Ketika Film Kartun Jadi Sarana Perusak Aqidah Anak

Perhelatan akbar perang pemikiran kian santer terasa. Seiring dengan kian maraknya para muallaf, kaum nashoro/kristen tak hentinya pula mengembangkan konsep pemurtaddan yang sudah mereka rubah dari konsep frontal menjadi konsep sirriyah (terselubung). Berbeda dengan Islam yang dahulu kala bermula dengan dakwah sirriyah (sembunyi-sembunyi), kini menjadi jahriyah (terang-terangan). Penyebab dari perubahan konsep musuh Allaah tersebut tak lain dan tak bukan adalah karena kekuatan kaum Muslimin yang semakin tangguh sehingga untuk merusaknya secara perang fisik justru akan menguras perekonomian musuh-musuh Allaah tersebut dan tentunya secara mental pun kaum Muslimin akan menang. Terbukti sudah bahwasanya hingga kini bumi jihad Afghonistan tak kunjung dikuasai oleh amerika. Meskipun hanya bermodal persenjataan yang apa adanya, kaum Muslimin akan menang karena Allaah adalah satu-satunya penguasa sekenario alam semesta.
Perang pemikiran (Ghozwul Fikri) kini perlu dicermati dengan lebih teliti. Anak-anak pun tak jauh dari misi ini. Berbagai film kartun diselipkan dakwah-dakwah kafirisasi dari kaum nasrani. Sebut saja film kereta api di salah satu stasiun Tv swasta di Indonesia. Dalam tiap episodenya selalunya adalah selipan ucapan-ucapan sumpah yang tidak disandarkan kepada Allaah semata, misalnya “Demi cerobong asap”, “Demi bel berdering” dan ucapan semisal itu. Secara jelas sekali bahwasanya bersumpah dengan selain nama Allaah adalah sebuah bentuk kekafiran.
Konsep lain dari misi ini adalah dengan menyajikan film-film kartun disaat anak-anak harusnya berbondong-bondong ke Masjid. Pada masa-masa di mana listrik belumlah menjangkau wilayah seluas hari ini, Surau dan Masjid selalu penuh dengan anak kecil yang giat belajar Alif, Ba, Ta meskipun hanya diterangi obor dari serabut kelapa yang dibasahi minyak tanah. Pemandangan indah seperti itu kini kian sulit ditemukan. Anak-anak masa kini lebih senang disuguhi dengan tontonan film yang mnghiasi layar Tv mereka dikala Maghrib menjelang. Para ibu pun tak mampu berbuat banyak karena turut serta pula dalam mendidik anak untuk lebih memilih film-film tersebut. Maka beruntunglah keluarga yang selamat dari fitnah akhir zaman ini.
Sebuah terobosan yang cukup bijak adalah pemberlakuakn wajib belajar pada jam-jam krusial yang dijadikan jadwal kristenisasi kontemporer. Para ibu sejatinya adalah pendidik terbaik dalam keluarga sehingga Islam harusnya dijadikan sebagai landasan dalam membina keluarga yang berharap Surga. Mengajarkan anak untuk segera menuju masjid tatkala mendengar suara adzan atau bahkan sudah bersiap di Masjid sebelum adzan berkumandang. Kemudian anak-anak diajarkan mengaji atau diberikan petuah-petuah dari sang ibu untuk menjadi anak sholih/sholihah. Setelah ‘Isya adalah momen di mana kebersamaan keluarga amatlah penting. Televisi dapat dikatakan sebagai pemecah kebersamaan. Komunikasi yang hangat serta senda gurau antar anggota keluarga akan menjadikan nuansa yang  harmonis. Ayah adalah pembimbing istri dan anak untuk senantiasa taat kepada Robb. Alangkah bahagianya kehidupan Rosulullah ‘alayhi sholaatu was salaam beserta para istri beliau. Keluarga yang lebih dekat kepada Islam sehingga Aqidah keluarga tidak tergoyahkan dikala musuh-musuh Islam melepaskan makarnya. Berbeda jauh dengan masa sekarang yang Aqidah Islam tersebut mudah sekali luntur hanya dengan sebungkus mi rebus.
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker