Tiga Hal Pendorong Untuk Mencintai Seseorang

2
Mencintai adalah pekerjaan yang cukup menyita pikiran dan tentunya perasaan. Dalam mencintai seseorang, niat yang ditanamkan hendaknya lurus yakni karena Allaah. Tingkatan iman yang terjalin secara benar adalah mencintai dan membenci karena Allaah. Ada pun kaidah mencari jodoh yang telah masyhur kita dapatkan adalah berupa kecantikan, nasab keluarga, harta dan agamanya. Dari keempat kriteria tersebut tentu penekanan dalam hal agama adalah yang diutamakan. Setelah keempat syarat tersebut terpenuhi untuk diketahui, langkah berikutnya adalah membangun cinta. Istilah “Jatuh Cinta” kuranglah tepat untuk digunakan karena cinta itu jika dilandasi oleh iman dan taqwa maka justru akan mengangkat derajat manusia, sedangkan cinta yang didasari nafsu maka itulah yang disebut “Jatuh Cinta” karena menyebabkan pelakunya terperosok dalam lubang yang dalam.

Ibnul Qoyyim memberikan tipsnya dalam kitab Roudhotul Muhibbin bahwasanya ada 3 motivasi mendasar dalam membangun cinta. Ketiga tips tersebut diantaranya adalah berupa pandangan, anggapan baik (khusnuzhon) dan memikirkan orang yang dilihat dan keterpautan hati dengannya.

1. Pandangan
Pandangan di sini maksudnya adalah pandangan mata mau pun pandangan hati. Perihal pandangan telah dibahas pada tulisan sebelumnya. Tidak sedikit laki-laki (ikhwan) yang mencintai seorang akhwat (perempuan) hanya karena mendengar atau mengetahui ciri-cirinya saja meskipun ia belum pernah melihat.

2. Anggapan yang baik
Jika pandangan tidak diiringi dengan anggapan baik (khusnuzhon) maka cinta tak akan pernah bersemi.

3. Memikirkan orang yang dilihat dan keterpautan hati denganya
Ada sebuah pepatah mengatakan,”Cinta adalah getaran hati yang tulus”. Dalam syair pun ada yang mengatakan:

Cintanya manghampiri diriku
Sebelum aku mengenal cinta itu
Ia memenuhi hati yang kosong
Maka bersemayamlah cinta didalamnya

Ketiga macam hal di atas jika terjadi pada manusia baik berupa pandangan, husnuzhon, pemikiran dan keterpautan maka seluruh nadinya akan bergetar, orang yang dicintai bisa membunuhnya, penyakit bisa menjangkitinya dan tidak ada seorang dokter pun yang mengetahui obatnya.

Ibnul Qoyyim, Mukhtashor Roudhotul Muhibbin, Pustaka Arafah
Share

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.