Prinsip-Prinsip Dasar Farmakokinetika

1

Sebagaimana dijelaskan secara singkat sebelumnya bahwa famakokinetik adalah proses yang dilakukan tubuh terhadap obat yang dikonsumsi baik itu resorpsi, transportasi, biotransformasi (metabolisme), distribusi dan ekskresi. Pada setiap proses tersebut, obat mengalami perubahan-perubahan dan kecepatan berbeda-beda. Tubuh manusia dapat diibaratkan sebagai ruang besar yang terdiri dari beberapa kompartimen (bagian) yang berisi cairan dan antarkompartimen itu dibatasi oleh membran sel. Kompartimen yang terpenting adalah saluran lambung-usus, sistem sirkulasi, ruang ekstrasel, intrasel dan ruang cerebrospinal. Membran sel terdiri dari suatu lapisan (lipoprotein) yang terdapat banyak pori-pori kecil dan berisi air. Membran ini dapat dilalui oleh zat-zat tertentu saja sehingga disebut membran semipermeabel.

Dalam farmakokinetik, perjalanan obat di dalam tubuh melalui beberapa tahapan. Setiap prosesnya, obat mengalami perubahan-perubahan hingga tujuan dari obat itu tercapai dan akhirnya dikeluarkan dari tubuh.

Sistem Transport

Obat diolah sedemikian rupa sehingga dapat dikirimkan ke lokasi mana ia bekerja dalam tubuh. Sistem transport ini bisa berupa lokal mau pun sistemik sebagaimana penjelasan pada tulisan sebelumnya. Sistem transport dibagi dalam 2 pola yakni transport aktif dan dan transport pasif. Transport aktif memerlukan energi. Pada transport aktif, obat mengikat zat hidrofil (ion) pada sel carrier. Energi ini untuk melintasi membran. Setelah membran terlewati, obat akan dilepaskan kembali. Beberapa zat yang juga menggunakan metode transport aktif ini adalah glukosa, asam amino, asam lemak dan beberapa zat serupa. Beberapa obat yang juga menggunakan transport aktif seperti garam besi, metildopa, vit B1, B2, B12 dan obat-obat sejenis.

Reabsorpsi

Penyerapan obat dalam usus untuk kemudian dialihkan ke sirkulasi berlangsung dengan filtrasi, difusi atau juga transport aktif. Molekul besar seperti lemak, diangkut dengan sistem limfe. Kecepatan penyerapan obat tergantung pada bentuk sediaan obat, cara pemberian dan sifat fisiko-kimiawinya. Obat dalam bentuk cair akan lebih cepat diserap sedangkan yang bentuk padat akan lebih lambat karena harus dipecah terlebih dahulu. Semakin halus obat maka semakin cepat larut dan diserap.

Pemberian obat secara IV Line dapat dikatakan yang paling cepat karena langsung larut dalam darah. Efek lebih lambat akan dirasakan jika diberikan melalui IM dan jauh lebih lambat lagi jika melalui SC.

Obat yang diberikan secara oral akan diresorpsi oleh lambung-usus. Mayoritas obat bersifar asam atau basa organik lemah yang dalam larutan cair megalami disosiasi menjadi ion. Molekul yang tak terionisasi dan utuh bersifat lipofil dan lebih mudah diresoprsi daripada ion-ion yang sangat hidrofil.

Obat seperti asetosal dan barbital yang bersifat asam lemah hanya sedikit sekali terurai menjadi ion dalam lingkungan asam kuat dalam lambung sehingga resorpsinya baik. Sebaliknya jika basa lemah terionisasi baik pada PH lambung dan hanya sedikit diresorpsi sepperti amfetamin dan alkaloida. Dalam usus halus berlaku kebalikannya yaitu basa lemah yang diserap paling mudah misalnya alkaloida.

Usus besar mengandung terlalu sedikit ait untuk melarutkan obat yang belum larus dalam usus halus. Dalam usus besar pun tak ada Villi sehingga transport aktif tidak terjadi.

Share

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.