Kisah Haru, Perawat Asal Inggris Masuk Islam Karena Pasiennya

0
Seorang perawat wanita memutuskan memeluk Islam karena akhlaq pasiennya. Ialah Cassie yang akhirnya memilih Islam sebagai agamanya atas hidayah Allaah yang disampaikan melalui pasien home care-nya. Pasien tersebut adalah pasien jiwa. Cassie yang baru berumur 23 tahun tersebut merawat seorang kakek berumur 80 tahun kewarganegaraan Inggris. Dalam perjelesannya yang dirilis dalam Muslimlinkpaper.com yang dimuat pada 2012 lalu bahwa pasiennya adalah seorang muallaf, sehingga status agamanya dalam status pasien adalah muslim.

Cassie mengaku bahwa setelah mengetahui bahwa pasien jiwa yang ia tangani dengan diagnosis Alzheimer itu adalah muslim, maka ia menyesuaikan tindakan keperawatan yang akan ia berikan kepada pasiennya. Ia membawa makanan halal dan memastikan tidak ada daging babi dan alkohol dalam menu yang diberikan. Ia tahu bahwa seorang muslim tidaklah memakan makanan tersebut setelah melakukan penyelidikan tentang hal tersebut. Menanggapi hal itu, rekan-rekan Cassie tidak habis pikir kenapa ia hingga melakukan tindakan sampai seperti itu untuk pasiennya. Namun bagi Cassie, seorang yang memegang teguh kepercayaan/imannya maka patut baginya diberikan penghormatan yang sepadan.

Beberapa pekan selama perawatan pasien jiwa tersebut, Cassie mengaku melihat pasiennya melakukan gerakan-gerakan yang diulang setiap pagi, siang dan sore oleh pasiennya. Awalnya ia mengira itu hanya menirukan orang lain saja. Gerakan tersebut diantaranya adalah mengangkat tangan, membungkuk dan meletakkan kepala ke tanah. Selain itu, Cassie juga mendengar pasiennya mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa lain yang tidak ia mengerti. Kalimat-kalimat itu pun sama setiap pasiennya melakukan gerakan itu.

Akhlak yang baik pun diajarkan kepada Cassie saat melakukan perawatan. Sang pasien melarang Cassie memberikan makan dengan menggunakan tangan kiri. Atas beberapa hal unik yang dialami Cassie, ia disarankan oleh temannya untuk masuk ke sebuah forum debat yaitu Paltalk. Setelah itu Cassie masuk di ruang Islam dengan kategori “True Message (Pesan Kebenaran)”. Setelah bertanya dan berdiskusi dalam forum itu, ia akhirnya mendapatkan jawaban bahwa gerakan yang dilakukan pasiennya adalah “Sholat”. Namun pada waktu itu ia masih belum percaya hingga salah seorang salam forum itu berbagi link sholat dari Youtube.

“I was shocked”, ujar Cassie dalam bahasa Inggris yang artinya “Aku terkejut!”.  Seorang yang sudah kehilangan semua memorinya, anak-anaknya, pekerjaan dan bahkan hampir tidak bisa makan minum mampu mengingat gerakan dan kalimat-kalimat dalam bahasa lain itu merupakan sebuah keajaiban bagi Cassie mengingat itu adalah tugas perdananya selaku perawat yang bertalenta.

Bukan waktu yang singkat sampai akhirnya Cassie memahami bahwa pasiennya adalah seorang yang sangat taat beragama. Akhirnya ia memutuskan untuk terus mempelajari dan berbuat tindakan keperawatan yang terbaik yang ia bisa.

Cassie berkata,”Aku sering mengunjungi ruang Paltalk dan diberikan link untuk mendengarkan terjemahan Al Quran dan membacanya”. “Bab tentang “Lebah” membuat saya menggigil dan mengulanginya beberapa kali sehari”, imbuhnya.

Cassie pun menyimpan rekaman Al Quran dalam i-Podnya lalu memberikannya kepada pasien jiwa yang ia rawat. Saat mendengarkan itu, pasiennya tersenyum dan menangis. Ia paham kenapa pasiennya seperti itu setelah membaca terjemahannya.

Perawat wanita tersebut rajin mengunjungi Paltalk untuk mencari tahu cara merawat pasiennya namun pada akhirnya dia tersadar bahwa ia masuk ke ruang diskusi Paltalk adalah untuk memenuhi rasa ingin tahunya terhadap Islam. Dalam pengakuannya, ia tidak pernah meluangkan waktu untuk melihat kehidupannya, ia pun tidak mengetahui siapa ayahnya bahkan ibunya pun meninggal saat ia umur 3 tahun. Cassie dan kakaknya diasuh oleh kakek dan neneknya yang meninggal 4 tahun lalu.

“Saya diberikan daftar masjid di daerah saya oleh seorang wanita di Paltalk dan mengunjungi salah satu”, ujar Cassie. “Aku melihat orang berdoa dan aku tak bisa menahan air mataku”, Cassie menambahkan.

Sejak saat itu Cassie menjadi senang pergi ke Masjid dan Imam masjid beserta istrinya memberikan buku-buku dan kaset serta siap menjawab setiap pertanyaan yang Cassie ingin tahu. Ia tidak memeluk kepercayaan apa pun namun ia tahu bahwa Tuhan itu ada. Hanya ia belum tahu bagaimana cara menghormati Tuhan.

Saat malam ia membuka Paltalk, ia ditanya oleh seorang rekan diskusinya tentang apakah ia akan menerima Islam pada akhirnya. Ketika itu Cassie belum dapat menjawabnya. Kemudian saat shubuh ia berkunjung ke Masjid untuk melihat orang-orang melaksanakan sholat shubuh, namun sang Imam Masjid menanyakan hal yang sama dan Cassie masih belum dapat memberikan jawaban.

Pada sore harinya setelah memberikan perawatan kepada pasiennya, Cassie berkunjung ke masjid. Saat memberikan makan ke pasien, ia melihat mata sang pasien dan ia sadar bahwa pasien itu dibawa kepadanya untuk sebuah alasan. Ia tidaklah takut untuk menerima keburukan namun justru ia takut menerima kebaikan berlimpah itu karena ia merasa tak layak menjadi seperti pasiennya yang memegang teguh imannya. Saat bertemu dengan Imam Masjid sore itu, Cassie ingin menyatakan Syahadat, Laa ilaaha illa Allaah, Muhammadu Rosul Allaah.

Cassie pun mengatakan penggalan-penggalan kalimat berikut yang tentunya tak akan mampu dibendung air mata orang yang membacanya.

Ia membantuku melaluinya dan membimbingku tentang apa yang ku perlu lakukan berikutnya. Aku tak dapat mengungkapkan perasaan yang ku rasakan saat itu. Rasanya seperti ada seseorang yang membangunkanku dan melihat segalanya lebih jelas. Perasaan sukacita yang luar biasa, kejelasan dan lebih daripada itu,,,,kedamaian. Orang pertama yang kuberi tahu bukanlah saudaraku melainkanpasienku. Aku pergi kepadanya, bahkan sebelum aku sempat membuka mulutku, ia menangis dan tersenyum kepadaku. Aku menangis didepannya, aku berhutang banyak padanya. Aku pulang lalu log in ke Paltalk dan mengulang syahadat dalam ruang diskusi tersebut. Mereka semua telah membantuku begitu banyak meskipun aku belum pernah melihat satu pun dari mereka namun mereka terasa lebih dekat denganku daripada kakakku. Aku akhirnya menelepon sadaraku dan memberitahunya meskipun ia tidak senang dan mengatakan ia akan berada di sana, aku pun tak bisa meminta lebih.

Selama sepekan aku menjadi seorang muslimah, pasienku meninggal dalam tidurnya saat aku merawatnya, Innaa lillaahi wa inna ilayhi rooji’uun. Ia meninggal dengan tenang dan aku adalah satu-satunya orang yang membersamainya. Ia seperti ayah yang tak belum pernah saya miliki dan pintuku menuju Islam. Sejak hari aku mengucap syahadat hingga hari ini, dan setiap hari selama aku masih hidup, aku akan berdoa agar Allaah memberikan kasih sayang padanya dan memberinya balasan atas perbuatan baik yang ia tunjukkan hingga 10 kali lipat. Aku mencintainya, Demi Allaah, aku mendo’akannya setiap malam agar menjadi pemberat atom (‘amal) baginya. Islam adalah agama dengan pintu yang terbuka bagi mereka yang ingin memasukinya, sungguh Allaah Mahapenyayang.

Kini Cassie telah menemui hari terakhirnya pada Oktober 2010 lalu setelah mendakwahi kakaknya yang akhirnya menerima Islam, Alhamdulillaah.
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.