Pengertian & Penyebab Trauma Abdomen

Trauma abdomen menjadi bahasan yang penting dalam kaitannya kegawatdaruratan. Betapa bahayanya trauma pada bagian perut ini yang tanpa sadar terkadang diremehkan. Perdarahan, menjadi salah satu penyebab utama seseorang menghembuskan nafas terakhirnya. Trauma abdomen begitu bahaya karena tak tampak oleh mata. Tanpa disangka sebelumnya pasien yang tampak biasa-biasa saja awalnya tiba-tiba mengalami shock hipovolemi. Secara anatomi, bagian abdomen terutama bagian depan hanya dilapisi oleh dinding depan abdomen yang meskipun ketebalannya lumayan bisa meredam benturan ringan namun jika benturannya keras maka bisa dipastikan tidak akan kuat menahan. Di samping itu, lapisan yang melindungi pun sifatnya lunak, berbeda dengan rongga dada (thorax) yang berupa tulang.
Pada sisi atas abdomen, bisa kita temukan yang namanya diafragma. Diafragma ini adalah lapisan pembatas antara rongga thorax (dada) dengan rongga perut (abdomen). Diafragma ini elastis sehingga saat inspirasi dan ekspirasi, ia akan naik turun. Saat ekspirasi, diafragma ini akan naik bahkan hingga intercostae (antar iga) ke-4. Pada kondisi normal, kira-kira setinggal papila mamae laki-laki. Oleh karenanya, jika seorang mengalami trauma baik tumpul atau tajam setinggi intercoste ke-4 itu, perlu diwaspadai telah terjadi trauma abdomen pula.

Dalam rongga abdomen, terdapat 2 organ tubuh yang tidak terlindungi oleh lumen. Organ tersebut adalah Hepar dan Limpa. Kedua organ ini jika terkena trauma, dapat terjadi perdarahan yang akan terkumpul dalam rongga Peritonium. Keadaan perdarahan dalam Peritonium ini disebut Hemoperitonium. Selain itu, organ lain dalam rongga peritoneal yang memiliki lumen ada Gaster (Lambung), Usus Halus dan Usus Besar yang memiliki lumen. Jika terjadi perforasi (lubang), isinya akan tumpah dalam rongga peritoneum dan menimbulkan peritonitis.
Trauma abdomen pun ada beberapa macam. Ada trauma tumpul dan trauma tajam. Trauma tumpul di sini maksudnya adalah dinilai dari penyebab trauma. Trauma benda tumpul mengakibatkan rusaknya organ padat atau berongga yang menyebabkan ruptur (robekan atau hilangnya sebagian jaringan) dengan perdarahan sekunder dan peritonitis. Pada pasien yang dilakukan Laparotomi (tindakan operasi lapisan peritoneum) akibat trauma benda tumpul, organ yang paling sering mengalami kerusakan adalah limpa, hati dan hematoma retroperitoneum.
Trauma benda tajam diakibatkan oleh beda tajam yang mengoyak rongga abdomen. Luka tajam dapat berupa tusukan dan luka tembak. Hal ini mengakibatkan kerusakan jaringan karena laserasi atau terpotong. Luka tembak kecepatan tinggi mengalihkan lebih banyak energi pada organ abdomen mengingat peluru mungkin berguling atau pecah sehingga menambah efek cedera yang lebih berat.
Gambar:
quincymedgroup.com
trauma.org
Share

This website uses cookies.