Polwan Berjilbab Dilarang, Polwan Bertopi Santa Dilegalkan

Indonesia kian terasa jauh dari Islam. Jika diingat kembali masa sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, maka hampir seluruh elemen yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan adalah umat Islam. Mereka berperang melawan para penjajah dengan seruan takbir “Allaahu Akbar” bukan “Haleluya”. Belum ada dalam  buku-buku sejarah bahwa orang kristen dikisahkan mati-matian memperjuangkan kemerdekaan. Justru yang ada umat Islam yang berjuang membela tanah air berbondong-bondong dikristenkan oleh misionaris asal Belanda.
Masa dulu berbeda dengan masa sekarang. Dulu pertempuran fisik lebih kentara karena mengingat persenjataan umat Islam masih sangat minim meskipun akhirnya menang karena tekad menjaga iman yang begitu kokoh. Lain dengan hari ini, Islam diporak-porandakan dari dalam.
Sejumlah polisi dari jajaran Direktorat Sabhara Polda Jatim, menggunakan
topi santa ketika melakukan patroli bersepeda di Jl. A Yani Surabaya,
Jumat (21/12). Patroli pengamanan Natal 2012 dan Tahun Baru 2013
tersebut untuk mencegah tindak kejahatan sekaligus lebih mendekatkan
polisi dengan masyarakat. (FOTO ANTARA/Eric Ireng)
Masih teringat jelas polemik Polwan (Polisi Wanita) yang tengah ingin menjalankan syari’at Islam berupa jilbab. Menurut peranturan kepolisian, Polwan harus mentaati peraturan kepolisian untuk berjilbab.
Kepala Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal
(Pol) Ronny Frengky Sompie mengatakan, polisi wanita (polwan) harus
menggunakan seragam yang sama sehingga tidak dapat mengenakan jilbab,
kecuali mereka yang bertugas di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hal
itu diatur dalam Surat Keputusan (SK) Kapolri No Pol: Skep/702/IX/2005. (Kompas.com/14-6-2013)
Dalam memposisikan diri sebagai orang beriman, maka hukum siapakah yang lebih tinggi dan lebih patut ditaati. Hukum jilbab dalam Islam diatur sepenuhnya oleh Allah bukan kepolisian. Jika seorang Polwan yang ingin berjilbab saja mesti mengikuti standar kepolisian maka apakah peraturan kepolisian lebih sempurna daripada Al Quran.
Lain daripada itu, ketika jilbab tidak terdapat paraturan seragam Polri, lantas apa bedanya dengan atribut topi santa yang dikenakan oleh polisi. Apakah pengenaan topi santa sudah diatur sebagai atribut yang sah bagi polisi sehingga tidak dipermasalahkan layaknya atribut keislaman berupa jilbab.
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker