Perawat Muslimah Dipecat Karena Jilbab Di Nigeria

Jilbab bagi muslimah adalah sebuah jati diri. Kewajiban yang datang langsung dari Allaah ini sudah seharusnya dijaga dan dipertahankan hingga akhir hayat. Seberat apa pun ujian yang diterima entah itu pelecehan, hujatan, bahkan tindak kekerasan yang menimpa seorang muslimah atas jilbab yang ia pakai, jika ia tetap menjaga aurotnya maka Allaah akan menggantinya dengan pahala yang tidak ternilai.

Perawat adalah sebuah profesi yang menuntut diri menjadi seorang yang peka terhadap permasalah lingkungan terutama kesehatan. Profesi ini terkadang mendapatkan diskriminasi di Rumah Sakit atau klinik yang di sana tidak berbasis Islam atau tidak mengedepankan toleransi. Tak sedikit Rumah Sakit yang melarang perawat muslimah mengenakan jilbab. Tak sedikit pula Rumah Sakit yang hanya membolehkan perawat muslimah mengenakan jilbab mini dengan alasan jika jilbab syar’i akan mengganggu dalam melakukan tindakan keperawatan.

Muat Lebih

Kasus tahun 2014 yang cukup menggemparkan di Nigeria, dua perawat musliamah dipecat dari Rumah Sakit pemerintahan Lagos. Mereka dipecat setelah sebelumnya diberikan dua pilihan yakni pekerjaannya atau jilbabnya. Jika mereka memilih pekerjaannya maka mereka harus melepaskan jilbabnya namun jika memilih untuk tidak melepaskan jilbabnya maka mereka harus keluar.

“Saat satu bulan pertama masa orientasi, saya diberi tahu untuk melepaskan jilbab saya”, kata Fasilat Olayinka Lawal, salah seorang perawat muslimah berjilbab yang dipecat dari Rumah Sakit Ortopedi Nasional Igbobi Lagos kepada Onislam.net.

Dalam perjalanannya, rintangan menjadi perawat muslimah yang setia dengan jilbabnya terus berdatangan. Saat masa orientasi itu, untungnya ia memiliki surat edaran dari Dewan Keperawatan dan Kebidanan Nigeria bahwa perawat wajib mengenakan cap (topi perawat) atau jilbab sebatas bahu. Setelah ia tunjukkan surat edaran itu maka ia boleh melanjutkan masa orientasi.

Tidak cukup sampai di situ, setelah mereka berdua selesai masa orientasi, ujian baginya sudah menanti. Saat dilakukan pemeriksaan medis untuk bergabung dengan Rumah Sakit Ortodepi Nasional Igbobi (Nohil) itu, mereka lagi-lagi diminta untuk melepaskan jilbabnya. Lawal menanggapi hal itu dengan sebuah pernyataan bahwa Rumah Sakit Federal saja membolehkan untuk berjilbab.

Lawal dan Sanusi, dua perawat muslimah yang dipecat gara-gara berjilbab itu pada 23 Maret lalu diberitahukan lagi oleh pihak Rumah Sakit setelah bekerja di sana yakni tidak benar mereka mengenakan jilbab bukan cap perawat. Pada 31 Maret diskriminasi itu berlanjut. Lawal dan Sanusi dilarang mengisi buku absensi. Kemudian pada bulan April akhirnya mereka diberhentikan. Sempat pula Lawal disuruh keluar dari ruang bangsal karena jilbabnya.

Menyikapi diskriminasi ini, mereka berdua mengangkat perkara ini ke ranah hukum. Mereka melanjutkan perkara ini ke pengadilan. Pada tanggal 23 April, mereka berdua mendapatkan memo dari Rumah Sakit untuk menemui Dewan Rumah Sakit. Dalam pertemuan itu, mereka diberitahukan bahwa dengan mereka tidak mau melepaskan jilbabnya maka mereka telah membangkang terhadap peraturan pelayanan publik. Berikutnya Direktur medis Rumah Sakit, Dr. O. O. Odunibi menjelaskan bahwa mereka dipecat bukan karena jilbabnya melainkan karena mereka membangkang terhadap peraturan.

Mendapat kabar ini, sebuah organisasi Islam terkemuka di Nigeria mengeluarkan sikap tegas. Mereka mengecam tindakan Nohil yang memberhentikan perawat muslimah karena mereka berjilbab. MPAC, nama lembaga Islam tersebut meminta seluruh kaum Muslimin di belahan dunia mana pun untuk juga memberikan dukungan terhadap kaum Muslimin di Nigeria yang mendapatkan diskriminasi meskipun sebatas doa.

Dulu pemerintah Lagos juga pernah memberlakukan larangan berjilbab di sekolah-sekolah umum. Ini akhirnya diselesaikan di luar pengadilan. Pemimpin-pemimpin Islam menyatakan bahwasanya pelarangan jilbab melanggar hak beragama siswa muslim, dijabarkan dalam konstitusi.

Pos terkait