Perubahan Dasar Pada Fisik Ibu Hamil

SenyumPerawat.com – Sebagai seorang wanita, tentu banyak sekali hal yang perlu diketahui, sama halnya pria yang perlu banyak tahu tentang dirinya. Perubahan demi perubahan akan selalu terjadi pada diri tiap individu. Tak ada yang tak berubah karena setiap detiknya kita akan mengalami pertambahan usia dan tentunya memiliki makna tertentu. Perubahan yang tentunya harus menjadi perhatian adalah ketika seorang wanita mengalami kondisi hamil. Pasti banyak sekali perubahan yang terjadi. Baik perubahan secara hormonal mau pun secara fisik. Jangan sampai seorang wanita ketika hamil justru bingung ketika terjadi perubahan pada organ tubuhnya.
Beberapa perubahan fisik pada seorang ibu hamil mari kita bahas satu per satu:
1. Uterus
Tumbuh membesar primer, maupun sekunder akibat pertumbuhan isi konsepsi
intrauterin. Estrogen menyebabkan hiperplasi jaringan, progesteron berperan
untuk elastisitas / kelenturan uterus.

Taksiran kasar perbesaran uterus pada perabaan tinggi fundus :
– tidak hamil / normal : sebesar telur ayam (+ 30 g)
– kehamilan 8 minggu : telur bebek
– kehamilan 12 minggu : telur angsa
– kehamilan 16 minggu : pertengahan simfisis-pusat
– kehamilan 20 minggu : pinggir bawah pusat
– kehamilan 24 minggu : pinggir atas pusat
– kehamilan 28 minggu : sepertiga pusat-xyphoid
– kehamilan 32 minggu : pertengahan pusat-xyphoid
– 36-42 minggu : 3 sampai 1 jari bawah xyphoid
 
Ismus uteri, bagian dari serviks, batas anatomik menjadi sulit ditentukan, pada
kehamilan trimester I memanjang dan lebih kuat. Pada kehamilan 16 minggu
menjadi satu bagian dengan korpus, dan pada kehamilan akhir di atas 32 minggu
menjadi segmen bawah uterus. Vaskularisasi sedikit, lapis muskular tipis, mudah
ruptur, kontraksi minimal -> berbahaya jika lemah, dapat ruptur, mengancam
nyawa janin dan nyawa ibu.
 
Serviks uteri mengalami hipervaskularisasi akibat stimulasi estrogen dan
perlunakan akibat progesteron (-> tanda Hegar), warna menjadi livide / kebiruan.
Sekresi lendir serviks meningkat pada kehamilan memberikan gejala keputihan.
2. Vagina /
vulva
Terjadi hipervaskularisasi akibat pengaruh estrogen dan progesteron, warna
merah kebiruan (tanda Chadwick).
3. Ovarium
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi diambil alih oleh plasenta, terutama fungsi
produksi progesteron dan estrogen. Selama kehamilan ovarium
tenang/beristirahat. Tidak terjadi pembentukan dan pematangan folikel baru,
tidak terjadi ovulasi, tidak terjadi siklus hormonal menstruasi.
4. Payudara
Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia sistem duktus dan jaringan
interstisial payudara. Hormon laktogenik plasenta (diantaranya
somatomammotropin) menyebabkan hipertrofi dan pertambahan sel-sel asinus
payudara, serta meningkatkan produksi zat-zat kasein, laktoalbumin,
laktoglobulin, sel-sel lemak, kolostrum. Mammae membesar dan tegang, terjadi
hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar Montgomery, terutama daerah
areola dan papilla akibat pengaruh melanofor. Puting susu membesar dan
menonjol. (beberapa kepustakaan tidak memasukkan payudara dalam sistem
reproduksi wanita yang dipelajari dalam ginekologi)

 
5. Peningkatan Berat Badan
Normal berat badan meningkat sekitar 6-16 kg, terutama dari pertumbuhan isi
konsepsi dan volume berbagai organ / cairan intrauterin. Berat
janin + 2.5-3.5 kg, berat plasenta + 0.5 kg, cairan amnion + 1.0 kg, berat
uterus + 1.0 kg, penambahan volume sirkulasi maternal + 1.5 kg, pertumbuhan
mammae + 1 kg, penumpukan cairan interstisial di pelvis dan ekstremitas +
1.0-1.5 kg.
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker