Batasan Melihat Foto Akhwat Saat Khitbah

0
Khitbah atau meminang seorang akhwat untuk dijadikan istri memiliki tata cara tersendiri dalam Islam. Semasa ta’aruf pun, hubungan kedua belah pihak senantiasa dijaga. Dalam proses perkenalan (ta’aruf), diperbolehkan kedua belah pihak baik ikhwan mau pun akhwat untuk memandang wajah masing-masing. Batasannya sudah tentu secukupnya saja bukan pandangan nafsu melainkan pandangan yang dapat membuatnya yakin memilih lanjut atau tidak. Batasan melihat foto akhwat saat khitbah tentu harus dipahami dengan sebaik mungkin.

DR. ‘Umar Al Asyqor menjelaskan bahwa orang yang akan meminang boleh melihat foto wanita yang akan dipinang, baik berupa foto cetak mau pun video karena ini termasuk dalam keumuman dalil yang menganjurkan melihat apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya. Hal ini ditekankan lagi dalam kondisi dimana wanita yang akan dipinang berada di tempat yang jauh dari laki-laki yang akan meminangnya”. (Ahkamuz Zawaj, hal 61)

Setelah diperbolehkannya melihat foto dari akhwat yang akan dikhitbah maka yang perlu diperhatikan adalah rambu-rambu agar tidak terjerumus ke dalam hal yang tidak diinginkan. Syaikh Nada Abu Ahmad menjelaskan dalam Al Khitbah, Ahkam wa Adab yang diterjemahkan dan diterbitkan lagi oleh Kiswah Media, beliau menerangkan ada 4 batasan diperbolehkannya melihat foto seorang yang akan dikhitbah.

Ada pun keempat rambu-rambu batasan melihat foto akhwat diantaranya:
  1. Harus ada niat yang benar serta antusias untuk menikah
  2. Setelah dilihat, foto tidak boleh dibiarkan berada di tangan pihak laki-laki (ikhwan)
  3. Fotonya sesuai dengan hukum Islam sebab sebenarnya gambar itu menurut hukum Islam dilarang oleh berbagai dalil yang menunjukkan keharamannya
  4. Melihat foto merupakan kondisi pengecualian sebab pada dasarnya nazhor harus dilakukan secara nyata (bertemu langsung jika dekat atau langsung berkunjung ke rumah)
Penting untuk dicatat, dalam memberikan foto pun jika memang sudah sesuai prosedur, jangan menggunakan foto hasil editing. Hal ini karena foto itu terkadang menipu sehingga seorang yang difoto tidak terlihat seperti aslinya. Selain itu, foto pun lebih berbahaya. Jika seorang akhwat memberikan foto tersebut kepada ikhwan yang dapat dipercaya maka tidak terlalu dikhawatirkan namun jika ternyata yang melihatnya adalah ikhwan yang kurang baik bisa saja foto tersebut disalahgunakan.

Tinggalkan Komentar