Dasar-Dasar Manajemen Resiko

0
#Konsep Manajemen Resiko
Resiko adalah kemungkinan kehilangan finansial ataupun sesuatu yang berharga dan bernilai. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kemungkinan kehilangan tersebut, baik yang disebabkan oleh kerusakan, pencurian, salah dalam menempatkan sesuatu ataupun tidak bertanggungjawabnya seseorang terhadap tugas sehingga menyebabkan orang lain atau dirinya sendiri terjadi luka. Sedangkan yang dimaksud dengan manajemen resiko adalah proses jaminan kualitas yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan dalam upaya mengidentifikasi, mengawasi, meminimalkan dan mencegah kemungkinan kehilangan sesuatu yang berharga dan yang mempunyai nilai.
#Tujuan Utama dari Manajemen Resiko 
Tujuan utama dari manajemen resiko adalah melakukan pengkajian dan mencari pemecahan masalah terhadap masalah potensial sebelum masalah itu benar benar terjadi, misalnya luka. Walaupun demikian, keberhasilan manajemen resiko akan sangat tergantung pada perawat dan para profesi kesehatan lainnya. Hal ini disebabkan karena merekalah yang melakukan kegiatan dan bertanggungjawab secara profesional melalui pembuatan dokumentasi tentang semua aktivitas aktivitas dan hasil observasinya. Pencatatan yang tepat dan benar dapat menghasilkan dokumen yang menggambarkan situasi situasi resiko tinggi, yang meliputi kejadian-kejadian yang tidak diharapkan untuk terjadi maupun praktek-praktek lainnya yang menjamin keselamatan dan kesehatan pasien. Selain itu, pencatatan yang layak dapat memberikan perlindungan baik kepada pasien, perawat institusi penyelenggara pelayanan kesehatan.
 
Dokumentasi keperawatan meliputi catatan-catatan yang lengkap berisi kronologis suatu peristiwa, kegiatan yang telah, sedang dan yang akan dilakukan, kondisi pasien dan orang-orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan termasuk didalamnya kegiatan keperawatan, maka dokumentasi keperawatan dinilai mempunyai kekuatan untuk menjadi alat manajemen resiko yang efisien. Mengingat pentingnya manajemen resiko tersebut, seorang perawat haruslah memiliki pemahaman yang utuh tentang manajemen resiko, antara lain adalah lingkungan resiko tinggi dan upaya menekan resiko
#Lingkungan Resiko Tinggi
Pada hakikatnya, semua tempat ditatanan pelayanan kesehatan berada pada lingkup potensial resiko tinggi. Disebut demikian karena semua tempat memakai teknologi tinggi dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Salah satu contoh yang dimaksud dengan lingkungan resiko tinggi di Rumah Sakit adalah kamar bedah, unit perawatan intesnsif (ICU) dan unit perawatan khusus. Jumlah kejadian yang umumnya banyak dilaporkan adalah banyaknya pasien jatuh ataupun kesalahan dalam memberikan pengobatan. Untuk menekan resiko menjadi seminimal mungkin, sebenarnya yang penting ditentukan adalah berkisar pada bagaimana mencegah kejadian jatuh, memelihara dan menggunakan alat secara tepat.

Pada lingkup asuhan keperawatan, secara umum resiko yang sifatnya potensial lebih sukar diidentifikasi dan sulit dikontrol. Di bawah ini adalah situasi-situasi yang umumnya berisiko dan berpotensi menimbulkan terjadinya luka dan tuntutan, diantaranya adalah :
  1. Kesalahan dalam pemberian obat, baik yang menimbulkan luka ataupun tidak, misalnya : Ny Minah mendapatkan obat Ciprofloksasin 500 mg tetapi perawat A memberikan obat Amoksilin 500 mg.
  2. Menunda pemberian asuhan keperawatan, misalnya: Tn Besuki mengeluhkan nyeri di daerah infus kepada perawat tetapi perawat menunda untuk mengobservasi keadaan pasien sehingga ½ jam kemudian tampak kulit di daerah penusukan infus berwarna sangat merah dan bengkak.
  3. Pengkajian yang dilakukan perawat tidak lengkap, misalnya, : perawat melupakan pengkajian psikososial karena berpendapat bahwa pasien hanya mengeluh sakit perut.Padahal saja terjadi keluhan yang dialami pasien berkaitan dengan masalah psikologis.
  4. Kesalahan memperkirakan dalam melekukan indentifikasi pasien.
  5. Merehkan hak privasi pasien.
  6. Kelemahan dan kelalaian dalam memonitor dan super visi pasien.
  7. Ketidak mampuan dalam memberikan informasi,berkaitan dengan informed  consent.
  8. Pemberian informasi tidak konsisten dari sumber berbeda-beda.
  9. Menolak kehendak pasien berkenaan pengabaian pelayanan.
  10. Meyelidiki kepemilikikan pasien tanpa ada kewenangan.

#Upaya Menekan Resiko
Kesalahan dalam komunikasi sering terjadi antara perawat,temen sejawat, dokter, dan pasien serta keluarganya . informsi ini hendaknya didokumentasikan dalam bentuk tulisan atau tertulis.
Pendokumentasian yang akurat ,objektif dan komprehensifadalah bukti yang paling kuat untuk menyatakan bahwa perawat telah bertanggung jawab,bekerja konsisiten sesuai dengan kebutuhan pasien maupun hasil kolaborasi dokter.
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.