Melawan Hawa Nafsu Untuk Menaati Allah

1
Kemaksiatan, sebagaimana sudah penulis rangkumkan buah karya Syaikh Mush’ab Az Zarqowy rohiimahullah dengan judul “Lemah Nyali Dan Perbuatan Maksiat Menunda Kemenangan“. Hendaknya pada tiap diri kita mulai introspeksi apa yang telah membuat perjuangan iqomatud dyn amatlah menemui halang rintang yang berat. Di samping karena memang tabiat dakwah itu penuh dengan kelembutan dan tabiat jihad itu penuh dengan tipu daya dan pengorbanan. Islam adalah agama yang mulia dan sejarah membuktikan bahwa Islam diusung dan tegak di atas pundak orang-orang yang mulia. Pundak yang telah berkali-kali dihujani terik panas mentari, hujan badai atau pun kilat petir.

Hawa nafsu, sering kali menjadi kambing hitam dalam sebuah perbuatan dosa. Sejatinya nafsu itu bukanlah sesuatu yang tak bisa dikekang. Generasi salaf terbukti mampu melakukan hal itu, meskipun tentunya amatlah berat i’dad yang mereka lakukan.

Sebuah kitab kecil terbitan Aqwam yang berjudul “Sudahkah Anda Bertaqwa?”, memikat mata saya untuk mencoba bersahabat dengannya. Kitab yang berjudul asli “Ad Durroh Al Mafquudah Wal Ghooyah Al Mansyuudah” karya Syaikh Ahmad Farid ini begitu syarat akan ilmu.

Sebuah bab yang memikat hati saya yakni “Mengalahkan Hawa Nafsu dan Menaati Allah”. Dituliskan dalam kitab tersebut pendapat beberapa ‘ulama.

Syaikh Mushofa As Siba’i berkata,”Jika nafsumu berkeinginan untuk bermaksiat maka ingatkanlah ia pada Allaah. Jika belum mau mundur (dari maksiat) maka ingatkanlah pada akhaq para rijal (salaf). Jika belum mau undur diri juga maka ingatkanlah aibnya jika diketahui orang banyak, Jika belum mau meninggalkannya maka ketahuilah bahwa pada saat itu Anda telah berubah menjadi hewan”. (‘Allamtaniyal Hayaah hlm 32, dinukil dari catatan pinggir Risaalatul Mustarsyidin, Al Muhasibi hlm 160, tahqiq dan ta’liq: ‘Abdul Fattah Abu Ghoddah, Darussalam.)

Ibnul Qoyyim berkata,”Pengatur segala urusan adalah kecintaan kepada Allaah, ingin melihat wajah-Nya dan mendekat kepada-Nya dengan berbagai macam sarana. Selain itu juga  rasa rindu untuk sampai dan bertemu denganNya. Jika seorang hama belum memiliki keinginan seperti itu maka pengaturnya adalah kecintaan kepada surga dan kenikmatannya serta apa yang Allaah persiapkan bagia para waliNya. Jika ia tak memiliki keinginan yang tinggi yang mampu menggerakkannya hendaknya ia merasa takut kepada neraka dan apa yang Allaah persiapkan bagi orang mendurhakaiNya. Jika semua itu belum mampu untuk mengendalikan nafsunya hendaknya ia ketahui bahwa dirinya diciptakan untuk neraka bukan untuk surga. Ia bisa meraih kenikmatan itu melalui taqdir dan bimbingan Allaah, hanya dengan menyelisihi hawa nafsunya”.

Allaah berfirman dalam ayat 37-41 suroh An Nazi’at:

فَأَمَّا مَنْ طَغَى
Adapun orang yang melampaui batas,
وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,
فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya).

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).

(Roudhotul Muhibbin hal. 401-402)

Firman Allaah dalam Al Qoshosh: 50 yang berbunyi:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Ibnul Qoyyim juga menerangkan dalam kitab tersebut bahwa manusia dibagi dalam 2 kelompok berdasarkan sikap Ittiba’ (pengikuti). Kelompok pertama adalah mereka yang mengikuti petunjuk Rosul (Ittiba’ur Rosul) sedangkan kelompok kedua adalah pengikut hawa (Ittiba’ul Hawa). Jika orang sudah mengikuti salah satu di antara keduanya maka ia tak akan menjadi kelompok selain itu.

Ibnul Jauzy berkata,”Waspadalah terhadap maksiat, sebab amatlah buruk akibatnya. Waspadalah juga dosa, khususnya yang tersembunyi. Sungguh menentang Allaah itu akan menjatuhkan seorang hamba dari mataNya. Hanya orang yang selalu lalai yang dapat merasakan nikmatnya maksiat. Sedangkan orang mu’min yang selalu tersadar ia tidak merasakan nikmatnya maksiat sebab ketika menikmatinya, ilmunya yang menyatakan bahwa itu haram akan menghentikannya dan memperingatkan dari siksanya. Jika pengetahuannya kuat, ia melihat kedekatan Dzat yang melarang yakni Allaah dengan mata ilmunya. Ia menyadari bahwa hidupnya akan terasa susah pada saat menikmati maksiat. Jika dikalahkan oleh mabuknya hawa nafsu maka hatinya merasa risih dengan pengawasan ini. Jika tabiatnya cenderug menuruti nafsunya, itu pun hanya sebentar. Kemudian ia merasa hina, terus-menerus menyesali apa yang telah terjadi sambil menangis dan menyayangkannya sepanjang masa. Bahkan andai ia yakin mendapat ampunan, ia tetap menjauhinya karena mewaspadai celaan yang akan ia terima. Katakan “tidak” untuk dosa!. Betapa buruknya akibatnya! Betapa jelak beritanya, keinginan melakukannya hanya ditopang oleh kuatnya kelalaian”. (Shoidul Khoothir, Ibnul Jauzi, hlm 129, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah)

“Ketahuilah bahwa bersabar dari menuruti syahwat itu lebih mudah dibanding bersabar dari akibatnya. Sebab akibat syahwat itu adakalanya berupa sakit dan siksa, kesedian yang memutus kenikmatan yang lebih sempurna darinya (syahwat). Adakalanya menyia-nyiakan waktu yang berakibat kerugian dan penyesalan. Merusak kehrmatan yang menjaganya lebih bermanfaat daripada menodaiinya. Menghabiskan harta yang keberadaannya lebih baik daripada sirnanya. Merendahkan kedudukan yang menegakkan lebih mulia daripada merendahkannya. Merampas nikmat, yang kelanggengannya lebih nikmat daripada sekedar melampiaskan syahwat”, kata Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa-id hlm, 182-183, Darud Da’wah.

Motivasi manusia meninggalkan dan menjauhi maksiat beraneka ragam. Ada di antara kita yang meninggalkan maksiat memang karena Allaah namun ada pula yang karena sebab yang lainnya.

1. Perasaan khosyyah

Kecintaan dan pengagungan kepada Allaah ada alasan untuk tidak melakukan maksiat. Tidak ingin menyelisihi perintahNya dan melanggar laranganNya. Rasa takut kepada Allah adalah salah satu motivasi taqwa yang paling utama. Hingga ada yang berkata,”Aku lebih suka jika kulitku dipotong-potong dengan gunting asalkan semua manusia taat kepada Allaah”.

2. Kecintaan pada negeri akhirat
Rosuulullaah ‘alayhi sholaatu was salaam bersabda:

“Siapa yang minum khomr di dunia, ia tidak akan meminumnya di akhirat kecuali bila bertobat”
(Riwayat Bukhory: X/30, Muslim: XIII/173, Malik: II/846, Abu Dawud no. 3662, At Tirmidzi: VIII/48, An Nasa-i: VIII/318)
Menikmati sesuatu yang diharamkan di dunia akan dapat menutup kesempatan menikmatinya secara halal di akhirat kelak. Allah tidak pernah menyamakan orang yang menghabiskan kebaikan-Nya untuk bersenang-senang di dunia seperti orang yang menahan diri dari kenikmatan dunia sampai hari berbuka jika bertemu dengan Allaah.

Engkau berada di negeri perpisahan
Maka persiapkanlah untuk hari perpisahanmu
Jadikanlah duniamu sebagai hari
Kekika kamu berpuasa dari syahwatmu
Sedang berbukanya adalah pada hari kematianmu
Ketika engkau bertemu dengan Robbmu

 

3. Takut akan neraka dan murka Allah

Jikalau benteng taqwa tidak tergerak mengatur kami
Maka rasa cemas akan menggantikannya sebagai penghalaunya

Tak ada kebakan bagi orang yang tidak merasa diawasi oleh Robbnya
Dan tidak merasa takut karena keimanannya
Taqwa telah menutup seluruh jalan nafsu maka orang yang bertaqwa akan merasa takut kehinaan dari kiamat.

4. Takut akan celaan dan aib
Hal ini akan timbul karena masih adanya sifat malu dalam diri seorang muslim. Jika semua manusia tidak merasakan malu lagi maka entah apa yang akan terjadi. Perzinaan di pinggir-pinggir jalan akan menjadi hal yang biasa. Miras beredar di warteg-warteg dan lain sebagainya.

Setiap kali nafsuku mengajak berbuat jahat
Maka rasa mau dan harga diriku menghalaunya
Tak pernah kuulurkan tanganku untuk berbuat jahat
Demikian pula kakiku tak pernah melangkah menuju perbuatan dosa

5. Akan datangnya dampak buruk, musibah dan siksa

Banyak orang yang berbuat kemaksiatan untuk memperoleh kenikmatan
Lalu mati dan merasakan berbagai bencana seorang diri
Kenikmatan maksiat telah sirna dan terputus
Sedang akibat perbuatannya masih utuh seperti sedia kala
Alangkah buruknya sedang Allaah Mahamelihat dan Mendengar
Kepada hamba yang takut berbuat maksiat karena pengawasanNya.

6. Meninggalkan maksiat karena ‘iffah (menahan diri)
7. Meninggalkan kemaksiatan karena maksiat akan merendahkan harga diri dan kekesatriaan
8. Ada pula di antara orang yang meninggalkan maksiat karena semata-mata malu kepada manusia dan sama sekali tidak malu kepada Allaah. Inilah tingkatan terendah sebagaimana dikatakan:
Bukan ‘iffah yang membuatku menahan diri tapi aku adalah teman dekat suaminya sehingga aku merasa malu.
Share

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.