Syarat Bolehnya Operasi Plastik Dalam Islam

0

Senyumperawat.com – Kecantikan menjadi sebuah nilai berharga bagi manusia terutama wanita. Bahkan bukan hanya manusia, hewan pun tetap ingin tampil cantik dan menawan ketika inign memikat pasangan. Sebut saja salah satu hewan seperti burung. Beberapa burung memiliki corak warna bulu yang memukau, salah satunya cendrawasih atau juga merak. Mereka akan berusaha tampil semenarik mungkin demi memikat burung lain hingga takluk dan meu menjadi pasangan hidupnya. Berbeda dengan manusia yang tidak berambisi (karena nafsu belaka) melainkan harus dengan pertimbangan yang matang dalam menentukan pasangan hidupnya. Ups, kok jadi bahas pasangan hidup.

Kembali ke tema, kecantikan tentu adalah sebuah aset yang begitu berharga. Dalam upaya menjaganya terkadang seseorang yang belum paham tentang boleh tidaknya cenderung ada yang tidak peduli. Sebagai Muslim yang baik tentunya kita perlu mencari tahu apakah tindakan kita diperbolehkan secara syari’at atau tidak. Pembahasan kita pada kesempatan kali ini adalah terkait dengan boleh tidaknya melakukan operasi plastik dan juga bagaimana hukumnya jika mempelajari ilmu bedah plastik tersebut.

Syaikh Ibnu Utsaimin Rohiimahullaah dalam fatwa beliau menjelaskan dalam poin-poin yang cukup gamblang. Pertama, mempercantik diri untuk menghilangkan cacat yang terjadi akibat kecelakaan atau hal lain. Menurut beliau berdasarkan dalil-dalil yang tentunya sudah beliau telaah dengan seksama bahwa hal ini tidak mengapa dan tidak berdosa pelakunya karena Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam mengizinkan seseorang yang terpotong hidungnya dalam peperangan untuk menggunakan hidung yang terbuat dari emas. (Baca hadits riwayat Abu Dawud (4232), At Tirmidzi (1770), hadits ini dishohihkan oleh syaikh Al Albani)

Penjelasan kedua, mempercantik untuk menambahkan keindahan diri dan bukan untuk menghilangkan cacat. Hal ini haram dan tidak boleh dilakukan karena Rosuulullaah ‘alayhi sholaatu was salaam melaknat wanita yang mencabut bulu alis, wanita yang meminta dicabut bulu alisnya, wanita yang menyambung rambut, wanita yang membuat tato dan wanita yang memnita dibuatkan tato karena semua itu merupakan bentuk usaha mempercantik diri bukan untuk menghilangkan aib atau cacat. Tidak menutup kemungkinan juga untuk kaum pria.

Ada pun kaitannya dengan orang yang mempelajari ilmu tentang operasi kecantikan karena termasuk dalam kurikulum studinya maka tidak mengapa mempelajarinya akan tetapi tidak boleh mempraktikkan ilmunya pada kondisi-kondisi yang diharamkan.

Source:

Al Utsaimin, Muhammad Bin Sholih. 2013. Halal & Haram Dalam Islam hal 110-111. Ummul Qura: Jakarta

Tinggalkan Komentar