Iklan Juizy Milk Terkesan Lecehkan Guru

0
SenyumPerawat.com – Semakin hari semakin ada saja hal-hal unik yang terjadi. Pada postingan sebelumnya saya sempat mengulas tentang iklan mie yang sejatinya iklan makanan tapi justru unsur dewasa yang disajikan. Entah yang ingin disajikan paha ayam atau paha artisnya, sebut saja mie sedaap krispy. Merk sengaja tidak disamarkan agar kaum Muslimin juga turut bersikap kritis. Tulisan saya yang saya kirimkan ke redaksi Voa-islam.com tentang Mie Sedaap Krispy itu dapat diakses di sini (klik link).
Lain merk ternyata lain pula model yang diusung. Sebut saja merk permen terbaru “Juizy Milk”. Muncul lagi satu iklan yang menurut saya meresahkan. Iklan ini cenderung melecehkan seorang guru. Dalam video yang berdurasi tidak lebih dari 30 detik tersebut, sosok guru ditampilkan dengan kacamata yang melorot hingga terlalu ke bawah. Lalu gaya bicara yang dibuat-buat seperti orang mabuk dan seolah guru itu hanya membuat murid mengantuk.

Sebagaimana kita ketahui bahwasanya kita tak kan bisa sebesar ini jika kita tidak sekolah dan sekolah tak akan berdiri tanpa ada seorang guru. Lantas apakah dengan merendahkan para guru dengan menyerupakan karakter-karakter aneh dan nyleneh itu adalah sesuau yang wajar. Sejatinya kita harus memberikan rasa hormat kita kepada guru. Atas keringat merekalah kita dapat mengenyam pendidikan dari tiap jenjang yang kita lalui.
Mengingat masa-masa SD, bagaimana kita yang belum dapat membaca akhirnya dapat membaca dengan lancar. Bagaimana kita yang belum dapat menghitung akhirnya dapat menghitung hingga jutaan. Bagaimana kita yang belum bisa mengucapkan kata “Sorry” dengan benar akhirnya dengan fasih sedikit-sedikit bilang “Sorry”. Ketika kita SMP, bagaimana kita yang belum dapat menghitung rumus-rumus sistem persamaan linear dan lain sebagainya akhirnya lulus UN. Lantas ketika kita SMA, bagaimana kita yang belum mengenal gugus karbon akhirnya paham apa itu metil, propil bahkan dekil. Lantas apakah dengan melecehkan para guru itu bentuk bakti kita kepada mereka.
Mari kita simak bagaiamana Allaah dan Rosul-Nya begitu gamblang memberikan kita pedoman bagaimana cara kita bersikap terhadap para guru. Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli
al-Qur’an, ahli Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan
khalifah, orang yang punya keutamaan dan orang yang berilmu.” (al-Adab as-Syar’iah 1/408).
Rosuulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَفِ لِعَالِمِنَا»
“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati
orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama
kami.”
(HR. Al-Bazzar 2718, Ahmad 5/323, lafadz milik Al-Bazzar. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shohih Targhib 1/117)
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid
memperhatikan gurunya dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia
meyakini keahlian gurunya dibandingkan yang lain. Karena hal itu akan
menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil manfaat darinya, dan
lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya
tersebut” (Al-Majmu’ 1/84).
Rosuulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ أَتَى إِليْكُم مَعْروفاً فَكَافِئُوه فَإِنْ لَمْ تَجِدوا فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعلَمَ أن قَد كَافَئْتُمُوه
“Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah dengan
balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka
doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas
dengan balasan yang setimpal.”
(HR. Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod no. 216, lihat as-Shohihah 254)
Imam as-Sam’ani rahimahullah menceritakan bahwa majelis Imam
Ahmad bin Hanbal dihadiri lima ribu orang. Lima ratus orang menulis,
sedangkan selainnya hanya ingin melihat dan meniru adab dan akhlak Imam
Ahmad. (Siyar AlamNubala, 11/316)

Tinggalkan Komentar