Ketika Pacaran Terasa Seperti Diabetes

Hubungan asmara antara dua insan yang telah saling menjalin komitmen akan menghadirkan banyak warna. Kawula muda yang dengan mudahnya menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis atau yang akrab disebut dengan pacaran tidaklah akan dengan mudah menentukan sikap dengan bijak karena secara psikologis mereka masih dalam tahapan labil. Labil dalam arti belum jelas konsep kehidupan yang akan mereka jalani, kecuali zamannya para ‘ulama generasi salaf.
Kala cinta datang menyapa maka keinginan hati untuk senantiasa lekat dengan orang yang dikasihi. Pada fase ini, si cewek akan berada pada fase menumbuhkan kepercayaan (trust) kepada si cowok. Sementara si cowok sudah mulai merasa nyaman dengan kehadiran si cewek. Dilema ini tidaklah berlangsung lama karena labilitas tersebut. Asmara pacaran tidaklah lebih dari masa-masa harmonis penuh kemesraan hanya pada masa 3 bulan awal sedangkan selebihnya adalah penuh konflik. Konflik ini muncul karena tiap diri mulai menemukan kelebihan dan kekurangan pasangannya. Pasangan zina tersebut (ups, pacaran itu mendekati zina kawan) tidaklah akan menemukan keharmonisan secara periodik melainkan hanya segmentik. Maksudnya adalah mereka akan mesra hanya ketika mereka merasa ingin disayang atau diperhatikan sedangkan selebihnya hanya rasa yang mengganjal atau ketidaknyamanan selama masih ada iman dihatinya. Namun kenyamanan dalam zona merah itu mungkin saja dapat dicapai oleh mereka yang sudah terlanjut melampiaskan rasanya dengan bentuk seperti itu. Pada masanya kelak, hanya tersisa penyesalan yang tiada duanya.
Itulah mengapa asmara dalam ranah pacaran dapat dikatakan sebagai pacaran diabetes. Penyakit diabetes adalah kerusakan organ tubuh yakni Pankreas yang tidak mampu lagi memproduksi unsulin sehingga glukosa tidak dapat dicerna. Pada kondisi tertentu, penderita diabetes akan ketergantungan terhadap insulin sehingga setiap sebelum makan mendapatkan suntikan insulin. Itulah pacaran, ketika cinta yang tidak halal ditumbuhsuburkan maka ketika terjadi polemik yang mengharuskan putusnya hubungan itu maka akan terjadi carut-marut.
Saat kedua belah pihak memutuskan untuk berpisah maka untuk mengobati perasaan yang telah kalut tersebut mereka membutuhkan pelebur layaknya insulin. Tak jarang mereka yang menempuh jenjang asmara dengan pacaran akan mengalami rasa haus kasih sayang. Seolah jika tanpa ada SMS tiap harinya yang berupa kalimat-kalimat “sayang”, akan terasa ada yang kurang sehingga tidak sedikit pemuda-pemudi sekarang rajin gonta-ganti pacar. Lain halnya ketika mereka masih memiliki iman, ketika satu kejadian telah mereka lalui dengan rasa sakit maka hendaknya beralih dengan yang lebih nyaman dan halal yaitu menikah.
Pernikahan ibarat seseorang yang menderita diabetes kemudian melakukan operasi implantasi pankreas baru. Ia akan hidup tenang tanpa dipusingkan dengan suntikan insulin. Dalam memilih makanan pun tidak akan terlalu seselektif saat pankreas tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Demikianlah Allah menurunkan masalah di dunia ini untuk menguji hambanya. Siapakah hamba yang memang layak untuk memperjuangkan agamanya dan siapakah yang mesti tiarap karena tidak mampu melalui ujian demi ujian yang menyapa. Para generasi salaf ketika telah menemukan rasa “habbah” terhadap lawan jenis maka langkah yang mereka lakukan adalah ta’aruf. Berkenalan dengan cara yang baik. Ta’aruf dengan mendatangi keluarga akhwat yang disukainya untuk kemudian menyatakan maksud dan tujuan kedatangannya. Asal maksud dan tujuan itu baik kenapa tidak dicoba. Berbeda dengan ketika maksud dan tujuan tersebut adalah dalam rangka bermaksiat sebagaimana bujang menghampiri gadis di malam minggu untuk diajak kencan.
Ta’aruf pun sudah dilalui dengan menemui keluarga orang yang disukai, lantas kemudian kenapa ragu lagi, langsung memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk akankah melanjutkan ke proses berikutnya atau disudahi dengan cara yang santun pula tentunya. Jika telah ditemukan jawaban “ya” maka tunggu apa lagi, langsung pertemukan kedua walidayn (parent) dengan keluarga orang yang disukai. Tanpa harus menunggu waktu lama, tentukan hari dan pernikahan penuh barokah pun akhirnya memberikan ketenangan. Itulah cara Islam menjawab kegalauan para muda-mudi masa kini yang resah, khawatir tidak akan mendapatkan pasangan. Secara jelas Allah nyatakan, pria yang baik adalah untuk wanita yang baik, begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu, mari ikuti cara Islam agar sembuh dari penyakit asmara diabetes.
Share

This website uses cookies.