Penanganan Segera Ketuban Pecah Dini

Senyumperawat.com – Ketuban pecah dini (KPD) sebagaimana telah dibahas sebelumnya merupakan sesuatu kondisi yang jelas berbahaya dan memerlukan tindakan segera. Kondisi semacam itu bukan hanya berbahaya bagi janin namun juga sang ibu. Dalam menentukan jenis cairan yang keluar dari jalan lahir ibu, perlu ketelitian agar tidak salah mendiagnosis. Selain itu, perlu kita pahami pula komplikasi yang mungkin terjadi akibat KPD ini. Ada pun penanganan yang tepat agar tidak terjadi komplikasi lain pun akan kita bahas bersama para paragraf berikutnya.
Sebelumnya kita pahami dahulu bagaimana menentukan apakah itu air ketuban atau bukan ada beberapa cara. Berikut kita pahami satu per satu:
  1. Cara menentukan ketuban pecah dini. Adanya cairan berisi mekoneum, verniks koseosa, rambut lanugo dan kadang kala berbau bila sudah infeksi.
  2. Inspekula : lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis servisis dan bagian yang sudah pecah. Lakmus (litmus), jadi biru (basa)bermakna air ketuban sedangkan jika menjadi merah (asam) berarti air kemih (urine)
  3. Pemeriksaan pH forniks posterior pada prom pH adalah basis (air ketuban).
  4. Pemeriksaan hispatologi air ketuban.
  5. Abozination dan sitologi air ketuban.
Penilaian Klinik menurut Buku Acuan  Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal :

  1. Tentukan pecahnya selaput ketuban. Di tentukan dengan adanya cairan ketuban dari  vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan test lakmus (nitrazin test) merah menjadi biru, membantu dalam menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan serta kelainan janin.
  2. Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan USG. USG membantu dalam menentukan usia kehamilan, letak janin, berat janin, letak plasenta, gradasi plasenta serta jumlah air ketuban.
  3. Tentukan ada tidaknya infeksi :suhu ibu lebih besar atau sama dengan 38oC, air ketuban yang keluar dan berbau, janin mengalami takhikardi, mungkin diperlukan pemeriksaan leukosit darah, bila > 15.000/mm3 mungkin ada mengalami infeksi intrauterine.
  4. Tentukan tanda-tanda inpartu: kontraksi teratur, periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminasi kehamilan) antara lain untuk menilai skor pelvik.

Beberapa hal yang dapat terjadi pada ibu dan janin tentu berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Beberapa komplikasi tersebut diantaranya:

a. Pengaruh terhadap janin
Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi karena infeksi intrauterine lebih dahulu terjadi (amnionitis,vakulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan, juga terjadi intra uteri fetal death (iufd), dan asfiksia juga prematuritas, sehingga akan meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal.
b. Pengaruh terhadap ibu
Karena jalan telah terbuka antara lain akan dijumpai;

  • Infeksi intrapartum apalagi bila terlalu sering di periksa dalam.
  • Infeksi peurperalis (nifas)
  • Atonia uteri
  • Partus lama
  • Peritonitis dan septikemi.
  • Dry-labor

Ibu akan menjadi lelah, lelah terbaring di tempat tidur, partus akan jadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat, dan nampak gejala-gejala infeksi. Jadi akan meninggikan angka kematian dan angka morbiditas pada ibu. Periode dari rupture membrane hingga persalinan berbanding terbalik dengan usia gestasi saat membrane pecah. Karena itu, semakin dini pecah ketuban terjadi, semakin lama interval masa laten sampai awitan persalinan.
Dalam mengatasi hal-hal di atas, ada beberapa penanganan dasar. Ada beberapa pendapat mengenai penatalaksanaan dan pimpinan persalinan dalam menghadapi KPD. Pada umumnya penanganan KPD tergantung pada umur kehamilan, kesejahteraan dan maturitas paru-paru janin, presentasi janin, ada tidaknya infeksi pada janin  dan ibu, ada tidaknya tanda-tanda inpartu dan cervical pippeners.

a. Konservatif

  • Rawat di rumah sakit 
  • Berikan antibiotic (ampisilin 4×500 mg dan metronidazol 2×500 mg selama 7 hari). 
  • Jika umur kehamilan kurang dari 32-34 minggu, dirawat sampai air ketuban tidak keluar lagi
  • Jika usia kehamilan 32-37 minggu belum inpartu, tidak ada infeksi, tes basa negatif, beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu. 
  • Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam. 
  • Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotic dan lakukan induksi 
  • Nilai tanda-tanda infeksi ( suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauteri ) 
  • Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan paru janin, dan lakukan kemungkinan kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Dosis bertambah 12 mg per hari, dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
b. Aktif
Pada kehamilan disproporsi kepala panggul dan letak lintang dilakukan bedah sesar.
Kehamilan lebih dari 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal lakukan SC. Dapat pula diberikan misoprostol 50 mg intravaginal tiap 6 jam maksimal  4 kali. 
Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan persalinan di akhiri.

Beberapa institute menganjurkan penatalaksanaan untuk KPD kira-kira sebagai berikut: 
  • Bila anak belum viable (kurang dari 36 minggu), penderita dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur dan berikan obat-obatan antibiotika profilaksis, spasmolitika, dan roborantia dengan tujuan untuk mengundur waktu sampai anak viable. 
  • Bila anak sudah viable (lebih dari 36 minggu), lakukan induksi partus 6-12 jam setelah lag phase dan berikan antibiotika profilaksis. Pada kasus-kasus tertentu dimana induksi partus dengan PGE2 dan atau drips sintosinon gagal, maka lakukanlah tindakan informative.

 Bahan cemilan:

  • Susanti, Meti, 2008, Hubungan Antara Paritas dengan Kejadian Ketuban
    Pecah Dini di RSUD Dr. M Yunus Bengkulu, Karya Tulis Ilmiah, Poltekkes
    Depkes Bengkulu, Bengkulu.
  • Tucker, Susan Martin, 2004, Pemantauan dan Pengkajian Janin, EGC, Jakarta.
  • Varney, Helen; Kriebs, Jan M; Gregor, Carolyn L, 2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Diterjemahkan oleh Laily Mahmudah, EGC, Jakarta.
  • Verrals, Sylvia, 1997, Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan, Diterjemahkan oleh Hartono, EGC, Jakarta.
  • Vicky, Chapman, 2006, Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran, EGC, Jakarta.
  • Widjanarko, Bambang, 2009, Ketuban Pecah Dini (Preterm Rupture of Membrane). Tersedia (https://www.authorstream.com)
    Wiknjosastro, Hanifa, 2006, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
    Saifuddin, Abdul Bari, 2006, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
  • Oxorn, H, 2003, Ilmu Kebidanan, Patologi dan Fisiologi Persalinan, YEM, Jakarta.
  • Manuaba, IBG, 2001, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta
  • Mansjoer, Arif (Ed), 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, Jakarta.
  • Hilda, 2007, Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Ketuban Pecah Dini di RSUD A. Yani Kota Metro Tahun 2006, Karya Tulis Ilmiah, Program Studi Kebidanan Metro, Poltekkes DepKes Tanjung Karang, Kota Metro.
  • Admin, 2007, Ketuban Pecah Dini [online], Pengelolaan Ketuban Pecah Dini. Tersedia(https://www.bayisehat.com/pregnancy-mainmenu-39/182-ketuban-pecah-dini-kpd.html)
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

3 Comments

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker