Televisi, Pola Kriminalisasi Persepsi Anak Gaya Baru

0
Pendidikan karakter, itulah slogan menteri pendidikan pada kurikulum 2013. Layaknya seorang yang tak paham agama, pendidikan karakter dibuat sedemikian rupa namun bukan berlandaskan pada agama melainkan pada norma atau kebudayaan sebagai karakter bangsa. Ini akan bertolak belakang dengan umat Islam yang setiap perilakunya harus tercermin berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Sebagaimana kita ketahui, dalam setiap pelajaran agama terutama yang bersekolah di sekolah yang berbasis Islam, pelajaran Akhlaq selalu diiringi dengan pelajaran Tauhid sebagai pembukanya.

Maka biasanya materi ‘Aqidah akan selaras dengan Akhlaq. Maksudnya apa, baik-buruknya seseorang akan diukur dari seberapa baik pemahaman Tauhid seseorang itu. Koruptor, pembunuh, pemerkosa atau profesi jahat lain akan kembali pada seberapa jauh pelakunya mengenal Allaah. Pemahaman bahwasanya Allah memiliki Surga dan Neraka yang siap menampung pelaku dosa. Pemahaman sifat-sifat Allah yang Mahabaik, tentu akan membuat seseorang tak jauh dari apa (ilmu) yang ia dapat.

Proses tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi stimulus baik internal mau pun eksternal. Salah satunya sudah pasti adalah apa yang anak tangkap dari mata, telinga, hidung, kulit, lidah dan tentunya nutrisi hati. Islam sebagai satu-satunya nutrisi hati terbaik telah membentuk karakter luar biasa seperti Rosulullaah dan para shohabat. Bagaimana Rosulullah selama hidup menjadi tauladan yang baik dan bahkan sudah Allah jamin dalam ayatnya sebagai berikut:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab: 21)
Rosulullah ‘alayhi sholaatu was salaam pun bersabda:
“Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku, dan sunnah khulafaur rasyidin al mahdiyin setelahku, berpeganglah kepadanya, dan gigitlah dengan geraham dan jauhilah perkara yang diada-adakan, sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Kitabus Sunnah bab Filuzumis Sunnah 4 : 607)
Baru 2 dalil saja semestinya sudah cukup untuk dijadikan bantahan terkait dengan pendidikan karakter. Bahwasanya karakter yang baik adalah karakter yang tercermin dari sumber yang baik pula yakni Al Quran dan As Sunnah.

Lebih jauh daripada itu, para tukang sensor film (baca: Lembaga Sensor Film Indonesia) yang berikan mandat untuk melakukan sensor terhadap film yang tidak pantas pun masih belum menunjukkan kredibilitasnya. Sebut saja film Spongebob, Tom & Jerry, dan lain sebagainya, masih bebas beredar begitu saja. Kenakalan-kenakalan yang ditunjukkan oleh film tersebut akan sangat membekas dalam memori anak. Selain itu, peran walidain (orang tua) dalam mendampingi setiap apa yang disiarkan di televisi memiliki andil besar bagi tumbuh kembang anak. Jangan salahkan anak semata jika pada umurnya yang masih SD sudah berani menonton film dewasa, lantas masa SMP sudah berani berhubungan intim dengan wanita, kemudian masa SMA sudah berani membunuh temannya. Tepat sekali strategi musuh Islam dalam merusak generasi Islam. Mereka menjauhkan generasi Islam dari Islam sehingganya Islam hanya tinggal nama.

Kaum Muslimin memang tampaknya terbesar di negara ini namun kuantitas bukanlah indikator merdeka. Kaum Muslimin hidup di bawah kepungan musuh. Semua media menjadi ajang berlomba-lomba merusak umat. Televisi, sebuah media jitu dalam mendangkalkan ‘Aqidah umat Islam. Mulai dari film musyrik sekelas Raden Kian Santang hingga film kolosal yang aneh yaitu Mahabarata yang membius jutaan kaum Muslimin hingga melupakan waktu sholat hanya untuk menonton film murahan seperti itu.
Semoga Allah menunjukkan kebenaran dan kebesarannya. Islam adalah agama yang baik dan selalunya mengajarkan kebaikan dan di’amalkan pula oleh orang-orang yang baik.
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.