Muda Banyak Dilema

Masa muda bukanlah masa yang patut disepelekan. Jenjang yang dilalui oleh siapa pun sebelum menempati masa dewasa pasti melalui dahulu masa remaja. Belum ada dalam sejarah seorang lahir langsung tua. Ada pun Sun go kong yang lahir dari batu pun melalui masa kanak-kanak, remaja lalu beranjak dewasa meskipun suka berbuat onar. Itulah manusia, bukan kupu-kupu. Kita lihat kupu-kupu yang langsung dapat terbang beberapa saat setelah lahir. Namun sebelum itu tetap flashback bahwasanya kupu-kupu pun semua hanyalah larva mungil yang karena banyak makan hingga obesitas seperti itu. Bukan obesitas tanpa makna seperti kita yang obesitas karena nafsu makannya yang tak terkontrol. Para ulat itu perlu banyak makan karena akan melalui proses metamorfosis yang amat berat.
Inilah jamannya kirim pesan tanpa perlu pakai burung merpati. Pemuda-pemudi berkembang tanpa kendali. Hiruk-pikuk negeri diwarnai gairah muda yang suka lirik kanan-kiri. Entah kanan jurang atau kiri sabetan belati.
Pemuda padat karya, bukan capaian tanpa tanda jasa. Karya bermakna demi tujuan mulia sepanjang usia. Ialah mereka pemuda yang tak menyia-nyiakan masa muda. Kreatif, inovatif dan sesuai realita.
Pemuda masa kini banyak yang jauh dari pelajaran agama. Agama bukan menjadi pedoman melainkan materi selingan saja. Alangkah malangnya pemuda. Jauh dari bimbingan orang tua, agama pun asing di telinga. Betapa sulitnya menemukan pemuda yang pandai mengaji. Hari-harinya dihantui pesan BBM dan Whatsapp dari pasangan zina sejati. Pacar dinanti, Allah dikhianati.
Sosok pemuda seperti ‘Ali sudah tiada lagi. Menjadi pemuda yang pintar akan ilmu dunia dan ilmu syar’i. Pandai berdagang dan juga pandai mengaji. Lihai dalam berperang mempertaruhkan jiwa dan raga membela Islam yang kokoh di hati.
Entah adakah para pemuda yang menghabiskan waktunya untuk menggali jati diri. Hebat di kelas namun hati terpaut kepada Ilahi. Masjid ramai oleh kumandang merdu suara mua’dzin muda anak negeri. Inilah generasi penerus para sepuh yang kian tertatih menarik nafas kala menghadap mic sambil berdiri.
Bangunlah para adik kami yang tengah mencari bentuk kebaikan. Bukan di pasar bukan pula di pinggir jalan. Bukan tempat mangkal atau nongkrong bersama pengguna akal. Ikutilah mereka yang duduk di Masjid yang kian sepi. Menanti waktu sholat sembari mengaji. Menata hati mengarungi kerasnya hidup ini. Ketenangan hati bukanlah dinanti melainkan dicari.

Pos terkait