10 Manfaat Menundukkan Pandangan Lawan Jenis Part 1

0
Ghodhul Bashor adalah menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak ijinkan menurut syari’at Islam. Banyak yang termasuk hal dilarang diantaranya melihat aurot lawan jenis, melihat/mengintip ke dalam rumah orang lain tanpa izin dan lain sebagainya. Dalam hal apa pun, Islam telah sempurna menjelaskannya. Itulah kebenaran dan kemuliaan Islam yang kaffah. Setiap perilaku keseharian manusia telah diatur dengan sedemikian rupa.
Menahan pandangan (Ghodhul Bashor) memiliki banyak sekali manfaat. Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menjelaskan setidaknya ada 10 manfaat dan menjaga pandangan yang beliau torehkan dalam kitab Roudhotul Muhibbin. Ada pun kesepuluh manfaat menjaga pandangan tersebut diantaranya:
Kucing Pun Jaga Pandangan
1. Membersihkan hari dari derita penyesalan
Al Ashma’i berkata,”Saya pernah melihat seorang gadis pada waktu thowaf yang seakan-akan dia adalah matahari. Aku pun terus memandanginya dan hatiku berdesir karena keeloka rupanya”. Lalu dia bertanya,”Ada apa dengan dirimu?”. Aku katakan,”Engkau memang layak untuk dipandang”. Kemudian gadis itu melantunkan sya’ir:

Selagi pandangan matamu berkeliaran
Segala pemandangan akan membebani hati
Sengkau memandang sesuatu di luar kemampuan dirimu
Sebagian lagi tiada kesabaran lagi

Pandangan akan menyusup hati sebagaimana anak panah yang meluncur dari busurnya jika engkau tidak mematahkannya maka ia melukai dirimu. Pandangan itu ibarat bara api yang dilemparkan ke dahan-dahan yang kering, jika tidak membakar seluruh dahan itu, ia akan membakar sebagiannya. Sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

Segala peristiwa berawal dari pandangan mata
Jilatan api bermula dari setitik api
Berapa banyak pandangan yang membelah hati pemiliknya
Laksana anak panah melesat dari busur
Selagi manusia memiliki mata untuk memandang
Dia tidak lepas dari bahaya yang menghadang
Senang dipermulaan dan ada bahaya dikemudian hari
Tidak ada ucapan selamar datang dan bahaya saat kembali

Dalam sya’ir lain, Ibnul Qoyyim berpesan

Wahai orang yang melepaskan anak panah sesaat
Engkaulah sang pembunuh namun tiada mengena
Wahai orang yang mengumbar pandangan untuk mencari obat
Kau datang dengan membawa kayu bakar yang membara

2. Mendatangkan cahaya dan keceriaan di hati, wajah dan seluruh anggota badan
Allaah berfirman:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi,,,,,(An Nuur: 35)
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (An Nuur: 30)

Sudah ma’ruf perkataan Imam Syafi’i di tengah-tengah kita mengenai jeleknya hafalan karena sebab maksiat. Tulisan ini sebagai ibrah bagi kita bahwa maksiat bisa mempengaruhi jeleknya hafalan dan mengganggu ibadah kita.
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,
شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).
Dalam kisah Imam Syafi’i Rohiimahullaah pula, hafalan beliau pernah hilang sebagian karena TIDAK SENGAJA melihat betis seorang akhwat yang tersingkap. Betapa luar biasanya perkara pandangan ini.
Allah Ta’ala berfirman,
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14).
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 14: 268).
Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.” (Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7: 442).
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.” (Ad Daa’ wad Dawaa’,107.)
3. Mendatangkan kekuatan firasat yang benar
Firasat adalah buah dari cahaya. Jika hati seorang hamba bercahaya maka akan benar firasatnya karena kedudukannya seperti cermin yang akan memperlihatkan seluruh wujud sebagimana aslinya.
4. Membuka pintu dan jalan ilmu serta memudahkan dalam mendapatkannya
Jika hati bersinar terang maka akan muncul hakikat-hakikat pengetahuan didalamnya dan mudah untuk disingkap sehingga sebagian demi sebagian ilmu dapat diserap. Sebagaimana dijelaskan di atas terkait dengan kisah Imam Syafi’i.
5. Mendatangkan kekuatan, keteguhan dan keberanian hati
Diri yang terbina untuk tidak memandang hal-hal yang diharamkan akan membentuk jiwa yang tangguh. Tidak sedikit pun manusia beriman yang tidak digoda oleh setan. Dengan menempa diri menahan dari hal-hal yang tidak dizinkan maka akan kekuatan dalam diri untuk melawan talbis iblis pun akan semakin kuat untuk proteksi diri.
Bersambung,,,
Cemilan:
Roudhotul Muhibbin, Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah, Alih bahasa oleh Pustaka Arafah
Rumaisho.com
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.