Mahasiswa Keperawatan Liberia, Berbagi Pengalaman Lawan Ebola

0
Austin S Jallah
“Ketika wabah pertama dimulai pada bulan maret dan kami mendengar tentang virus Ebola yang mematikan, saya berada di Kakata”, kata Austin S Jallah, seorang mahasiswa keperawatan Universitas Kakata, Liberia.

“Orang-orang meragukan fakta bahwa Ebola benar-benar nyata, hingga kami mendengar kasus pertama di Rumah Sakit. Aku bukanlah termasuk orang yang meragukannya sekali pun karena aku adalah seorang mahasiswa keperawatan, saya telah membaca tentang virus Ebola ini sebelumnya, bagaimana virus Ebola ini ditemukan kembali pada tahun 1976″, imbuhnya.

Austin yang baru berusia 28 tahun ini adalah salah satu dari 360 tenaga kesehatan Liberia yang terinfeksi virus Ebola. Suatu hari di bulan Agustus, ia melakukan kontak dengan pasien yang ternyata terinfeksi virus Ebola tanpa sepengetahuannya.

Austin berkata,”Aku memberikan medikasi kepada pasien di UGD namun aku tak tahu bahwa ia telah terinfeksi virus Ebola. Saya berinteraksi dengannya dan kemudian saya dapati ia meninggal karena Ebola. Sejak aku mendengar hal itu, aku segera ke Rumah Sakit dan melaporkan diri saya sendiri, menginformasikan kepada teman-teman saya bahwa saya pernah melakukan kontak dengannya”.

Sejak saat itu, Austin dipantau secara ketat oleh rekan-rekannya. Tiga hari kemudian demamnya meningkat dan mulai muntah. Kemudian ia dilarikan dengan ambulan ke ELWA 2, salah satu unit perawatan Ebola diibu kota Monrovia.

“Saat saya masuk ke unit perawatan Ebola, saya merasa sangat kesakitan. Seluruh pengalaman itu membuatku trauma. Virus ini benar-benar menghancurkan sistem kekebalan tubuh”, ujar Austin.

Saat mendapatkan perawatan itu, ternyata 14 dari teman-teman Austin juga terinfeksi Ebola. Mereka semua dibawa ke ETU (Ebola Treatment Unit). Sejumlah 10 orang dari teman Austin meninggal dunia, ia adalah termasuk korban yang selamat. Austin tak lupa mengucapkan terima kasih pada Tuhan.

Setelah 20 hari berada di ETU, Austin diberikan kabar baik. Hasil PCR (Polymerase Chain Reaction) menyatakan negatif. Hari berikutnya, Austin masuk dalam daftar pasien yang akan keluar dari unit perawatan Ebola. Setelah itu Austin dinyatakan boleh keluar lalu ia segera membersihkan diri dan diberikan pakaian baru, semua barang-barang yang ia miliki pun ditinggal dan diganti dengan yang baru seperti Handphone dan uangnya.

“Saya bersyukur pengalaman Ebola saya dapat memberikan pengaruh¬† bagi pengetahuan tenaga kesehatan kita dan membantu memberantas penyakit ini dari Liberia”¬†Austin S Jallah, Trainer Ahli Pasien WHO.

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.