Teori Seputar Terapi Bermain Untuk Anak

SenyumPerawat.com – Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak
secara optimal. Sekarang ini, banyak sekali dijual bermacam-macam alat
permainan. Apabila orang tua tidak selektif dan kurang memahami fungsinya, alat
permainan yang dibelinya tidak dapat berfungsi secara efektif. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktifitas bermain
ini tetap perlu dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Saat
ini, para tenaga kesehatan sudah memahami pentingnya aktifitas bermain sehingga
di bagian anak di beberapa rumah sakit telah disediakan sarana bermain.

Membaca Al Quran adalah terapi bermain yang efektif dan bernilai ibadah.

Wong (1995) menjelaskan bahwa bermain pada anak hendaknya memiliki
fungsi-fungsi berikut ini :

  1. Perkembangan sensori motor
  2. Perkembangan kognitif (intelektual)
  3. Sosialisasi
  4. Kreativitas
  5. Kesadaran diri
  6. Nilai-nilai moral
  7. Nilai terapeutik
Pada dasarnya, aktivitas bermain pada anak tidak hanya dengan
menggunakan alat permainan. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh
orang tua terhadap anaknya seperti sentuhan, bercanda, belaian dan lainnya
merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak terutama pada tahun pertama
kehidupannya. Soetjiningsih (1995) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan agar aktivitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif seperti
berikut :

  1. Perlu energi ekstra
  2. Waktu yang cukup
  3. Alat permainan
  4. Ruang untuk bermain
  5. Pengetahuan cara bermain
  6. Teman bermain
Terdapat beberapa teori yang dikemukakan beberapa tokoh mengenai
permainan :
Teori Rekreasi
Dikemukakan oleh Schaller (1841) dan lazarus (1884). Teori rekreasi
menyebutkan bahwa “permainan adalah suatu kesibukan untuk menenangkan pikiran
atau untuk beristirahat.” Contoh : kesibukan bermain akan dilakukan orang
ketika dia lelah bekerja, maka bermain untuk memulihkan tenaga kembali atau
menyegarkan tubuh yang sedang mengalami kelelahan.
Teori Kelebihan Tenaga
Dikemukakan oleh Herbert Spencer. Teori ini juga disebut teori
pelepasan atau teori pemunggahan. Teori ini mengatakan bahwa kegiatan bermain
pada anak karena adanya kelebihan tenaga pada diri anak. Tenaga atau energi
yang menumpuk pada anak perlu digunakan atau dilepaskan dalam bentuk kegiatan
bermain. Dengan demikian akan terjadi keseimbangan diri anak.
Teori Atavistis
Dikemukakan oleh Stanley Hall. Teori ini menyebutkan bahwa di dalam
bermain akan timbul bentuk-bentuk perilaku sebagaimana bentuk kehidupan yang
pernah dialami nenek moyang. Hal-hal yang memperkuat teori ini adalah ciri –
ciri yang sama dalam bermain pada anak-anak di seluruh dunia. Contoh :
permainan berburu, menangkap dan membunuh binatang, bermain kelereng pada
anak-anak zaman yunani kuno sama dengan permainan kelereng pada anak-anak masa
kini. Pada masa sekarang ini sudah dapat dikatakan bahwa teori tersebut tidak
berlaku lagi karena anak-anak lebih suka bermain mobil-mobilan,
kereta-keretaan, kapal terbang yang semuanya tidak dijumpai pada zaman nenek
moyang.
Teori Biologis
Dikemukakan oleh Karl Gross (Jerman) dan Dr. Maria Montessori (Italia).
Teori ini mengatakan bahwa permainan mempunyai tugas-tugas biologis
untuk melatih bermacam-macam fungsi jasmani dan rohani. Saat anak bermain
merupakan kesempatan yang baik untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan hidup
atau pun hidup itu sendiri, serta dapat melatih jiwa dan raga untuk menghadapi
kehidupan yang akan datang. Dalam teori biologis ini dapat dikatakan adanya
kemiripan antara permainan yang dilakukan oleh anak manusia dengan anak
binatang. Contoh : seekor anak kucing yang bermain-main mengejar sepotong
kertas, tidak lain adalah suatu latihan agar anak kucing tersebut dapat
menangkap seekor tikus. Anak manusia bermain dengan meremas-remas kertas tidak
lain sedang melatih untuk memfungsikan jari-jarinya. Dalam hal ini montessori
mengatakan bahwa permainan sebagai latihan fungsi-fungsi tubuh. Fungsi tubuh
dilatih dengan jalan, berlari-lari, meloncat-loncat, merangkak-rangkak dan
sebagainya. Dalam bermain hendaknya disertai adanya perasaan senang, karena
dengan perasaan senang ini akan dapat membantu dan mendorong untuk menimbulkan
kekuatan yang dibutuhkan.
Teori Psikologi Dalam
Dikemukakan oleh Sigmud Freud dan Adler. Menurut freud permainan adalah
pernyataan nafsu-nafsu yang terdapat di daerah bawah sadar dan sumbernya
berasal dari dorongan nafsu seksual. Atau dengan kata lain, permainan adalah
bentuk pemuasan dari nafsu seksual yang terdapat di daerah bawah sadar. Menurut
Adler permainan merupakan usaha untuk menutupi perasaan harga diri yang kurang.
Menurut adler nafsu yang terdapat di daerah bawah sadar bersumber dari adanya
dorongan nafsu untuk berkuasa. Jadi pada manusia ada dua dorongan nafsu yang
terpenting yaitu nafsu seksual dan nafsu untuk berkuasa. Dari uraian di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa dengan permainan dapat memberikan kompensasi
terhadap perasan diri lebih yang fiktif dan dapat menyalurkan perasaan yang
lemah atau rendah diri. Di samping itu dorongan seksual yang ada pada daerah
bawah sadar akan menemukan pemuasan simbolis dalam bentuk bermacam-macam
permainan. Dalam bermain ada dua faktor yang penting yaitu fantasi dan
kebebasan.
Teori fenomenologi
Dikemukakan oleh  Kohnstamm
(Belanda). Bermain merupakan suatu fenomena atau gejala yang nyata, yang
mengandung unsur suasana permainan maksudnya bahwa dorongan bermain merupakan
dorongan untuk menghayati suasana bermain itu sendiri, tidak khusus bertujuan
untuk mencapai prestasi-prestasi tertentu. Jadi tujuan bermain adalah permainan
itu sendiri. Dalam suasana permainan terdapat faktor-faktor kebebasan, harapan,
kegembiraan, ikhtisar, siasat dan lain-lain.
Menurut H. Hetzer (Jerman), macam-macam permainan pada anak dapat
dibedakan menjadi lima macam, yaitu : permainan fungsi (dengan gerakan gerakan
tubuh, anggota badan), permainan konstruktif (mobil-mobilan dari tanah,
kuda-kudaan dari pelepah pisang, dan lain-lain), permainan reseptif (missal :
sambil mendengar cerita atau melihat gambar, anak berfantasi dan menerima
kesan-kesan yang membuat jiwanya sendiri aktif), permainan peranan (anak
memegang peranan sebagai apa yang sedang dimainkan, contoh bermain sebagai
dokter), permainan sukses (yang diutamakan adalah prestasi sehinggga diperlukan
keberanian, ketangkasan, kekuatan, dan lain-lain. Contoh meniti jembatan,
meloncati parit, memanjat pohon).
Dalam memilih permainan orang tua harus memperhatikan setiap anak,
sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan usiannya. Di samping
itu latar belakang budaya, jenis kelamin, dan status kesehatan serta
lingkungannya merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam menentukan jenis
permainan.
Tags

Destur Purnama Jati

Seorang penulis blog dan juga Youtube creator. Selain itu juga berkiprah di dunia EO (Event Organizer) terutama dibidang kesehatan. Terkadang juga mengisi pelatihan seputar PPGD dan sejenisnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker