tabiat manhaj salaf.
Istri adalah tokoh utama dalam rumah. Sosok istri sekelas shohabiyah pun tak luput dari kesalahan apalagi para istri generasi akhir zaman ini. Pada poin ini, tentu para suami harus pengertian bahwasanya itulah pasangan yang Allaah anugrahkan kepada kita selaku laki-laki. Kesempurnaan itu diramu dengan rahmat Allaah bukan datang dengan sendirinya. Peran suami dalam meluruskan istri dan peran istri yang menasihat suami yang juga manusia biasa adalah sikap komunikasi terapeutik yang baik.

Muat Lebih

Umamah bin Al Harits Al Tghlibiyyah yang menikah dengan ‘Auf bin Muhallam bin Dzal bin Syaiban memiliki seorang putri yang bernama Ummu Iyas. Pada suatu masa ketika telah tiba masanya ia dijemput sang pangerannya yakni Al Harits bin ‘Amr, Umamah memberikan 10 nasihat kepada putrinya itu.
  1. Bergaullah bersamanya dengan sikap menerima (qona’ah) apa adanya. Dalam sikap qonaah adalah kelapangan hati.
  2. Selalu mendengar perintahnya dan taat.
  3. Peliharalah objek penglihatan dan penciumannya. Jangan sampai ia melihat sesuatu yang ia tidak sukai darimu dan jangan sampai mencium dari tubuhmu kecuali bau yang terbaik (terharum).
  4. Bercelak adalah sebaik-baik dari sesuatu yang baik yang telah ada dan bahwa air adalah sebaik-baik minyak wangi yang selalu dicari-cari.
  5. Peliharalah waktu makannya.
  6. Perliharalah suasana tenang menjelang tidurnya.
  7. Jaga dan peliharalah rumah dan harta bendanya.
  8. Pelihatalah dengan baik pembantu-pembantu juga keluarga yang ia tanggung.
  9. Janganlah engkau menceritakan sesuatu yang menjadi rahasianya, engkau akan kena dampak buruknya dan apabila engkau tidak menaati perintahnya, hatinya sesak dan marah.
  10. Jangan sampai ketika ia sedang berduka, kau justru menampakkan kebahagaan atau pun sebaliknya. Semakin engkau menghormatinya maka ia juga akan semakin hormat kepadamu. Begitu juga semakin engkau memperbaiki hubungan dengannya maka ia pun semakin menjadi teman terbaik dalam hidupmu.

Ketahuilah bahwa engkau tidak akan mampu melakukan itu semua kecuali jika engkau lebih mengedepankan kemauannya atas kemauanmu, ridhonya daripada ridhomu yaitu dalam hal yang negkau sukai atau pun yang engkau benci.

Sebagai penekan bahwasanya jika kita ingin mendapatkan penghormatan yang lebih dari pasangan kita maka berikanlah terlebih dahulu penghormatan itu kepadanya. Saling melengkapi dalam kekurangan dan saling menyempurnakan dalam setiap keterbatasan.

Referensi:
Kado Pengantin
Asy Syahawi & Al Aththor
Pustaka Arafah, hal 288-289

Pos terkait