Jelas Haram Merayakan Hari Ibu

SenyumPerawat.com – Ibu sebagai sosok yang begitu mulia tentunya perlu sikap atau perbuatan yang tentu memuliakannya. Begitu inginnya memuliakan ibu terkadang justru berlebihan. Lebih berbahaya lagi ketika tuntunan dari Rosuulullaah ‘alayhi sholaatu was salaam justru dikesampingkan hanya karena hal itu. Sebagai seorang muslim yang baik tentunya setiap kehidupan kita harus ada rambu-rambu yang mengaturnya. Jelas sekali, Al Qur-an dan As Sunnah. Dalam memberikan kasih sayang kepada ibunda tentu tidak harus dikhususkan pada momen tertentu atau pada kondisi tertentu.

Agar lebih gamblang, di sini penulis mencoba mengetengahkan fatwa ‘ulama tentang masalah ini. Syaikh Utsaimin Rohiimahullaah dalam fatwa beliau sudah cukup gamblang membahas masalah ini. Beliau menjelaskan bahwa semua hari raya yang bertentangan dengan hari raya yang disyari’atkan adalah bid’ah dan tidak dikenal pada masa salafush sholih. Boleh jadi awal mula kejadiannya bukan dari kaum muslimin. Oleh sebab itu, selain bid’ah hari raya itu merupakan kesengajaan menyerupai musuh-musuh Allaah.

Muat Lebih

Hari raya yang disyari’atkan hanya ada 3 yakni ‘Idul Fithri, ‘Idul Adha dan hari raya pekanan (jum’ah). Kaum Muslimin tidak memiliki hari raya selain tiga di atas. Rosul ‘alayhi sholaatu was salaam secara terang menjelaskan bahwa:

“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”.
Hari ibu ini jika dirayakan maka hukumnya tidak boleh. Dilarang membuat simbol-simbol perayaan hari tersebut. Seorang muslim hendaknya menjadi trend center sehingga kaum muslimin memiliki ciri khas tersendiri. Tentunya sesuai dengan syari’at Islam yang jelas.
Seorang ibu berhak untuk dihormati lebih dari satu hari dalam satu tahun. Bahkan ibu memliki hak atas anak-anaknya agar mereka memerhatikannya, menjaganya serta menaatinya selain dalam kemaksiatan kepada Allaah.
Jika benar hari ibu ada dalam Islam maka tentu generasi para sahabat yang dekat dengan Nabi shollallaahu ‘alahy wa sallaam akan melakukan hal itu terlebih dahulu daripada umat sekarang. Secara otomatis, jika memang hari ibu itu lahir karena untuk mengenang para pejuang wanita di Indonesia tentu para “MUSLIMAH” (SHOHABIYAH) pada masa An Nubuwwah akan lebih layak untuk dikenang. Umat Islam di Indonesia justru lebih kenal si kartini daripada ummul Mu’minin Khodijah, ‘A-isyah, Hafshoh dan para muslimah di jaman kenabian dulu rodhiyallaahu ‘anhunna.
Source:
Al Utsaimin, Muhammad Bin Sholih. 2013. Halal & Haram Dalam Islam hal 519-520. Ummul Qura: Jakarta

Pos terkait