Macam-Macam Penggolongan Obat

SenyumPerawat.com – Berbicara soal penggolongan obat tentu ada beberapa konsep klasifikasinya. Dari mulai bahan komposisinya, indikasi penggunaannya, merk, warna dan lain sebagainya. Sebagai seorang apoteker tentunya harus paham benar. Bagi yang masih mahasiswa menjadi tuntutannya untuk memahami sekian banyak varian obat. Dunia farmasi yang penuh warna.

Menyikapi hal itu maka dibuatlah penggolongan obat. Klasifikasi obat ini dimaksudkan untuk keamanan, ketepatan penggunaan dan pengamanan distribusi. Aman dalam artian tentu agar suatu obat tidak berakibat lebih parah terhadap pasien. Tepat guna tentunya agar tidak salah dapat menentukan resep atau salah dalam menentukan dosis. Pengamanan distribusi tentunya berkaitan dengan layak atau tidakkah suatu obat dikonsumsi secara umum atau hanya untuk kalangan tertentu saja.

Dalam pengklasifikasian obat, terdapat beberapa kriteria tertentu. Kriteria yang biasa digunakan adalah menurut kegunaan, cara penggunaan, cara kerja, sumber, bentuk dan sediaan, fisiologi dan biokimia tubuh, dan juga menurut undang-undang yang berlaku di negara thoghut Indonesia ini.

1. Menurut kegunaan obat

Pembagian obat menurut penggunaannya dibedakan menjadi:

  • Terapeutik: memberikan efek sesuai dengan yang diharapkan, yakni untuk pengobatan terhadap gejala yang timbul, misalnya barium sulfat untuk membantu diagnosis pada saluran lambung-usus, serta natriummiopanoat dan asam iod organik lainnya untuk membantu diagnosis pada saluran empedu.
  • Profilaktik: memberikan terapi yang bersifat mencegah timbulnya gejala-gejala medis.
  • Diagnostik: membantu untuk menentukan diagnosis suatu penyakit.

2. Menurut cara penggunaan obat

Medicamentum ad usum internum, jenis obat yang digunakan untuk pemakaian dalam tubuh. Diberikan etiket putih. Medicamentum ad usum externum, jenis obat yang digunakan untuk pemakaian luar tubuh. Diberikan etiket biru.

Pengolongan lain berdasarkan cara penggunaannya dapat juga diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Oral, obat yang diberikan atau dimasukkan melalui mulut, Contoh: serbuk, kapsul, tablet sirup.
  • Parektal, obat yang diberikan atau dimasukkan melalui rectal.  Contoh: supositoria, laksatif.
  • Sublingual, dari bawah lidah, kemudian melalui selaput lendirdan masuk ke pembuluh darah, efeknya lebih cepat. Untuk penderita tekanan darah tinggi, Contoh: tablet hisap, hormone.
  • Parenteral, obat suntik melaui kulit masuk ke darah. Ada yang diberikan secara intravena, subkutan, intramuscular, intrakardial.
  • Langsung ke organ, contoh intrakardial.
  • Melalui selaput perut, intraperitoneal.

3. Menurut sumber obat

Jika berdasarkan sumber obat, penggolongan obat dibagi menjadi:

  • Tumbuhan, misalnya: digitalis, kina
  • Hewan, misalnya: minyak ikan, cera, adeps lanae
  • Mineral, misalnya: iodikalii, parafin, vaselin
  • Sintetis, misalnya: kamfer  sintetis, vitamin C
  • Mikroba, misalnya: antibiotik penisilin

 4. Menurut bentuk dan sediaan obat

  • Bentuk setengah padat: salem, krim, pasta, gel, occulenta
  • Bentuk cair/larutan: potio, sirup, eliksir, tetes mata, obat kumur, injeksi, infus, lotio, dll
  • Bentuk gas: inhalasi/spray/aerosol

 5. Menurut fisiologi dan biokimia tubuh

  • Obat farmakodinamis, yang bekerja dengan mempercepat atau memperlambat proses fisiologis atau fungsi biokimia tubuh, contoh: hormon, diuretik, hipnotik, dan obat-obat otonom
  • Obat kemoterapetik, dapat membunuh parasit dan kuman di dalam tubuh, misal: antikanker, antibiotik, antiparasit
  • Obat diagnostik, yaitu membantu untuk melakukan diagnosis atau pengenalan penyakit, misalnya barium sulfatuntuk diagnosis penyakit saluran lambung-usus

6. Menurut undang-undang

  • Obat Bebas. Dapat dijual bebas di warung kelontong, toko obat berizin, supermarket serta apotek. Penderita dapat membeli dalam jumlah sangat sedikit saat obat diperlukan. Relatif aman sehingga pemakainnya tidak memerlukan pengawasan tenaga medis selama diminum sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan obat. Oleh karena itu, sebaiknya golongan obat ini tetap dibeli bersama kemasannya. Tanda : lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Obat yang termasuk golongan obat ini yaitu obat analgetik/pain killer (parasetamol), vitamin dan mineral. Obat-obat herbal tidak masuk dalam golongan ini, namun dikelompokkan sendiri dalam obat tradisional (TR).
  • Obat Bebas Terbatas. Dulu disebut obat daftar obat W. Obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) sentimeter, lebar 2 (dua) sentimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih seperti gambar di bawah.Seharusnya obat jenis ini hanya dapat dijual bebas di toko obat berizin (dipegang seorang asisten apoteker) serta apotek (yang hanya boleh beroperasi jika ada apoteker, no pharmacist no service). Contoh obat golongan ini adalah: pain relief, obat batuk, obat pilek dan krim antiseptik.
  • Obat Keras. Dulu disebut daftar obat G = gevaarlijk = berbahaya. Golongan obat yang hanya boleh diberikan atas resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan. Ditandai dengan tanda lingkaran merah dan terdapat huruf K di dalamnya. Jenis obat yang termasuk golongan ini adalah beberapa obat generik dan Obat Wajib Apotek (OWA). Juga termasuk didalamnya narkotika dan psikotropika tergolong obat keras.
  • Obat Psikotropika dan Narkotika. Psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Contoh : Diazepam, Phenobarbital. Sedangkan narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi mereka yang menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat , halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek ketergantungan bagi pemakainya.Contoh : Morfin, Petidin.

7. Menurut penamaannya

Berikut ini penggolongan obat berdasarkan penamaannya:

  • Nama Kimia, yaitu nama asli senyawa kimia obat.
  • Nama Generik (unbranded name), yaitu nama yang lebih mudah yang disepakati
  • sebagai nama obat dari suatu nama kimia.
  • Nama Dagang atau Merek, yaitu nama yang diberikan oleh masing-masing
  • produsen obat. Obat bermerek disebut juga dengan obat paten.
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker