Para Penghuni Madrosah Ibtila` (Ujian)

2
Saudaraku, jika Anda dapat bersabar dalam menghadapi masa-masa yang sulit dan penuh kengerian, jika Anda dapat bertahan di atas kebenaran, menghadapi ujian demi ujian, sungguh itu saja merupakan suatu kemuliaan. Sebab dengan begitu, Anda telah menjadi salah seorang alumnus Madrasah Ibtila` nan agung. Madrasah yang telah mendidik dan mencetak tokoh-tokoh dengan tarbiyah khusus sehingga tatkala mereka lulus darinya, mereka telah menjadi emas murni tanpa campuran.
Jiwa mereka menjadi jernih, hati mereka menjadi bening, dosa-dosa mereka telah berguguran, dan taubat mereka telah diterima. Mereka khusyu’, tunduk, dan berserah diri kepada Rabb mereka. Mereka bertawakkal kepada-Nya dengan sebenar-benar tawakkal dan mereka kibaskan tangan mereka terhadap selain-Nya. Dari Madrasah Ibtila` ini telah lulus ‘Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah, Shuhaib, Salman, Khabbab bin Arat, Khubaib bin ‘Adiy, dan sahabat-sahabat yang lain.
Dari Madrasah ini pula telah lulus Sa’id bin Jubair, Malik bin Anas, Abu Hanifah, dan seorang murid terhebat yang selanjutnya menjadi guru terhebat pula di Madrasah ini, Imam Ahmad bin Hambal. Dari Madrasah ini pulalah Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, as-Sarakhsiy, dan para ulama amilin mujahidin fi sabilillah berasal.

Maka, menjadi salah satu alumnus Madrasah megah ini merupakan satu kebanggaan bagi Anda, wahai saudaraku. Rosuulullaah shollallahu ‘alayhi wa sallam pun menjadi percontohan yang begitu mulia atas ibtila’ yang beliau alami. Beliau bersabda:
أُوْذِيْتُ فِي اللهِ وَمَا يُؤْذَى أَحَدٌ
Aku sudah dianiaya di jalan Allah ketika belum seorang pun dianiaya.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy 2472, Ibnu Majah 151, dan Ahmad dalam Musnad 3/120,286 dari Anas bin Malik ra. Lafaz at-Tirmidzi adalah
لَقَدْ أُخِفْتُ فِي اللهِ وَمَا يَخَافُ أَحَدٌ وَلَقَدْ أُوْذِيْتُ فِي اللهِ وَمَا يُؤْذَى أَحَدٌ
Aku telah ditakut-takuti di jalan Allah sebelum ada yang ditakut-takuti. Aku telah dianiaya di jalan Allah sebelum ada yang dianaya. (Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albaniy)
Tentu sebagai generasi penerus jejak para generasi salaf, kita tak akan pernah mampu menyamai mereka. Namun, banyak sekali hal yang dapat kita lakukan untuk dapat sekedar meniti jejak Rosul dan para shohabat. Dari segi kadar mungkin umat ini tidak seberat masa lampau namun secara perhitungan kekuatan mestinya umat masa ini lebih kuat daripada generasi salaf jika ditinjau dari segi jumlah.
Biar pun kita bukan orang yang dijamin masuk Surga namun sebagaimana sabda Rosuulullaah bahwasanya generasi akhir zaman mendapatkan jaminan dengan 50 kali lipat pahala dosa para sahabat. Konsekuensi dari pahala ini adalah loyalitas kita terhadap penegakan hukum Allaah sehingga tak ada lagi penyembahan kepada selain Allaah dan Islam menjadi satu-satunya agama yang berkuasa. Hadits tersebut berbunyi:
Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari dimana orang yang sabar ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para Shahabat bertanya: “Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau dari mereka?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim. Dan dishahihkan oleh Imam Hakim dan disepakati oleh Dzahabi; lihat Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Abdus Salam bin Barjas, hal. 49)

Disarikan dari buku Kepada Aktivis Muslim, Dr Najih Ibrohim (semoga Allaah memberinya petunjuk)

2 KOMENTAR

  1. pendidikan agama memang sanga tpenting ya mbak, yang menjadi permasalahan adalah banyak anak bangsa di Indonesia ini yang beragama islam tidak banyak dari mereka yang mau masuk ke madrasah dengan alasan jadul, malu dan tidak keren, aduh,….aduh,…

Tinggalkan Komentar