MUI Tak Setuju Kolom Agama Di KTP Dihapus Tapi Setuju Dikosongkan

Pekan lalu, MUI melontarkan argumen terkait dengan wacana penghapusan kolom agama dalam KTP. Setidaknya ada 3 media Nasional yang memberitakan judul serupa. Diberitakan oleh Republika Online dengan judul “MUI Tolak Penghapusan Kolom Agama Di KTP” 5 hari lalu. Dalam berita tersebut dikutip,”Kami memutuskan menolak rencana atau gagasan penghapusan kolom agama
pada KTP,” kata Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Umar Shihab usai
memimpin rapat terkait permasalahan tersebut di Kantor MUI, Jakarta,
Kamis (13/11).
Wakil ketua umum MUI, KH Ma’ruf Amin menambahkan, penulisan nama agama pada kolom KTP merupakan salah satu identitas
pribadi, yang dilindungi UU Nomor 24/2013. Karena itu, setiap warga
negara yang memiliki agama sesuai dengan ketentuan tersebut, wajib
mencantumkannya di dalam kolom KTP. Beliau mengharuskan semua warga negara yang menganut agama yang sah menurut undang-undang (thoghut) 1945 maka wajib mencatumkan namun jika tidak termasuk didalamnya maka boleh dikosongkan.
Pada hari yang sama, Kompas.com memberitakan dengan judul yang sama. Kedua media nasional tersebut mencantumkan sumber berita yakni dari Antara (stasiun berita nasional).
Lain halnya dengan Tempo.com, di dalam Tempo judul yang diangkat adalah “MUI Setujui Pengosongan Kolom Agama Di KTP”. Dua judul yang berbeda namun konten yang disajikan sama. Satu hal lagi yang berbeda dari berita di Tempo adalah sumber berita tersebut tidak dicantumkan sebagaimana di Republika dan Kompas padahal isinya sama saja.
Terlepas daripada itu, pernyataan sikap MUI tersebut tidak menutup kemungkinan juga akan menimbulkan reaksi dari masyarakat. Jika agama tidak disahkan boleh masuk ke negara ini tanpa adanya kejelasan ajaran yang dianut seseorang lantas bagaimana jika pemahamannya itu justru mengamcam agama lain. Sebut saja syi’ah, ia tidak ada dalam daftar agama yang disahkan namun karena tidak ada penegasan harus dicantumkan maka mereka akan leluasa menyebarkan pemahamannya yang nista dan keji. Kasus Suriah yang hingga kini tak kunjung usai, tak lain dan tak bukan karena kekejaman syi’ah membantai umat Islam. Agama yang sudah disahkan saja seperti Budha, dengan kejamnya membantai Muslim Rohingnya lantas bagaimana pula jika agama itu sudah tidak masuk agama yang diterima pemerintah bisa berlenggak-lenggok di bumi pertiwi ini.

Pos terkait