Sebuah Harap, Ya Allah Benarkah Dia Untukku

0
Keindahan dalam mengarungi kehidupan adalah ketika susah dan senang dalam menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba dengan perwujudan perilaku yang ternaungi Al Quran dan Sunnah. Mengikuti manhaj salaf adalah ibarat sebuah oase yang tiba-tiba ada di hadapan mata di tengah gurun. Besar asa untuk menggapainya namun amat terik perjalanan menuju oase tersebut.
Sebuah rasa habbah adalah anugerah. Bagi sebagian ikhwan dan akhwat atau sebut saja cowok dan cewek, mencintai adalah sebuah keniscayaan. Datang tak diundang namun pergi menyakitkan. Sikap yang mampu mengendalikan diri tatkala rasa itu muncul adalah sebuah perjuangan yang tidak mudah. Gejolak rasa itu terkadang begitu kuat dan hampir-hampir diri sirna dengan mengikuti arus deras rasa cinta.
Galau bukanlah jawaban atas masalah. Ibarat pergi ke pasar namun tak tahu ingin membeli apa. Seorang pria bukanlah sosok yang terlalu lama mengambil keputusan melainkan pertimbangan lugas dan tegas akan mencerminkan kewibawaannya yang dalam bahasa simpelnya bisa disebut tidak simpang-siur. Tatkala seorang ikhwan telah menentukan akan membeli apa di pasar maka yang akan dituju adalah pusat perbelanjaan yang menjual apa yang diinginkan. Berbeda dengan sosok akhwat, sepanjang perjalanan menuju barang yang diinginkan yang sebelumnya pun cukup sulit untuk menentukan pilihan karena begitu banyak yang diinginkan, mereka masih lirik sana-sini melihat apakah ada barang lain yang memikat. Disaat seorang ikhwan telah mendapatkan apa yang diinginkan, maka tak dipungkiri biasanya akan langsung pulang. Berbeda dengan akhwat yang tadinya telah lirik sana-sini sebelum mendapatkan barang yang dituju, ia akan kembali mengulang jalan yang dilalui untuk melihat benda yang memikat tadi lebih detail. Akhirnya, maksudnya hati membeli 1, pulang pun membawa 3.
Dalam hal jual-beli barang mungkin kesannya demikian, namun akan berbalik 360 derajat tatkala dihadapkan dengan kasus jodoh. Seorang akhwat sejatinya hanya dapat mencintai sekali. Ketika ia sudah memilih ikhwan yang dipandangnya mumpuni maka ia akan mencintainya sepenuh hati dan tidak menghiraukan sosok lain meskipun secara umum jauh lebih baik. Kenapa demikian, hal ini tak perlu dijawab pun Allah telah memberikan jawaban telak bahwasanya seorang suami diperbolehkan menikah hingga 4 istri lantas kenapa istri tidak. Sejatinya demikianlah konsep cinta dari seorang akhwat. Cintanya hanya untuk satu orang. Satu orang yang seperti apa. Tentu satu orang yang selalu memberikan rasa tenang dihatinya. Orang yang mampu meluluhkan amarahnya ketika memuncak. Orang yang mempu menjaga kepercayaan cintanya tatkala keluar rumah mencari nafkah. Orang yang mau menjadi pendengar yang baik karena akhwat adalah sosok yang tidak dapat memendam rasa dan harus dikeluarkan secepat mungkin. Orang yang peka terhadap kondisi yang sedang ia alami. Orang yang mampu menjadi penengah tatkala istri dan mertua terjadi ketidakharmonisan. Orang yang berperangai santun dan berwibawa dalam menyikapi manjanya istri. Orang yang mampu menjadi seperti Rosulullaah ‘alayhi sholaatu was salaam. Ya, itulah sosok yang diinginkan oleh seorang istri.
Lantas, sudahkah kita wahai para ikhwan memenuhi kehendak para akhwat tersebut. Jika belum maka jangan berharap lebih. Pasangan kita adalah cerminan kita saat ini. Seorang aktivis dakwah yang memiliki agenda dakwah begitu padat, tak sedikit yang akhirnya dipertemukan dengan sosok akhwat yang memiliki kapasitas sebagai du’at yang mumpuni. Hal ini serupa dengan para ikhwan yang masih menikmati masa sendirinya dengan hubungan tidak sah dengan akhwat. Maka ternyata kaidah ini berlaku. Status ketaatan seseorang akan serupa dengan status ketaatan siapa yang menjadi pendampingnya.
Ustadz Burhan Sodiq menuliskan satu bahasan yang cukup asyik dalam bukunya “Ya Allah, Izinkan Dia Untukku”, yakni bab Kenapa Mesti Depe Dulu. DP dalam istilah transaksi lebih dikenal dengan uang panjer. Dalam hubungan percintaan antar aktivis lebih dikenal dengan janji menikah. Tak sedikit memang yang akhirnya janji menikah itu terealisasi namun tidak sedikit pula yang berakhir dengan PHP (Pemberi Harapan Palsu). 
“Ironisnya, mereka lalu menjadi orang yang merasa tenang karena tidak bakalan ditinggal oleh kekasihnya. Eh mereka tidak mau disebut kekasih. Ya sudah, berarti mereka hanya teman. Ups, mereka juga tidak mau kalau hanya dibilang sekedar teman. Tapi mereka ada “sesuau”, kali itu yang paling pas. Yah, ada sesuatu di antara mereka yang selama ini mereka sembunyikan”. (Burhan Sodiq, Ya Allah, Izinkan Dia Untukku, hal 27)
Benarkah dia untukku?
Sebuah pertanyaan yang terinspirasi dari buku tersebut (tuh di paragraf sebelumnya). Apakah pertanyaan ini akan terjawab sendirinya. Tentu iya, yakni tatkala jenjang pernikahan sudah di depan mata. Akan sulit sekali terbayang jika masih di belakang mata.
Potret pasangan yang akan mendampingi kita telah diuraikan pada permulaan pembahasan yakni akan setara dengan siapa kita sekarang. Jadi ketika kita memiliki harap terhadap seseorang yang kita pandang baik secara agama, baik secara fisik, baik secara nasab keluarga dan juga tentunya harta yang cukup maka tolak ukurnya tetap kembali pada tingkat ketaatannya. Jangan sampai label,”Rejeki bagimu, musibah baginya”, tersemat secara otomatis ketika si “dia” telah dinobatkan menjadi pasangan yang halal.

Tinggalkan Komentar