Awas! Trauma Thorax (Dada) Mengancam Jiwa

SenyumPerawat.com – Trauma dada terkadang tidak mendapat perhatian lebih. Masih banyak orang yang menyepelekan trauma dada ini. Ketika seseorang mengalami kecelakaan maka tidak jarang terjadi benturan pula pada daerah dada. Bukan suatu hal ringan jika benturan hingga meninggalkan jejas (luka lecet). Perlu dicurigai adanya tension pneumothorax, hematothorax, flail chest atau temponade jantung. Apalagi jika timbul nyeri berlebih. Terlebih lagi jika dada sebelah tidak seperti dada sebelahnya dalam ekspansinya (kembang kempisnya).
Beberapa trauma dada yang dapat menyebabkan kematian dapat diklasifikasikan dalam 5 jenis. Keseluruhannya perlu mendapatkan penanganan segera dan termasuk kasus gawat darurat. Lebih jelas mari kita pelajari bersama apa saja jenis trauma yang mematikan itu. Boleh jadi korban meninggal bukan karena penyakit itu tapi penanganan penolong yang salah.
a. Open Pneumothorax
Open pneumothotax terjadi karena benda tajam yang mengoyak bagian dada sehingga rongga pelindung paru-paru robek. Paru-paru dilindungi oleh sebuah selaput yang disebut pleura. Jadi ketika pleura ini mengalami kontak langsung dengan udara luar maka paru-paru mengambil udara langsung dari luka itu secara langsung, bukan melalui saluran udara yang seharusnya. Hal ini terjadi jika luasnya lubang lebih dari 2/3 diameter trachea. Pada kondisi saat ini, korban akan mengalami sesak yang sangat hebat. Hal pertama yang harus dilakukan untuk menyelamatkan korban adalah dengan menutup lubang pada dinding dada. Penutupan lubang ini menjadikan open pneumothorax menjadi closed pneumothorax. Untuk mengatasi hal ini maka tindakan yang tepat adalah:
  • Menutup dengan kasa 3 sisi. Kasa ditutup dengan plaster para 3 sisi sedangkan pada sisi yang atas dibiarkan terbuka (kasa harus dilapisi dengan zalf/softratulle para sisi dalamnya agar kedap udara).
  • Menutup dengan kasa kedap udara. Jika dilakukan cara ini maka harus sering dilakukan evaluasi paru. Jika ternyata timbul tanda tension pneumothorax maka kasa harus dibuka.
Pada luka yang sangat besar maka dapat dipakai plastk infus yang digunting sesuai ukuran.
b. Tension Pneumothorax
Tension Pneumothorax dapat timbul karena pneumothorax sederhana akibat trauma tembus atau benda tajam yang merobek pleura. Penyebab lain juga bisa diakibatkan oleh penggunaan flap-valve yang tidak sesuai SOP, penggunaan ventilator mekanik yang tidak tepat dan fraktur (patah tulang) tulang belakang thorax yang mengalami pergeseran. Tension pneumotorax ditandai dengan nyeri dada, sesak nagas, distress pernapasan, takikardi, hipotensi, deviasi trakea dan hilangnya suara nafas pada satu sisi serta distensi vena leher. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya hipersonor dan hilangnya suara nafas pada sisi paru yang terkena. Penanganan untuk tension pneumothorax ini harus segera karena begitu mematikan.
Jika sudah dipastikan bahwasanya pasien mengalami tension pnumothorax maka harus segera dilakukan tindakan darurat yakni Needle Thoracosintesis. Tindakan needle thoracosintesis adalah menusukkan jarum besar (ukuran 14 atau 16) pada intercostae 2 lurus dari mid clavicula. Selain itu juga dapat dilakukan dengan memasang selang dada (Chest tube) pada intercostae (sela tulang iga) ke-5 di antara garis axillaris anterior dan midaxillaris.
c. Hematothorax Masif
Terjadinya perdarahan hebat mencapai lebih dari 1500 cc dalam rongga dada. Penyebab utamanya tentu adanya luka tembus yang mengoyak pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus paru. Tanda dan gejala utamanya adalah tentu adanya ciri-ciri khas shock hipovilemi dengan diiringi hilangnya suara nafas serta perkusi redup pada thorax. Tindakan utama yang dapat menyelamatkan pasien adalah dengan operasi. Terapi awal untuk masalah ini adalah dengan resusitasi cairan untuk mengatasi syol hipovolemi. Resusitasi dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura dan torakotomi tilakukan jika didapatkan bahwa jumlah perdarahan mencapai lebih dari 1500 cc atau kehilangan terus-menerus 200 cc/jam dalam waktu 2-4 jam.
d. Flail Chest
Tidak mengembangnya salah satu paru akibat dinding dada yang mengalami fraktur. Fraktur iga (costae) yang multiple (2-3 tulang iga atau bahkan lebih). Fraktur multiple ini mengakibatkan otot dinding dada tidak bekerja maksimal sehingga dada tidak mampu mengembang. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi paru sehingga juga tak mampu mengembang. Pada saat ekspirasi, dada justru menonjol dan saat inspirasi justru dada mengempis. Jika diobservasi, dinding dada kanan dan kiri bergerak tidak simetris. Pernapasan vesikuler jika dinding dada bergerak kanan-kiri secara bersamaan dan teratur namun jika kondisi seperti di atas maka disebut dengan pernapasan paradoksal. Terapi awal sebagai tindakan emergency adalah dengan memberikan oksigen secara adekuat, pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri dan resusitasi cairan.
e. Tamponade Jantung

Tamponade jantung dapat terjadi akibat luka benda tajam pada jantung atau juga benda tumpul. Darah terkumpul dalam rongga pericardium sehingga kontraksi jantung terganggu dan dapat timbul syok kardiogenik. Ciri khas temponade jantung adalah trias beck yang terdiri dari peningkatan tekanan vena, penurunan tekanan arteri dan suara jantung yang menjauh. Pemasangan CVP dan USG abdomen dapat membantu diagnosis. Pericardiosintesis adalah tindakan gawat darurat untuk temponade jantung. Tindakan ini dilakukan dengan cara menusuk rongga pericardium dengna jarum besar untuk mengeluarkan perdarahan. Tindakan bedah dilakukan dengan perikardiotomi.
Sumber bacaan:
Pusbankes 118, Persi Cabang DIY. Modul Pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD). 2013
Share

This website uses cookies.