Hukum Membatalkan Khitbah (Pinangan)

Senyumperawat.com – Khitbah atau pinangan bukanlah sebuah ikatan, ia hanya janji untuk mengikat sesuatu sedangkan janji untuk mengikat sesuatu itu tidak selalu harus terlakssana menurut jumhur ‘ulama. Oleh karenanya, wali perempuan boleh saja menarik kembali pinangan jika dilihat mashalatnya lebih besar. Wanita yang dikhitbah pun tidak salah jika menarik kembali janjinya jika merasa maslahat dengan mengundurkan diri tersebut lebih baik daripada dilanjutkan. Pernikahan adalah ikatan seumur hidup, oleh karenanya harus berhati-hati dalam menentukan pasangan.

Perlu diperhatikan baik-baik bahwasanya membatalkan khitbah baik dari pihat ikhwan atau akhwat, harus memiliki hujjah yang kuat. Jika kedua belah pihak sudah paham konsekuensi dari khitbah yakni bisa saja dibatalkan sewaktu-waktu maka mungkin saja tidak akan bermasalah namun ada pula mereka yang biar pun sudah mengaji bertahun-tahun ketika ditolak atau dibatalkan khitbahnya kemudian memusuhi pihak lainnya dan bahkan mengumbar aib keluarganya. Oleh karenanya, alasan kenapa pinangan itu dibatalkan harus jelas terutama persoalan agama.

Syaikh Nada Abu Ahmad menerangkan dalam buku Al Khitbah, Ahkam wa Adab yang telah terbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Kiswah bahwa ada beberapa perbedaan hukum terkait dengan pembatalan khitbah berdasarkan pada penyebabnya. Penjabarannya sebagai berikut:

  1. Jika pembatalan tersebut karena tujuan yang benar maka hal itu tidak makruh.
  2. Jika pembatalan tersebut tidak ada sebabbnya maka hal itu makruh karena dapat membuat hati orang lain hancur. Bahkan pembatalan tersebut bisa sampai ke tingkatan haram yaitu jika pihak wanita (akhwat) telah menaruh kecenderungan kepada pihak ikhwan, sementara para peminang yang lain telah tertutup jalannya untuk meminang dirinya kemudian si peminang itu membatalkan pinangannya. Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika dipercaya ia khianat dan jika berjanji ia menyelisihi”. (Bukhory & Muslim)
  3. Jika pembatalan tersebut disebabkan oleh adanya peminang lain yang datang kepadanya maka hal itu adalah haram.

Oleh karena itu, perlu pertimbangan yang baik tatkala mengawali dan juga akan mengakhiri. Permasalahan akan lebih rumit jika kedua belah pihak tidak memahami akan hal ini.

Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker