Materi Penkes Napza & Penanganannya

0
Definisi
Narkoba atau Napza adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi. Yang termasuk dalam Napza adalah : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.
Jenis Napza
1. Narkotik
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini. Narkotika terdiri dari 3 golongan :

  1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.
  2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
  3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Codein.
2. Psikotropika
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
  1. Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.
  2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Amphetamine.
  3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.
  4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam ( BK, DUM ).
3. Zat Adiktif
Ada pun yang dimaksud zat adiktif lainnya adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh
menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol :
  • Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).
  • Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai minuman anggur )
  • Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ).
2. Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.
Dampak Penyalahgunaan Napza
Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.
1. Dampak fisik
  • Gangguan pada sistem saraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan saraf tepi.
  • Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah.
  • Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim.
  • Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernapas, pengerasan jaringan paru-paru.
  • Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, suhu tubuh meningkat, sulit tidur.
  • Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
  • Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang saat ini belum ada obatnya.
2. Dampak psikis
  • Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah.
  • Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga.
  • Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal.
  • Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan.
  • Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
3. Dampak sosial
  • Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan.
  • Merepotkan dan menjadi beban keluarga.
  • Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram.
Penyebab Penyalahgunaan Napza
Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor :
1. Faktor Individu
Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat. Ciri – ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan Napza :
  • Tidak memiliki pemahaman agama Islam yang baik
  • Cenderung memberontak
  • Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.
  • Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada
  • Kurang percaya diri
  • Mudah kecewa, agresif dan destruktif
  • Murung, pemalu, pendiam
  • Merasa bosan dan jenuh
  • Keinginan untuk bersenang – senang yang berlebihan
  • Keinginan untuk mencaoba yang sedang mode
  • Identitas diri kabur
  • Kemampuan komunikasi yang rendah
  • Putus sekolah
  • Kurang menghayati iman dan kepercayaan.
2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat. Keluarga kurang memberikan ilmu agama Islam yang benar. Kurangnya anak akan pemahaman Islam yang sesuai manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentu sangat berpengaruh. Lingkungan keluarga adalah modal awal seorang anak dalam menghadapi lingkungan luar.
Lingkungan Keluarga :
  • Jauhnya keluarga dari Al Quran dan pemahaman keislaman yang benar
  • Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
  • Hubungan kurang harmonis
  • Orang tua yang bercerai, kawin lagi
  • Orang tua terlampau sibuk, acuh
  • Orang tua otoriter
  • Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
Lingkungan Sekolah :
  • Kurangnya jam pelajaran agama di sekolah
  • Minimnya pemantauan dari dewan sekolah
  • Para pendidik yang juga kurang menguasai keislaman yang sesuai manhaj salaf
  • Sekolah yang kurang disiplin
  • Sekolah terletak dekat tempat hiburan
  • Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif
  • Adanya murid pengguna Napza.
Lingkungan Teman Sebaya :
  • Jauh dari majlis ‘ilmu dan majlis dzikir
  • Terlalu angkuh untuk bergaul dengan para santri atau kaum Muslimin yang baik
  • Berteman dengan penyalahguna Napza
  • Tekanan atau ancaman dari teman.
  • Gengsi
Lingkungan Masyrakat / Sosial :
  • Masyarakat yang acuh terhadap agamanya
  • Masjid yang kosong dari jama’ah
  • Kebebasan dalam berekspresi yang kebablasan
  • Lemahnya penegak hukum
  • Tidak dijadikannya hukum Allaah sebagai rujukan
  • Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.
Fase Perjalanan Pengguna Napza
Menurut Gunawan (2011), tingkatan penyalahgunaan Napza bisaanya sebagai berikut:
  1. Coba-coba
  2. Senang-senang
  3. Menggunakan pada saat atau keadaan tertentu
  4. Penyalahgunaan
  5. Ketergantungan
Upaya Pencegahan
  1. Pencegahan primer: Kembali kepada hukum Allaah
  2. Pencegahan Sekunder : Berikan pemahaman keislaman yang sesuai manhaj Salaf sembari mengobati dan terapi psikologi agar tidak lagi menggunakan Napza.
  3. Pencegahan Tersier: merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.
Upaya Penanganan
1. Detoksifikasi
Detoksifikasi adalah proses menghilangkan racun (zat narkotika atau adiktif lain) dari tubuh dengan cara menghentikan total pemakaian semua zat adiktif yang dipakai atau dengan penurunan dosis obat pengganti (Yuli, dkk, 2008 dalam www.yosefw.wordpress.com). Menurut Yuli, dkk (2008), tujuan terapi detoksifikasi adalah.
  • Untuk mengurangi, meringankan, atau meredakan keparahan gejala-gejala putus obat.
  • Untuk mengurangi keinginan, tuntutan dan kebutuhan pasien untuk “mengobati dirinya sendiri” dengan menggunakan zat-zat illegal.
  • Mempersiapkan proses lanjutan yang dikaitkan dengan modalitas terapi lainnya seperti therapeutic community atau berbagai jenis terapi lain.
  • Menentukan dan memeriksa komplikasi fisik dan mental, serta mempersiapkan perencanaan terapi jangka panjang, seperti HIV/AIDS, TB pulmonum, hepatitis.
2. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah pemondokan yang dilakukan agar pengguna obat terlarang dapat kembali sehat, yang meliputi sehat jasmani atau fisik (biologik), jiwa (psikologik), sosial (adaptasi), dan rohani atau keimanan (spiritual) (Hawari, 2000 dalam www.wartawarga.gunadarma.ac.id).
Menurut Suardana (2008), pada dasarnya rehabilitasi ada dua yaitu:
  • Rehabilitasi Medis. Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Narkotika, rehabilitasi medis adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan narkotika.
  • Rehabilitasi Sosial. Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, rehabilitasi sosial adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu baik fisik, mental maupun sosial agar bekas pecandu narkotika dapat kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat (www.wartawarga.gunadarma.ac.id).

Tinggalkan Komentar