Melahirkan Ditangani Dokter Laki-Laki, Bolehkah

5

Senyumperawat.com – Sebagai seorang Muslim yang berusaha mencari kebenaran, tentu banyak hal yang harus kita cari tahu agar pemahaman keislaman kita juga terus bertambah. Dilema umat Islam memang sangat banyak yang oleh karenanya hal itu menuntut kaum Muslimin untuk terus belajar. Dalam perkembangan dunia medis, tentu tidak lepas dari polemik. Salah satunya tentang persalinan. Bagi para akhwat (muslimah) tentu akan menjadi bagian yang sangat penting. Tentang boleh tidaknya persalinan ditangani oleh dokter pria, hal ini perlu diperjelas lebih gamblang agar umat Islam tidak salah menterjemahkan atau mencoba membuat argumentasi tersendiri tanpa meminta dalil syar’i kepada para ‘ulama yang lebih mumpuni.

Terkait boleh atau tidaknya melahirkan dengan bantuan dokter atau tim medis pria maka ada beberapa ‘ulama yang memberikan fatwa. Beberapa ulasan beliau-beliau yang insyaa Allaah dirohmati Allaah atas ilmu yang begitu bermanfaat, mari kita simak uraian di bawah ini:

#Syaikh ‘Abdullaah Bin Jibrin
Ketahuilah bahwa persalinan itu adalah urusan biasa yang sudah ada sejak Allaah menciptakan manusia. Sebagaimana kisah Maryam dalam surat Maryam: 23-27:

23. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”

24. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,

26. maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.”

27. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

Maryam melahirkan sendiri bayinya dan menggendongnya setelah itu. Berdasarkan hal ini, seorang pria tidak boleh membantu proses persalinan wanita yang bukan mahromnya karena membantu persalinan menjadikan orang harus membuka aurot wanita sedang bersalin dan membuka organ kewanitaannya, menyentuh kulitnya terutama bagian-bagian yang intim. Tak ragu lai bahwa perbuatan ini tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat.

Jika jumlah dokter perempuan ahli kandungan yang bekerja di rumah sakit itu sedikit maka hal itu tidaklah disebut madhorot karena persalinan tidak hanya bsa diurusi oleh mereka saja. Jika sistem kerja di rumah sakit itu bergilir atau dengan shift maka siapa saja yang sudah merasa hendak melahirkan sebaiknya menelepon rumah sakit terlebih dahulu. Jika ada petugas medis perempuan di rumah sakit itu yang piawai dan mampu untuk mengurusi persalinan maka silakan pergi ke sana tetapi jika tidak ada maka hendaklah wanita yang akan melahirkan pergi ke tempat persalinan yang lain atau kepada seorang perempuan yang dikenal mampu mengurusi wanita yang melahirkan walau dia tidak pernah belajar ilmu kedokteran. Dia tidak boleh pergi ke rumah bersalin yang ditangani oleh dokter dan paramedis laki-laki kemudian mereka membuka aurotnya. (Note: kecuali darurat). Tidak boleh pula melakukan persalinan di tempat dokter perempuan yang kafir karena kita tidak dapat mempercayai mereka.

Kesimpulan:
Jika ada dokter muslimah ahli kandungan dan terpercaya maka itulah yang paling utama. Jika tidak ada maka tidak boleh menyerahkan persalinan muslimah kepada kaum pria walaupun mereka adalah orang Islam kecuali pada keadaan darurat. Demikian juga halnya kepada dokter perempuan yang kafir, mereka tidak boleh diserahi urusan persalinan wanita-wanita Islam kecuali dalam keadaan darurat, wallaahu a’lam.

#Syaikh Muhammad Bin Sholih Al Utsaimin
Beliau ditanya terkait dengan seorang perempuan yang hamil tapi terpaksa dilayani persalinannya oleh seorang pria karena tidak ada dokter wanita ahli kandungan. Berikut jawaban Syaikh Ibnu Utsaimin:

” Ya boleh, jika tidak ada tenaga ahli wanita yang membantu persalinannya karena itu adalah keadaan darurat akan tetapi harus ada satu orang lagi yang menemaninya sehingga mereka berdua tidak berkholwat pada saat itu karena kholwat itu haram hukumnya.

Source:
Faudah, Dr. ‘Abdurrohman Muhammad Faudah. Fatwa-Fatwa Medis Kontemporer Seputar Kehamilan & Kecantikan, hal 84-92. Pustaka Arafah. 2011

Share

5 KOMENTAR

    • pasien juga punya hak mbak, jadi boleh menentukan dokternya sendiri yang dipercaya terutama jika memang RS itu menyediakan tim dokter yang berbeda. sebenarnya itu PR kita umat Islam yakni mempersiapkan RS Islam yang memang menjaga privasi pasien sehingga pasien pria ditangani oleh pria dan wanita ditangani oleh wanita.

    • Bner..saya juga sperti pdhal dokter spesialis sdh wanita. Tp ttp sj bny staff laki2 ddlam ruangan tu yyg mnbntu. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.