Tumor Otak Itu Tumor Di Otak

2

SenyumPerawat.com – Tumor otak sebagai salah satu penyakit berbahaya
tentu perlu mendapatkan perhatian serius. Neoplasma atau tumor itu sendiri
secara harfiah berarti “pertumbuhan baru”, adalah massa abnordmal dari sel-sel
yang mengalami proliferasi (Sylvia A.Price, 142:2005). Sel neoplastik ini pun
tumbuh secara acak dan tidak aturan sehingga memang tubuh lepas kendali. Bisa
dibilang istilahnya “Anak Bandel”. Sel tumor itu tumbuh terus,
progresif. Massanya terus bertambah dan jumlahnya juga meningkat. Selain itu,
sepertinya belum ada tumor yang memberikan manfaat kepada penderitanya, yang
ada justru penderitaan. Meskipun itu salah satu penghapus dosa.
Neoplasma atau tumor ini dapat dibedakan berdasarkan sifatnya, yaitu benigna
(jinak) dan maligna (ganas). Apalagi jika yang diserang oleh tumor ini adalah
bagian dari tubuh kita yang sangat penting 
yaitu otak (sistem neurologi). Tumor otak adalah lesi yang terletak pada
intrakranial yang menempati ruang di dalam tengkorak (Suzanne C.Smeltzer,
2001:2167). Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik bersifat
jinak maupun ganas dan timbul dalam otak, meningen dan tengkorak (Sylvia
A.Price, 2005:1183).
 Penyebab terjadinya tumor otak dapat berupa riwayat trauma kepala,
faktor genetik, paparan bahan kimia yang bersifat karsinogenik atau juga bisa
karena virus tertentu. Tumor otak
dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok besar: (Suzanne C.Smeltzer,
2001:2168)
  1. Tumor otak yang berasal dari jaringan otak: Astrostoma (derajat 1 dan
    2), Gliobastoma (derajat 1 dan 2), Medulloblastoma dan Oligodendroglioma.
  2. Tumor yang muncul dari pembungkus otak; meningioma
  3. Tumor yang berkembang di dalam saraf cranial; neuroma akustik
  4. Lesi metastatic; paling umum pada payudara dan paru-paru.
  5. Tumor kelenjar tanpa duktus; hipofisis dan pinealis.
  6. Tumor pembuluh darah; hemangioblastoma, angioma.
  7. Tumor congenital.
Tanda gejala khas yang
disebut sebagai Trias Classica seperti Trias Klasik yaitu nyeri kepala, papil
oedema dan muntah (Sylvia A.Price, 2005:1187). Selain itu ada pula tanda dan
gejala lain seperti:
  1. Nyeri kepala berat pada pagi
    hari, bertambah bila batuk, membungkuk.
  2. Kejang.
  3. Tanda-tanda peningkatan
    tekanan intrakranial : pandangan kabur, mual, muntah, penurunan fungsi
    pendengaran, perubahan tanda-tanda vital, afasia.
  4. Perubahan kepribadian.
  5. Gangguan memori.
  6. Gangguan alam perasaan.
Jika diklasifikasikan
berdasarkan lokasi tumor, maka seperti di bawah ini:
  1. Tumor korteks motoric.
    Menyebabkan gerakan seperti kejang yang terletak pada sisi tubuh, yang disebut
    kejang Jacksonian.
  2. Tumor lobus oksipital.
    Menimbulkan hemianopsia homonimus kontralateral (hilangnya penglihatan pada
    setengah lapang pandangan, pada sisi yang berlawanan dari tumor) dan halusinasi
    penglihatan.
  3. Tumor serebelum. Menyebabkan
    pusing, ataksia (kehilangan keseimbangan) atau gaya berjalan yang sempoyongan dengan
    kecenderungan jatuh ke sisi yang lesi, otot-otot tidak terkoordinasi dan
    nistagmus (gerakan mata berirama tidak sengaja) biasanya menunjukkan gerakan
    horizontal.
  4. Tumor lobus frontal.
    Menyebabkan gangguan kepribadian, perubahan status emosional dan tingkah laku
    dan disintegrasi perilaku mental.
  5. Tumor sudut serebelopontin.
    Pertama, tinitus dan kelihatan vertigo. Berikutnya kesemutan dan rasa
    gatal-gatal pada wajah dan lidah. Selanjutnya terjadi kelemahan atau paralisis.
    Akhirnya, karena pembesaran tumor menekan serebelum, mungkin ada abnormalitas
    pada fungsi motorik.
  6. Tumor intracranial.
    Menghasilkan gangguan kepribadian, konfusi, gangguan fungsi bicara dan gangguan
    gaya berjalan, terutama pada pasien lansia.
(Suzanne C.Smeltzer,
2001:2170)
Adapun komplikasi yang dapat
kita temukan pada pasien yang menderita tumor otak adalah
  1. Gangguan fisik neurologis.
  2. Gangguan kognitif.
  3. Gangguan tidur dan mood.
  4. Disfungsi seksual.
Dalam menegakkan diagnosis
yang muncul, perlu data penunjang yang didapatkan melalui pemeriksaan penunjang
berikut:

  1. Arterigrafi atau
    Ventricolugram, untuk mendeteksi kondisi patologi pada sistem ventrikel dan
    cisterna.
  2. CT – SCAN, dasar dalam
    menentukan diagnosa.
  3. Radiogram, memberikan
    informasi yang sangat berharga mengenai struktur, penebalan dan klasifikasi;
    posisi kelenjar pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika.
  4. Elektroensefalogram (EEG),
    memberi informasi mengenai perubahan kepekaan neuron.
  5. Ekoensefalogram, memberi
    informasi mengenai pergeseran kandungan intra serebral.
Untuk mengatasi tumor otak,
biasanya dilakuakan beberapa tindakan medis. Beberapa tindakan medis sebagai
upaya menyelamatkan pasien penderita tumot otak diantaranya:
  1. Pembedahan; kraniotomi.
  2. Radiotherapi. Biasanya
    merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan
    therapi tunggal. Adapun efek samping : kerusakan kulit di sekitarnya,
    kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang
    tenggorkan.
  3. Kemoterapi. Pemberian
    obat-obatan anti tumor yang sudah menyebar dalam aliran darah. Efek samping :
    lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah terserang
    penyakit.
  4. Manipulasi hormonal.
    Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah bermetastase.

Bahan bacaan:

Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan. Edisi.17. Jakarta:
EGC

Prince, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Edisi.6. Volume 1. Jakarta:EGC

Smeltzer Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah, Brunner & Suddarth. Edisi. 8.Volume 3. Jakarta : EGC

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan  dengan Intervensi NIC dan
kriteria hasil NOC. Edisi.7. Jakarta: EGC

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar