Alasan Minum Obat Sebelum Atau Setelah Makan

Minum obat bagi sebagian orang adalah suatu hal yang menyebalkan. Belum juga diminum, baru sekedar dibayangkan saja ada yang sudah bergidik ketakutan. Lebih parah lagi jika muntak ketika melihat orang lain yang minum obat. Anak-anak pun demikian. Walidain (orang tua) yang suka menggunakan efek takut demi membuat anaknya diam pun cenderung memberiikan kontribusi besar menjadikan anaknya fobia (phobia) terhadap obat. Oleh karenanya cara membuat anak tenang dengan menakut-nakuti seperti itu tidak diperbolehkan. Terkadang juga menjadikan dokter, mantri atau bidan sebagai tersangka kejahatan sehingga anak takut dan diam.
Waktu minum obat bagi sebagian orang mungkin masih menyebabkan spekulasi-spekulasi. Kenapa ada obat yang diminum sebelum dan sesudah makan. Namun ada pula obat yang tidak terikat dengan waktu. Beberapa obat dengan sifat dan tujuan pengobatan khusus, hendaknya diminum pada waktu tertentu untuk mencapai efek optimal atau menghindari efek samping.
Obat yang diminum sebelum makan (ante coenam), resorpsi obat berlangsung lebih cepat saat lambung kosong. Obat-obatan yang bertujuan untuk memberikan efek cepat, sebaiknya diminum sebelum makan seperti analgetik kecuali asetosal dan NSAIDs. Selian itu, untuk memperoleh kadar plasma yang lebih tinggi yakni 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan, seperti:
  1. Antibiotik dari kelompok penisilin dan sefalosporin, eritomisin dan spiramisin (Rovamycin), linkomisin dan klindamisin.
  2. Selain dari kelompok tersebut, tonika, penisilamin, asetosal-Ca (Ascal) dan domperidon.
Obat yang diminum setelah makan (post coenam), makanan akan menghambat FPE (perombakan) obat di dinding usus sehingga BA-nya dapat meningkat. Begitu juga akibat makanan, FPE dalam hati dikurangi (propanolol, metoprolol, hidralizin). Banyak obat memiliki sifat merangsang mukosa lambung. dan ada pula yang digunakan untuk mengurangi iritasi. Beberapa contoh obat yang diminum setelah makan diantaranya:
  1. Antidiabetik oral dan antiepileptika
  2. Garam-fero, kalium dan lithium
  3. Antelmintika dan antasida (1/2 jam p.c), vasodilator (teofilin, nikotinat, isoksuprin, hidralizin)
  4. Kemoterapeutika: kotrimoksazol, asam nalidiksat (negram), sulfasalazin, metronidazol dan derivatnya.
  5. Griseofulvin, nitrofurantoin, danazol, halofantrin dan retinoat dapat diserap 2-4 kali lebih banyak jika diminum dengan makanan yang kaya lemak atau susu.
  6. Bifosfonat (etidronat, alendronat, dan lainnya) diikat oleh Ca dalam makanan (susu, keju, hazelnut), begitu juga oleh mineral Fe, Mg, Al (dalam antasida dan laksansia)
  7. Mineralokortikoida dan estrogen menimbulkan retensi Na. Hal ini dapat di atasi dengan makanan yang miskin kandungan Na (Natrium) tetapi pembatasan Na dapat menurunkan ekskresi Ca sehingga terjadi resiko terbentuknya batu ginjal atau pun resorpsi kembali litium proksimal dapat menimbulkan intoksikasi.
  8. Glukokortikoida dan NSAIDs (anti rematik/encok) termasuk asetosal)
  9. Diuretika
  10. Lainnya: bromokriptin, INH, pankreatin, reserpin, spironolaktan dan triamteren.
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker