Contoh LP (Laporan Pendahuluan) DHF

2
Pengertian
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (betina).
Etiologi
Virus dengue serotif yang ditularkan melalui vektor nyamuk aedes aegepty, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis.
Pathways
Manifestasi Klinis
  • Patokan WHO ( 1975 )untuk menegakkan diagnosa DHF adalah :
  • Demam tinggi dan terus menerus selama 2-7 hari
  • Manifestasi perdarahan, termaksuk setidak-tidaknya uji torniquet positif dan salah satu betuk lain ( petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi )
  • Pembesaran hati
  • Renjatan yang ditandai nadi lemah, cepat disertai tekanan darah menurun ( tekana sistolik menjadi 80 mmHg dan diastolik 20 mmHg atau kurang ) disertai kulit yang eraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, penderita gelisah, timbul sianosis disekitar mulut.
Derajat Klasifikasi DHF
  • Derajat Ringan, bila demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klinik lain dan manifestasi perdarahan yaitu tes torniquet positif.
  • Derajat Sedang, dengan gejala lebih berat I, disertai perdarahan kulit, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis atau melena. Terdapat gangguan sirkulasi darah perifer yang ringan berupa kulit dingin dan lembab, ujung jari dan hidung dingin.
  • Derajat Berat, ditemukan kegagalan sirkulasi, nadi cepat dan lemah, hipotensi gelisah, syanosis sekitar mulut dan tanda-tanda dini renjatan.
  • Berat sekali, penderita syok berat, tensi tidak teratur, dan nadi tidak lemah.
Pemeriksaan Penunjang
  • Pemeriksaan darah,
  • uji serologi,
  • Isolasi virus,
  • air seni
Pengkajian
1. Subjektif:
  • Identitas
  • Keluhan utama
  • Riwayat kesehatan sekarang
  • Riwayat kesehatan dahulu
  • Riwayat kesehatan keluarga
  • Riwayat imunisasi
  • Riwayat kehamilan, persalinan
  • Riwayat tumbuh kembang
  • Riwayat psikologi
  • Pola kebiasaan sehari-hari
2. Objektif:
  • Pemeriksaan umum: Keadaan umum, kesadaran, nadi, suhu
  • Pemeriksaan fisik: Kepala, mata, mulut, dada, perut, genitalia
  • Pemeriksaan penunjang: Laboratotium
Diagnosis
  • Kekurangan volume cairan dan elektrolit b.d kehilangan volume cairan secara aktif
  • Nyeri akut b.d agen cidera biologis
  • Hipertermi b.d proses penyakit
Penatalaksanaan
  • Tirah baring atau istirahat baring
  • Diet makana lunak : bila belum ada nafsu makan dianjurkan untuk minum banyak 1,5-2 liter dalam 24 jam ( susu, air, the dengan gula atau sirup ).
  • Medika mentosa dan bersifat simtomatis : untuk hiperpireksi dapat diberikan kompres es dikepala, ketiak, dan inguinal. Antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminofen, eukinin, atau dipiron. Hindari pemakaian asetosal karena bahaya perdarahan.
  • Antibiotik diberikan bila bila didapat kekawatiran infeksi sekunder.
  • Pemberian cairan intra vena ( rl, nacl, asering )
  • Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam sekali, jika memburuk observasi tiap 1 jam sekali.
  • Periksa hb, ht, dan trombosit setiap hari
  • Monitor tanda-tanda dini renjatan, bila renjatan berikan infuse guyur
  • Bila terjadi kejang diberi diazepam, berikan tranfusi bila dibutuhkan
  • Tranfusi darah dengan syok
Daftar pustaka
Jitowiyono. Sugeng., Asuhan Keperawatan Neonatus dan Anak. 2010. Yogyakarta: Nuha Medika
Mansjoer. Arif., Kapita Selekta Kedokteran. 2000. Jakarta: Media Aesculapius
Oswari. E., Penyakit dan Penanggulangannya, 2003. Jakarta: FKUI
https://www.scribd.com/doc/36750849//Askep.DHF

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar