Tindakan Medis Yang Membatalkan Puasa (Shoum)

2
Shoum atau dalam bahasa Indonesia sering disebut puasa tentu sudah jelas wajibnya. Dalam menjaga shoum ini agar tetap istiqomah hingga akhir Romadhon tentu pula bukan suatu hal mudah. Tiap sudut hidup ini adalah ujian. Bulan Romadhon sebagai bulan berkah tentu tidaklah ada seorang muslim pun yang baik ingin terlewatkan. Hanya orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya saja yang enggan berpuasa atau bahkan ia memang tergolong dalam barisan orang munafiq.
Dalam menjalani shoum ini, sebagai tenaga medis hendaknya kita paham apa dan bagaimana shoum itu batal. Batalnya shoum di sini terkait dengan tindakan medis yang dilakukan seorang perawat atau tenaga medis lain kepada pasien. Beberapa hal tersebut akan kita uraikan di bawah ini:
1. Infus dan Tranfusi Darah
Infus membatalkan puasa
Para ‘ulama yang tergabung dalam Majmu’ Al Fiqhi Al Islami, telah melakukan penelaahan terkait hal ini. Secara mendasar terkait infus, para ‘ulama meninjau dari sisi substansi. Infus terdiri dari macam-macam zat. Secara mendasar infus berisikan cairan. Cairan tersebut ada yang berisi Dextrose, Ringer Laktat, NaCl atau bahan makanan lain yang komposisinya sama dengan makan atau minum. Dalam hal ini para ‘ulama menimbang bahkan biar pun orang tidak makan dan minum namun makanan dan minuman itu digantikan perannya oleh cairan infus. Lain daripada itu, para ‘ulama tersebut juga berpendapat bahwa transfusi darah pun termasuk membatalkan puasa karena dalam darah tersebut juga terkandung bahan makanan yang sudah diekstrak dalam darah.
2. Hemodialisis (Hd) Atau Cuci Darah
Hemodialisis membatalkan puasa
Penderita gagal gintal (Renal Failure) terutama CRF (Chronic Renal Failure) tentu memerlukan transfusi darah secara rutin akibat kegagalan glomerulus dalam menyaring racun dalam darah untuk dibuang menjadi urin. Dalam kasus ini para ‘ulama berpendapat bahwa Hd membatalkan puasa. Hal yang mendasarinya adalah kandungan darah yang ditransfusi. Darah yang disaring oleh dialisator kemudian ditambahkan zat seperti mineral, glukosa atau juga air sehingga darah yang disaring kemudian dikembalikan ke tubuh pasien dengan kondisi sudah mencukupi kebutuhan energi hingga batas dialisis berikutnya.
Ada pun beberapa tindakan medis yang tidak membatalkan puasa dan jarang diketahui oleh tenaga medis diantaranya juga perlu kita ketahui. Donor darah termasuk hal yang tidak membatalkan puasa karena dalam donor darah tidak ada nutrisi (suplemen makanan) yang dimasukkan ke tubuh. Atas dasar ini maka donor darah tidak termasuk pembatal puasa namun perlu diingat bahwasanya hendaknya pengambilan darah dilakukan malam hari untuk menghindari madhorot yang lebih besar terhadap pendonor.
Obat-obat injeksi adalah obat-obatan yang diberikan dengan cara disuntik. Baik itu secara IM (Intramuskuler), IV (Intravena), IC (Intracutan) atau SC (Subcutan) dan bahkan secara bolus. Hal ini menurut para ‘ulama mufti tidaklah membatalkan puasa. Ada pun para mufti yang menyatakan tidak batal diantaranya Dr. ‘Ali Jum’ah (Mufti agung Mesir), Syaikh Bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dan para ‘ulama’ Lajnah Da-imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah Wal Ifta’ Arab Saudi. Termasuk didalamnya adalah obat inhaler. Obat inhaler adalah obat yang diberikan dengan cara dihirup. Contoh obat yang biasa dipakai untuk nebulator adalah ventoolin atau sejenisnya. Hal ini tidak membatalkan shoum.
Obat tetes hidung, mata dan juga telinga menurut pendapat para ‘ulama tidaklah membatalkan puasa. Jenis obat ini sama dengan fatwa tentang obat-obat di atas. Dalam hal ini, obat sublingual juga difatwakan tidak membatalkan puasa. Obat sublingual adalah obat yang diberikan dengan diletakkan di bawah lidah. Obat jenis ini biasa digunakan pada pasien dengan Angina Pectoris agar respon obat dapat lebih cepat diterima oleh reseptor otak.
Sebagai tenaga medis, penting untuk diperhatikan. Sebagai tenaga medis muslim tentu tidaklah bekerja melainkan dengan bimbingan Al Qur-an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman para salafush sholih. Semoga bermanfaat. (Bung Destur/senyumperawat.com)
Sumber bacaan:
Asy Syafi’i, Imtihan. 2014. Pembatal Puasa Kontemporer. Ar-Risalah:Solo

2 KOMENTAR

  1. loading...

Tinggalkan Komentar