Acara Tv Kartun Pagi Dan Sore Mendidik Anak Jadi Pemalas

0

Senyumperawat.com – Televisi, selain merupakan media penyiaran terbaik, ia juga termasuk metode pembentukan persepsi yang jitu. Survei yang saya lakukan terhadap fanpage saya setelah kurang lebih satu tahun durasi survei, posting yang syarat dengan audio visual sangatlah banyak diminati. Jika kita update sebuah tulisan maka jangkauan yang dicapai masih kalah dibandingkan dengan sebuah gambar. Namun gambar akan jauh berbeda jangkauannya dibandingkan dengan video. Dalam hukum dunia marketing pun telah tersirat bahwasanya promosi yang paling menyerap banyak peminat adalah berupa audio visual atau video, namun tentu harganya paling mahal.

Anak adalah sebuah kertas putih yang beru dicetak. Ia sangat rentan ternoda. Sekali noda itu merubah warna kertas maka untuk membuatnya putih kembali seperti semula tidaklah mudah. Semua itu perlu perhatian yang mendalam bagi para walidain (orang tua). Kian hari acara televisi semakin membuat geram. Mulai dari tayangan syirik hingga tayangan percintaan muda-mudi.

Film kartun, dipandang secara sepintas memang terkesan bagus, lucu, unik dan bahkan kita sendiri ketika menyaksikannya tertawa terbahak-bahak. Hal ini tidak dapat digeneralisir. Lucu bagi kita belum tentu bagi anak baik, yang bagi anak itu baik belum tentu lucu bagi kita. Sebut saja sebuah tayangan Tv Spongebob. Saat awal film itu muncul di Indonesia, G Tv yang menayangkan film itu pun tak segan menayangkannya 3 kali sehari yakni pagi, siang dan sore.

DIsadari atau tidak, anak kita dibuat fokus menatap film itu daripada mendatangi masjid-masjid Allaah untuk mendatangi suara adzan. Dirasa sukses dengan strategi itu, kemudian film kartun pun bervariasi. Konten dalam film kartun itu pun semakin tak terkontrol.

Penggunaan kalimat-kalimat tak senonoh dalam film Spongebob yang begitu banyak muncul dan penampilan “banci” para Mermaidmen membuat pola pada pikiran anak bahwa melakukan hal tersebut itu justru lucu. Bukankah sungguh menyesatkan, anak-anak diarahkan untuk menerima tayangan yang berisikan dua laki-laki tua menggunakan Bra di luar baju, sungguh keterlaluan. Perilaku Patrick dan Spongebob yang cenderung jorok, Sandy yang begitu sensual, Mr. Crab yang mata duitan dan karakter-karakter lain yang justru tak pantas untuk dijadikan stimulan dalam perkembangan anak.

Baru-baru ini, film Naruto muncul lagi di Global Tv. Awalnya hanya ditayangkan 1 jam, mulai pukul 16.30 – 17.30 WIB. Mungkin dirasa mulai banyak penontonnya kemudian jam tayang ditambah mulai sejak pukul 16.00. Pada jam-jam sekian, jam bermain anak di luar akan terganggu dan akan lebih memlih untuk menyaksikan film kartun yang sangat populer tersebut.  Dampak buruk lain adalah anak akan menjadi pemalas, ia tak suka olah raga dan bahkan kurang rajin karena hanya menonton televisi saja seharian.

Bapak-ibu yang dirohmati Allaah,

Tumbuh kembang anak adalah sebuah desain yang Allaah ciptakan dengan sedemikian rupa. Tahapannya pun sudah begitu teratur. Peran orang tua sebagai agen terdekat anak tentu sangat berpengaruh. Dalam Islam, Ibu adalah agen utama dalam pembentukan karakter dasar anak. Dalam memberikan stimulus bagi perkembangan anak, banyak sekali metode yang bisa digunakan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan perkembangan anak adalah memberikannya materi-materi yang diterima melalui sistem indra anak. Tentu dalam Islam, karakter paling baik adalah Rosuulullaah ‘alayhi sholaatu was salaam. Karakter tersebut tak jauh dari pedoman dasar umat Islam yakni Al Qur-an dan Sunnah. Oleh karenanya, daripada anak-anak kita disajikan tontonan yang tidak layak sebagai tuntunan, kini saatnya orang tua selektif dan dapat membedakan mana tontonan yang dapat dijadikan tuntunan dan mana tontonan yang membuat rusak tatanan.

Tinggalkan Komentar