Contoh Materi Penyuluhan Praoperatif

Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hmpir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan.
Ada 3 faktor penting yang terkait dalam pembedahan yaitu penyakit pasien, jenis pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. Dari ketiga faktor tersebut, faktor pasien merupakan hal yang yang paling penting karena banyak penyakit tersebut tindakan pembedahan adalah hal yang baik dan benar. Tetapi bagi pasien sendiri pembedahan mungkin merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mengingat hal tersebut di atas, maka sangatlah penting untuk melibatkan pasien dalam setiap langkah-langkah perioperatif. Tindakan perawatan perioperatif yang berkesinambungan dan akan sangat berpengaruh terhadapnya suksesnya pembedahan dan kesembuhan pasien.

1. Latihan pra operasi
a. Latihan Nafas Dalam
Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  • Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk dan perut tidak boleh tegang.
  • Letakkan tangan di atas perut.
  • Hirup udara sedalam mungkin dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup rapat.
  • Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut.
  • Lakukan hal ini berulang kali (15 kali). Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif.
b. Latihan Batuk Efektif
Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan anstesi general karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teranastesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan karena akumulasi sputum di tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara:

  • Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang di atas incisi sebagai bebat ketika batuk.
  • Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali).
  • Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan mengandalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada tenggorokan. Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap insisi.
  • Ulangi lagi sesuai kebutuhan. Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.
c. Latihan Gerak Sendi
Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Pasien atau keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut (flatus). Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.
2. Perubahan Posisi dan Gerakan Tubuh Aktif
Tujuan peningkatan pergerakan tubuh secara hati-hati pada pasca operatif adalah untuk memperbaiki sirkulasi, untuk mencegah statis vena dan untuk menunjang fungsi pernapasan yang optimal. Pasien ditunjukkan bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi lainnya dan cara untuk mengambil posisi lateral. Posisi ini akan digunakan pada pasca operatif (bahkan sebelum pasien sadar) dan dipertahankan setiap dua jam.
Latihan extermitas meliputi fleksi dan extensi lutut dan sendi panggul (sama dengan mengendarai sepeda selama posisi berbaring miring). Telapak kaki diputar seperti membuat lingkaran sebesar mungkin menggunakan ibu jari kaki. Siku dan bahu juga dilatih ROM. Pada awalnya pasien akan dibantu dan diingatkan untuk melakukan latihan ini, tetapi selanjutnya dianjurkan untuk melakukan latihan secara mandiri. Perawat tetap diingatkan untuk tetap menggunakan mekanik tubuh yang tepat dan menginstruksikan pasien untuk melakukan hal yang sama.
3. Kontrol dan Medikasi Nyeri
Pasien diberitahukan bahwa medikasi pre anastesi akan diberikan untuk meningkatkan relaksasi dan menyebabkan rasa mengantuk dan kemungkinan haus. Pada pasca operatif, medikasi akan diberikan untuk mengurangi nyeri dan mempertahankan rasa nyaman tetapi bukan untuk mencegah aktivitas yang sesuai atau pertukaran udara yang adekuat. Metode yang diantisipasi mengenai pemberian agens anestesi (seperti PCA, epidural) dibicarakan pada pasien sebelum pembedahan serta dikaji keinginan pasien untuk berpartisipasi dalam penerapan metode tersebut.
Antibiotik profilaksis mungkin akan diberikan dalam kasus spesifik. Seringkali sefalosporin dipilih karena agens ini mempunyai toksisitas dan spektrum kerja luas. Akan tetapi, penggunaan antimikrobial profilaksis jangka pendek atau dosis tunggal untuk prosedur bedah bersih harus ekstra hati-hati dipertimbangkan karena penggunaannya dapat menyebabkan peningkatan koloni bakteri.
4. Persiapan kulit pra operatif
Tujuan dari persiapan kulit pra operatif adalah untuk mengurangi sumber bakteri tanpa mencederai kulit. Sebelum pembedahan, pasien harus mandi air hangat dan relaksasi serta menggunakan sabun Betadin. Tujuan menjadwalkan mandi pembersihan sedekat mungkin dengan waktu pembedahan adalah untuk mengurangi resiko kontaminasi kulit terhadap luka bedah. Amat disarankan agar kulit dan sekitar letak operasi tidak dicukur. Selama mencukur kulit mungkin mengalami cedera oleh silet dan menjadi pintu masuk untuk bakteri; jaringan yang cedera ini dapat bertindak sebagai substrat untuk petumbuhan bakteri. Selain itu, makin jauh interval waktu antara bercukur dan operasi, makin tinggi angka infeksi luka pasca operatif.
Banyak ahli bedah menyukai rambut dibersihkan dari area yang akan dioperasi dengan menggunakan alat cukur listrik. Selain itu adalah dengan menggunakan krim penghilang rambut. Senyawa kimia (krim untuk melepaskan rambut) aman untuk mempersiapkan kulit guna keperluan bedah. Beberapa keuntungan menggunakan krim penghilang rambut adalah kulit bersih, halus dan utuh. Goresan, abrasi, terluka dan pembuangan rambut yang tidak adekuat dapat dicegah. Krim penghilang rambut ini lebih efektif dan lebih aman untuk digunakan pada pasien-pasien yang tidak kooperatif. Kerugian metode ini adalah bahwa beberapa pasien mengalami reaksi kulit sementara jika krim ini dioleskan dekat daerah rektal dan skrotum.
5. Nutrisi dan cairan
Bila pembedahan dijadwalkan untuk pagi hari, makanan kecil mungkin diperbolehkan pada malam sebelumnya. Pada pasien dehidrasi, dan terutama pada pasien lansia, cairan per oral seringkali dianjurkan sebelum operasi dilakukan. Selain itu, cairan mungkin akan diresepkan secara intravena, terutama pada pasien yang tidak mampu minum. Jika pembedahan dijadwalkan siang hari dan tidak melibatkan bagoan saluran gastrointestinal mana pun, sarapan pagi lunak bisa saja dberikan. Seringnya, masukan makanan atau air per oral harus sudah tidak diberikan 8 sampai 10 jam sebelum operasi.
Tujuan menunda pemberian makanan sebelum pembedahan adalah untuk mencegah aspirasi. Aspirasi terjadi ketika makanan dan air mengalami regurgitasi dari lambung dan masuk ke dalam sistem paru. Material yang terhirup tersebut bertindak sebagai benda asing, yang mengiritasi dan menyebabkan reaksi inflamasi yang mengganggu pertukaran udara yang adekuat.
Pustaka
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah : Brunner Suddarth, Vol 1. Jakarta: EGC.
Effendy, Christantie. 2002. Handout Kuliah Keperawatan Medikal Bedah : Preoperatif Nursing, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
Shodiq, Abror. 2004. Operating Room, Instalasi Bedah Sentral RS dr. Sardjito Yogyakarta, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta: EGC.
www.elearning.unej.ac.id
Share

This website uses cookies.