Menyingkap Makna, Antara Fanatik dan Lebay

0
Makna sebuah kata memiliki tujuan yang tersembunyi. Bukanlah sebuah kata itu digunakan untuk mewakili maksud dari kata setelahnya melainkan ia sebagai penjelas. Erat kaitannya dengan sensitivitas publik, terkadang penggunaan kata yang tendensius juga mempengaruhi opini yang akan terlontar. Seringkali didapati baik dalam media televisi mau pun media cetak ungkapan tendensius yang lagi-lagi korban kejahatan media itu adalah Islam.
Bau mulut jika diganti dengan aroma mulut maka akan terkesan berbeda. Bentuk santun dan bentuk sarkasme yang sangat kentara. Di saat orang-orang berkepentingan khusus terhadap kasus-kasus diskriminasi SARA mulai condong terhadap sudut tertentu maka akan menimbulkan reaksi yang luar biasa dari sudut lainnya. Hal ini tak akan terjadi jika permainan cantik itu digulirkan dengan atau tanpa kesepakatan publik. Maksudnya adalah tak perlu orang-orang berkepentingan itu mengeluarkan statement resmi namun begitu digulirkan istilah tertentu yang menyudutkan sudut yang dibidik maka perlahan opini masyarakat terbentuk dengan sendirinya tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu mahal istilah itu sudah tersebar luas.

Pada poin ini penggunaan dua istilah yang cukup signifikan dalam porsi arti namun sangat kontras pada ranah aplikatif. Jika dilihat lebih dalam bahwasanya label fanatik cenderung negatif, melalui sudut pandang publik dan pasti terarah langsung pada agama tertentu yakni Islam. Kenap bisa demikian, jelas saja karena penggunaan kata fanatik di media lebih sering diiringi dengan munculnya atribut keislaman. Lain dengan lebay yang juga diartikan negatif namun penempatannya bersebarangan dan konflik di masyarakat sangat berbeda.
Hanya sekedar opini. Ketika kaum Muslimin senantiasa menghidupkan sunnah dengan memanjangkan jenggot, menggunakan celana di atas mata kaki dan berdahi hitam bekas sujud bagi laki-laki maka opini di masyarakat akan terlontar,”Ah, si itu terlalu fanatik”. Ketika seorang Muslimah mengenakan pakaian syar’i bahkan dilengkapi dengan cadar maka kembali muncul ungkapan,”Si itu fanatik banget, bajunya gak umum”.
Keberhasilan yang cukup patut diapresiasi dan tentunya setelah itu diimbangi dengan memurnikan labelisasi itu. Hal ini cukup unik jika dikaitkan dengan penempatan kata Lebay. Jika kata fanatik itu sudah cukup mewakili kenapa kemudian dibentuk kata baru yaitu Lebay yang muncul sekitar tahun 2006.
Labelisasi ini begitu terlihat ketika setiap orang yang terlalu berlebihan terhadap sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan Islam kemudian disebut bahwa ia orang yang lebay. Kenapa bukan kata fanatik yang disematkan. Lagi-lagi karena kesuksesan orang-orang berkepentingan yang telah membuat kata “Fanatik” itu selalunya identik dengan cara bersikap secara total untuk mengikuti sunnah. Burukkah itu, maka perlu dirinci lagi bahwasanya sikap fanatik terhadap Islam itu harus terutama sesuai dengan AL Quran dan Sunnah. Berpakaian dengan celana di atas mata kaki dan jenggot bagi ikhwan adalah sunnah dan harus diikuti sedangkan bagi akhwat adalah mengenakan jilbab syar’i sesuai Al Quran dan Sunnah adalah amal kebaikan yang Allah sendiri yang akan memujinya, tanpa mengharapkan pujian dari manusia.
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.